Bab 17 – Masuk UGD lagi untuk perawatan pendarahan lambung

Taksi Cipagantipun menyusur jalan tol dalam kota Jakarta yang tumben sore itu agak lancer. Setelah exit di depan Slipi Jaya Plaza taksipun menyusur jalan ke arah Tomang. Setelah memutar balik di bawah jembatan tol Tomang, taksipun masuk ke halaman parker RS Jantung Harapan Kita. Setelah mengambil karcis parkir di gerbang depan, taksi yang mengangkut sayapun belok kiri dan berhenti di depan tulisan “UGD 24 jam”…

Seno mendahului turun dari taksi dan iapun mengambil sebuah kursi roda. Saya dengan mengatur sandal terlebih dahulu, duduk di kursi roda yang dibawa Seno. Dengan pelan, Seno dibantu oleh seorang Satpam mendorong saya ke dalam ruang UGD. Sambil menyerahkan catatan status saya dan foto-foto hasil MICT Scan, isteri saya berkata singkat kepada dokter jaga berbaju hijau tua yang ada di sana, “Pendarahan lambung….”…

Seorang dokterpun mengampiri kursi roda saya, meminta saya menengadah ke atas, menyorotkan lampu senter dokter yang dibawanya ke mata saya. Sambil melihat kornea mata saya, si dokterpun mengatakan sesuatu dengan keras – dengan maksud teman dokter jaga yang lain bisa mendengarnya. Itu sebuah istilah medis yang saya tidak mengerti, yang jelas 2 kata dan masing-masing kata 3 atau 4 syllable. Arti istilah tersebut barangkali adalah kondisi gawat (collapse), tetapi masih lebih baik daripada koma (comma)…

Sayapun untuk sementara tetap duduk di kursi roda yang disediakan Seno tadinya, dan seperti biasa 3 mahasiswa-mahasiswi kedokteran segera mengelilingi saya dan memencet-mencetkan stetoskopnya di dada dan perut saya secara bergantian, wajah merekapun kelihatan tegang.

Atas perintah seorang dokter jaga, sayapun dinaikkan ke tempat tidur pasien di ruang UGD ini yang sama-sama bermerk Paramount tapi bentuk dan warnanya lain dengan di ruang Intermediate IWB. Seorang perawat membuat satu lubang infuse di tangan kiri saya, dan sayapun segera diberikan infus berupa cairan glukosa. Darah sayapun diambil untuk diadakan test darah. Sabtu sore itu waktu berlalu dengan lambat, Senopun minta izin pulang karena motornya masih di rumah saya. Yang menunggu di luar kamar tinggal isteri saya, tetapi tak lama kemudian Pram – calon menantu saya – ikut menemani isteri saya.

Sambil menunggu hasil test darah selesai, tekanan darah saya diukur dengan tensimeter manual (analog) oleh seorang dokter. Sambil bergumam “…70/30…” sang dokterpun melanjutkan, “…Collaps…”. Saya tidak terkejut sang dokter menyebut kata yang artinya tidak terlalu bagus itu. Sebagai orang Jawa, sayapun segera bersyukur dan menggumam di dalam hati, “Untung masih Collaps, dan belum Comma…”…

Kira-kira sejam kemudian, hasil lab darah sayapun tiba. Seorang dokter jaga membaca hasil lab darah saya itu dan menggumam, “ Hb = 5.6…”. Walaupun kata-kata dokter jaga tersebut sangat pelan, saya masih bisa menangkapnya dan di dalam hati saya merasa cukup prihatin dengan kondisi Hb saya yang sangat rendah itu, yaitu 5.6. Padahal di waktu normal Hb saya bisa di atas 12.

Tak lama kemudian sayapun dipindahkan ke ruang yang agak di dalam di ruang UGD ini. Baju sayapun diminta dicopot dan sayapun diminta mengenakan baju pasien yang berwarna biru muda itu. Isteri sayapun dipanggil untuk membeli sejenis cairan infus yang akan ditransfusikan ke tubuh saya. Dokter jagapun meminta izin kepada saya untuk menaruh selang infus di paha kanan saya. Hati saya sedikit bergetar, karena mengingat saluran infus di paha kiri saya setelah operasi dulu.

“Ini dimasukkan berbagai cairan ke tubuh Bapak karena berkejaran pak dengan menurunnya tekanan darah Bapak dan menurunnya Hb Bapak”, kata dokter jaga tersebut.

Terbukti memang, setelah saya diberi infus berupa “makanan” (glukosa) maka tekanan darah saya menjadi naik, kalau tidak salah menjadi 100/60 yang artinya tindakan dokter jaga di UGD mengarah ke hal yang benar. Tidak lama kemudian di tubuh sayapun dimasukkan 5 saluran infus, 3 saluran di paha kanan saya;  2 saluran infus lainnya ada di tangan kiri saya. Cairan yang dimasukkan ke tubuh sayapun berbagai macam : darah beku (dari kantong darah), makanan (glukosa), cairan tubuh (mungkin Albumin), antibiotik, dan obat cair.

Untuk sesaat….saya merasa sangat lega telah berada di ruang UGD ini…karena saya tahu saya ada di tempat yang benar, dan dirawat oleh dokter yang benar….sayapun tersenyum sambil berusaha untuk tidur….(bersambung)

1 Comment (+add yours?)

  1. Alris
    May 15, 2011 @ 21:58:17

    Dalam kondisi gawat masih bisa bersyukur, ya, Pak Tri. Salut.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: