Bab 19 – Aku mendengar suara di IWM

Walaupun sama-sama dirawat di ruang Intermediate, ruang Intermediate tempat saya dirawat sebelum operasi, setelah operasi, dan perawatan pendarahan lambung ini kelihatannya di ruang yang berbeda, dengan teman pasien se ruangan yang berbeda pula..

Kalau diurut yang paling enak, kelihatannya ruang Intermediate sebelum saya dioperasi dulu adalah yang paling enak. Walaupun situasi kebersihan kamar sama, tetapi arrangement setiap kamar rupanya berbeda-beda. Kamar mandi untuk IWM terletak agak jauh dari pintu, sedangkan kamar mandi untuk IWB terletak di dekat pintu. Enaknya di ruang Intermediate saya yang pertama karena teman pasien sekamarnya kebanyakan adalah pasien yang akan menjalani operasi sten jantung ataupun balonisasi, dan pasien-pasien yang sudah selesai dipasangai sten di jantungnya dan sedang diobservasi sebelum diperbolehkan pulang, jadi yang terjadi sehari-hari lebih banyak yang ketawa-ketawa sambil duduk…

Kalau ruang Intermediate tempat saya habis operasi adalah paling seram, dari semua pasien semuanya habis operasi yang banyak keluar darah dan disalurkan ke sejenis alat penjernih darah yang bentuknya seperti accu mobil tapi berbentuk pipih. Selain itu, hampir semua pasien masih diberi perban di bekas lukanya. Rintihan-rintihan pasien kebanyakan adalah rintihan kesakitan, walaupun beberapa pasien ternyata merintih karena manja dan “biar diperhatikan” oleh pembesuknya…

Posisi ruang Intermediate IWM tempat saya dirawat karena pendarahan lambung ini berada di tengah-tengahnya. Situasinya tidak begitu seram, saya menempati tempat tidur dekat jendela yang disebut tempat tidur No. 6, menyenangkan karena bisa memandang pohon-pohon dengan daunnya yang hijau melambai-lambai di luar. Pasiennyapun kebanyakan pasien sepuh, yang merupakan hal positif karena saya jadi merasa “muda”…hahaha

Tapi ada pepatah bahwa “kondisi setiap pasien di rumah sakit, walaupun di ruangan yang sama, pasti berbeda”. Pepatah ini kalau diuji ke kenyataan benar adanya, karena ada pasien muda ataupun tua, ada pasien laki ataupun perempuan, ada pasien penderita darah tinggi ada yang tidak, ada pasien yang terkena diabetes ada yang tidak, demikian seterusnya yang tentunya parameternya semakin panjang…

Setelah saya perhatikan, walaupun tidak ada satupun di ruang Intermediate IWM ini yang sehabis operasi jantung kecuali saya, hamper semua pasien buruk keadaannya karena rata-rata pasien berusia sepuh. Ada nenek di sebelah saya yang terus terbatuk-batuk dan diam terus di tempat tidurnya, yang kata salah seorang pembesuknya cucunya sudah 30 orang. Ada nenek jauh dari tempat tidur saya yang sudah berumur lebih dari 90 tahun yang putra-putrinya berprofesi dokter tapi tinggal di berbagai Negara di dunia ini, dan si nenek hanya dirawat oleh seorang “nanny” (kebalikan dari “baby sitter”). Demikian pula banyak kakek-kakek dengan latar belakang ceritanya masing-masing.

Rata-rata pasien di ruang IWM ini tenang-tenang saja keadaan atau perilakunya, tetapi ada seorang pasien yang cukup serius keadaannya dan pasien ini satu-satunya yang tidak bisa diajak berkomunikasi, kecuali barangkali…oleh putranya yang dengan setia menunggunya setiap jam besuk. Pagi, siang, sore dan malam pasien ini selalu berbicara sendiri, agak keras, dan seolah belajar berbicara…tetapi sebenarnya ada keadaan bawah sadar atau pengalamannya yang dilontarkan lewat kata-kata…

Suara hari terdengar suara :

“Di rumah Kapolri…”

“Di rumah Kapolri…”

Setelah berulang-ulang selama 15 menit, suaranya berubah :

“Airnya pasang….”

“Airnya pasang….”

“Airnya pasang…”

Demikian diulangi selama 15 menit, dan sesuatu kesimpulan mengejutkanpun terdengar :

“Di rumah Kapolri, airnya tidak boleh lebih tinggi dari rumah”….

Dan rupanya si pasien itu mantan pelatih di Kepolisian, terdengar oleh saya :

“Hayooo…satu-satu…”

“Hayooo…satu-satu…”

“Hayooo…satu-satu…”

Di lain waktu terdengar lagi :

“Lukanya cepat dibalut….”

“Lukanya cepat dibalut….”

“Lukanya cepat dibalut….”

Setelah mendengar suara-suara pasien ini perasaan sayapun campur aduk : senang karena saya lebih muda, senang karena kondisi kesehatan saya lebih baik, terhibur karena mendengar cerita pengalaman walaupun disampaikan di bawah sadar, dan sedih karena selama pasien dirawat tak sekalipun saya melihat isterinya atau anak putrinya menengok si pasien….

Saya jadi teringat di ruang IWB setelah saya menjalani operasi jantung, bahwa ada seorang pasien sepuh yang juga habis dioperasi jantung, namun kondisi pasien tersebut tidak juga membaik. Dari dialog yang saya dengar dari kejauhan, pasien yang sepintas kelihatan sehat ini ternyata Hb nya sekitar 7.5 terus dan tidak bisa naik lagi. Si pasien berulang kali memohon kepada dokter agar ia diperbolehkan pulang, tapi jawab dokter kepala ruanganpun cukup tegas, “Bapak boleh pulang ya, kalau Hb Bapak sudah meningkat menjadi 12 atau lebih…”. Dalam hati saya mengukur betapa sulitnya hal itu dicapai…

Pada suatu malam sayapun mendengar dialog ini :

“Saya mau pulang…”, kata si pasien..

“Mengapa mau pulang Pak ?”, tanya perawat

“Saya mau ketemu isteri saya..”. kata si pasien lagi

“Mengapa Bapak ingin ketemu isteri Bapak ?”, Tanya si perawat lagi

“Saya mau mengambil obat saya…”, jawab si pasien yakin

“Bapak…ini sudah malam sudah jam 12 malam, Bapak tidak boleh pulang, dan isteri Bapak tidak membawa obat yang Bapak punya, karena semua obat ada di tangan saya Pak”, demikian penjelasan perawat itu…

Mendengar dialog tengah malam itu, hati saya merasa trenyuh karena sedemikian besar cinta si bapak pasien kepada isterinya yang sampai tengah malampun isterinya masih dicari…

Padahal, dalam kenyataannya isterinya sudah sangat berputus asa dan bosan merawat si bapak karena kondisinya tidak kunjung membaik, dan karena tinggal di luar kota barangkali keluarga juga mengalami kesulitan keuangan karena harus tinggal di sebuah kota mahal seperti Jakarta yang biaya hidupnya sangat tinggi….

Sayapun mengucap syukur kepada Tuhan karena kondisi saya jauh lebih baik daripada kondisi si bapak pasien itu…namun tidak urung…airmata sayapun mengalir….(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: