Bab 20 – Lulus dari IWM, masuk ke ruang perawatan

Saya lupa menceritakan, kalau selama di ruang perawatan pendarahan lambung saya yang disebut ruang Intermediate IWM, saya diharuskan melakukan “bed rest” artinya semua kegiatan harus dilakukan di atas tempat tidur. Yang saya belum ceritakan adalah, saya menggunakan pampers kakek-kakek dengan maksud agar BAB saya bisa tertampung di pampers dan saya tidak perlu turun dari tempat tidur. Maksud lainnya, agar suster senantiasa dapat mencek “warna BAB” yang keluar apakah kehitaman ataukah tidak. Kenapa harus dicek ? Karena warna BAB yang hitam atau kehitaman itu tandanya terjadi pendarahan lambung atau usus.

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, di hidung saya dimasukkan selang plastic yang memanjang masuk ke kerongkongan saya dan berakhir di lambung saya. Pemasangan selang ini dimaksudkan agar suster – atas perintah dokter ruangan – bisa memantau apakah pendarahan di lambung saya sudah berhenti. Caranya adalah, ujung selang yang di luar hidung dihubungkan dengan sejenis gelas ukur tapi berukuran lebih ramping, lalu dituangkan air aqua di gelas ukur tadi dan gelas ukurpun diangkat lebih tinggi dari hidung saya, akibatnya aqua dari gelas ukur akan mengalir turun melewati hidung saya, turun ke tenggorokan saya, dan mencapai lambung saya. Setelah suster melakukan ini sekitar 2 kali atau menuangkan 2 gelas air, maka suster akan merendahkan ujung selang yang keluar dari hidung saya sehingga posisinya sekarang lebih rendah dari lambung saya. Dengan prinsip yang sama, air akan keluar dari lambung saya ke gelas yang telah disediakan oleh suster. Bila gelas itu kotor atau ada darahnya, maka lambung saya masih berdarah. Sebaliknya bila gelas itu bersih, berarti lambung saya sudah berhenti pendarahannya….

Yang lucu pada suatu pagi hari ketika saya sedang tidur nyenyak akibat habis dilap sama suster pada jam 04.00 pagi tadi yang membuat tubuhku jadi enak karena badan segar dan baju setrikaan baru, tiba-tiba suster itu tanpa minta izin atau berbicara kepada saya memasukkan air aqua ke gelas ukur yang terhubung dengan hidung saya. Sehingga yang saya rasakan adalah perasaan diberi minum aqua yang segar. Antara bermimpi dan tidak, ternyata saya lihat dari bukaan mata saya bahwa suster sedang memberikan aqua ke lambung saya…

Rupanya selain “tes lambung” ini ada tes lainnya untuk membaca apakah perdarahan masih menimpa saya. Melalui pampers yang saya pakai, bila saya mau BAB atau selesai BAB saya selalu memanggil suster…

“Suster….”, kata saya memanggil suster

“Ada apa Pak ?”, begitu biasanya kata suster

“Mau BAB suster…”, jawab saya

Lalu susterpun menarik korden agar tempat tidur sayapun tertutup oleh korden sepenuhnya…

Nah, di dalam ruang tertutup sementara ini saya bisa melakukan “hobby” yaitu BAB. Setelah yakin BAB saya selesai, sayapun berteriak lagi

“Suster….”, kata saya memanggil suster

“Ada apa Pak ?”, kata suster pura-pura tidak tahu

“Anu suster…BAB sudah selesai”, kata saya menjawab

Susterpun menghampiri tempat tidur saya, membuka pampers saya, dan melihat “warna” BAB saya.

“Wah…masih hitam Pak..”, kata suster menyimpulkan

Lain kali perawat yang saya panggil melakukan “ritual” yang sama dan menyimpulkan

“Pak…BAB nya masih hitam nih, lihat nih Pak…masih kayak Ter”, demikian kata si perawat.

Sayapun melirik BAB saya dan memang bentuknya benar-benar persis dengan Ter yang biasanya dipakai untuk mencat kayu agar tidak dimakan rayap itu. Warna BAB yang sehitam Ter mempunyai arti serius, yaitu pendarahan hebat masih terjadi di lambung saya. Melihat hal itu, dokter (entah dokter saya dr. Aryo atau dokter ruangan) memberikan tambahan obat Laxtulax agar BABnya lancer, dan obat Inpepsa agar lambung bisa terlindungi oleh lapisan tipis sehingga tidak mudah tergerus oleh apapun sehingga tidak terjadi pendarahan…

Setiap hari dokter saya – dr. Aryo Suryo –  mengunjungi saya di ruang Intermediate IWM ini. Setelah memeriksa data rekam medis yang saya punya di meja pengawas ruangan, dokterpun memerintahkan ini dan itu baik kepada dokter ruangan maupun kepada suster yang ada.

Setelah kira-kira seminggu di ruang Intermediate IWM, Hb sayapun naik pelan dari 5.0 ke 8.0, dari 8.0 ke 10.0, dari 10.00 ke 12.00 dan seterusnya. Indikator-indikator lainnya seperti tekanan darah juga sudah membaik dan mendekati normal. Transfusi darah beku sudah lama dihentikan, dan jumlah cairan lainnya yang dimasukkan ke tubuh saya semakin lama semakin sedikit. Sehingga pada akhirnya dokter ruangan memutuskan bahwa 3 saluran infus di paha kanan saya sudah tidak diperlukan lagi karena kondisi kesehatan saya semakin membaik.

Disimpulkan kalau 2 selang infus yang masih ada kanan kiri saya dirasa cukup untuk memasukkan cairan yang diperlukan oleh tubuh saya. Akhirnya pada hari Minggu sore yang cukup cerah, sayapun diberitahu oleh suster kalau saya sudah boleh berpindah ke ruang perawatan di Gedung II. Segera barang-barangpun dikemasi dan dimasukkan ke beberapa kantor plastik, selain backpack yang selalu saya bawa. Setelah dijemput oleh seorang petugas pembawa kursi roda, saya dan rombongan saya – isteri saya dan ipar saya Cipto – berjalan pelan menuju ke ruang perawatan di Gedung II…

Sewaktu saya berpindah dari ruang IWM di Gedung I Lantai 3 untuk menuju ke ruang perawatan di Gedung II Lantai 5, beberapa pasang mata pasien di samping kiri saya dan pasien di seberang saya matanya pada mengikuti gerakan saya, seolah memberikan ucapan, “Selamat Pak…Bapak sudah lebih baik keadaannya dan boleh pindah ruangan…”. Sayapun meninggalkan ruang IWM itu dengan perasaan sedih, sedih karena selama 2 minggu saya dirawat di sana dengan melalui berbagai cobaan kesehatan dan konsentrasi ke kesehatan diri saya sendiri – bila dibandingkan dengan kesehatan para pasien lainnya di IWM yang rata-rata sudah berusia sepuh itu….(bersambung)

1 Comment (+add yours?)

  1. Zepri Wicaksono
    Dec 18, 2011 @ 05:53:24

    Hai..
    Bisa anda ceritakan etika prosedur pemasangan selang dihidung anda. dari awal hingga akhir, begitu juga dengan apa yang anda rasakan saat selang tersebut masuk hingga ke lambung anda?
    terima kasih

    Zepri,
    Prosedurnya pemasangan selang di hidung hampir mirip dengan semua prosedur di rumah sakit. Yaitu pasien diminta tarik nafas dalam-dalam, dan oleh perawat/dokter selang dimasukkan perlahan-lahan. Tidak sampai 1 menit “ujung” selang sudah sampai lambung. Sebenarnya rasanya biasa aja, cuman agak “mengganjal” di leher, terutama jadi sakit kalo untuk menelan ludah. Itu saja kok, tapi kan pemasangan selang di hidung itu hanya kasus darurat saja. Setelah lambung saya sembuh, selang itu segera dicabut dan saya bisa makan melalui mulut, tidak “disuapin” dengan susu melewati hidung lagi….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: