Bab 21 – Ikut program rehabilitasi fase I

Sebenarnya bab ikut program rehabilitasi fase I ini bisa diletakkan antara Bab 16 dan Bab 17, yaitu setelah 10 hari saya dirawat di RS Harapan Kita pasca operasi jantung saya, sayapun dipindahkan ke ruang perawatan di Gedung II Lantai 6  – lantai khusus pasien ex operasi jantung yang sebelumnya berasal dari ruang IWB. Tapi karena alasan setelah saya pulang kerumah saya kembali lagi ke UGD RS Harapan Kita, maka tulisan tentang program rehabilitas fase I ini saya letakkan di Bab 21.

Pada dasarnya, semua pasien ex operasi jantung di RS Harapan Kita sesegera mungkin harus mengembalikan segenap kebugaran dan kesehatannya persis di titik seperti semula sebelum menjalani operasi jantung. Makanya, sejak di ruang IWB setiap hari pasien sudah ditemui oleh petugas rehabilitasi di tempat tidur masing-masing. Pertama-tama yang harus dilakukan oleh seorang pasien adalah batuk, dan mengeluarkan riak (sekresi, mukus) dari dalam rongga dada, karena riak yang banyak akan menyebabkan beban terhadap paru-paru dan akibatnya bernafaskan sulit alias sesak…

Makanya, selama 2-3 hari pertama di ruang IWB saya diberitahu cara untuk melakukan “batuk secara baik dan benar”. Yaitu membatukkan secara keras dan sekaligus, agar riak dapat “meloncat” keluar dari rongga dada kita. Setelah riak keluar terserah, apakah mau ditelan masuk lambung atau diletakkan ke sebuah tissue.

Setelah diajari batuk, sayapun diajari oleh petugas rehab medik yang datang ke tempat tidur saya untuk melakukan gerakan angkat kaki dan angkat tangan setinggi-tingginya. Hasilnya sangat lumayan ! Ketika saya belum dioperasi, saya tidak bisa mengangkat tangan saya lebih tinggi dari kepala saya, soalnya kalau dipaksakan akan terjadi getaran atau tremor yang hebat di tangan saya karena jantung saya tidak bisa memompa lebih kuat lagi bila tangan diletakkan di atas kepala saya. Demikian setelah saya bisa mengangkat kaki dan mengangkat tangan sampai di atas kepala saya, sayapun diminta untuk menengok ke kiri dan menengok ke kanan. Kelihatannya hal-hal yang mudah, namun sebenarnya suatu perjuangan berat bagi pasien ex operasi jantung seperti saya ini.

Setelah saya dipindahkan ke ruang perawatan di gedung II Lantai 6 pada hari ke-10 setelah operasi, setiap hari saya selalu dijemput oleh petugas rehabilitasi medik untuk mengikuti program rehabilitasi di gedung II Lantai 2. Sesampai di ruang rehabilitasi di lantai 2, sayapun dipersilahkan duduk, minum teh manis hangat, dan diminta untuk mencek tekanan darah saya pada alat tensimeter digital yang ada di sana. Pada awalnya tekanan darah saya normal cenderung tinggi, namun di beberapa hari belakangan ketika saya sudah terkena pendarahan lambung, tekanan darah sayapun drop sekali sehingga sampai 90/45. Sayapun sebenarnya agak berkunang-kunang untuk mengikuti perintah jalan kaki 5 x 100 meter, tetapi setelah minum teh manis hangat yang disediakan, kebugaran sayapun kembali seperti semula dan sayapun bisa melahap menu rehabilitas hari itu, yaitu naik sepeda statis selama 10 menit dan dilanjutkan dengan jalan kaki 5 x 100 meter.

Semakin hari tugas semakin berat, selain naik sepeda statis selama 10 menit, lalu dilanjutkan dengan jalan kaki 10 x 100 meter. Caranya jalan kaki adalah dengan melingkari lorong di depan ruang rehabilitasi dan mengelilingi ruang rehabilitasi yang berlantai kayu itu sebanyak 5 x 100 meter, kemudian istirahat 3 menit dan minum teh manis hangat, dan dilanjutkan dengan jalan mengelilingi ruang rehabilitasi lagi sebanyak 5 x 100 meter. Bagi orang biasa, beban latihan rehabilitasi ini barangkali tergolong mudah, tetapi bagi kami pasien ex operasi bedah jantung ini tugas rehabilitasi hari ini cukup berat. Untunglah para suster dan instruktur di ruang rehabilitasi ramah-ramah dan dengan tulus mau membantu. Selain itu, ada beberapa pasien yang kemajuan rehabilitasinya cukup cepat, dibuktikan dengan kemampuannya berjalan kaki mengelilingi ruang rehabilitasi secara cepat pula…

Selama mengikuti program rehabilitasi fase I, pasien tetap memakai baju pasien yang berwarna biru muda, baik pria ataupun wanita, baik pasien anak-anak SD dan SMP sampai pasien yang sudah sepuh-sepuh (umur 60an, 70an). Dengan baju pasien berwarna biru muda yang minim kancing ini, hampir semua pasien ex operasi jantung di bagian dadanya agak terbuka mengingat baju pasien itu minim kancing baju, yang ada hanya tali-tali saja. Kecuali pasien cewek yang di dalam baju pasiennya biasanya mengenakan kaos t-shirt di dalam baju pasiennya…

Saya sendiri cukup terkesan dengan ruang rehabilitas RS Harapan Kita ini karena ruangannya yang memadai kebersihan, kelengkapan peralatannya, skill dari para instrukturnya, suster dan perawat yang ramah-ramah, dan iringan musik oldies, musik gondang Batak, musik irama melayu Padang, sampai musik Panbers, Koes Plus, D’Llyoid, musik reggae, sampai ke house music untuk menemani kita senam…

Bagi saya, ikut program rehabilitasi fase I yang hanya 5 hari ini cukup berkesan, terutama timbul optimisme saya selaku pasien ex bedah jantung bahwa kalau kita mau berusaha berolahraga dalam rangka rehabilitasi medis, kitapun akan bisa mengembalikan kondisi badan dan kondisi kesehatan kita seperti semula sebelum menjalani operasi bedah jantung. Melihat kawan-kawan yang cepat dan cekatan dalam berjalan membuat hati cukup senang, tetapi melihat kakek-kakek dan nenek-nenek yang tertatih-tatihpun membuat hati senang, karena ternyata saya belum setua itu….hahaha (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: