Bab 23 – Ikut rehabilitasi fase II

Setiap pasien ex operasi bedah jantung di RS Harapan Kita diharapkan untuk mengikuti program rehabilitasi secara lengkap – fase I, fase II, dan fase III – agar setelah selesai program rehabilitasi pasien bisa kembali sehat dan bugar seperti semula sebelum dioperasi. Rehabilitasi fase I adalah diajar senam, naik sepeda statis, dan jalan kaki sewaktu pasien masih mengenakan baju pasien yang berwarna biru muda. Rehabilitasi fase II pasien diminta untuk mengenakan seragam berupa celana training berwarna biru tua dan berstrip merah di sampingnya, sepatu olahraga, dan baju berwarna merah dan putih yang di lengan kirinya ada tulisan “Rehabilitasi Kardiovaskuler”. Tujuan fase II ini setelah saya selesai menjalaninya adalah untuk memperkuat otot-otot kaki, oleh karena itu di fase II ini diajarkan senam, naik sepeda statis, dan jalan kaki 1000 m, 1200 m, 1400 m, dan besoknya meningkat menjadi 1600 m, 1700 m, dan 1800 m. Bagi pasien yang sudah jalan sejauh 1800 m, besoknya sudah boleh latihan dengan menggunakan treadmill selama 25 menit, dengan kecepatan 3 – 4 km/jam…

Jika pada rehabilitasi fase I si pasien masih tinggal di ruang perawatan di RS Harapan Kita, maka rehabilitasi fase II pasien sudah keluar dari Rumah Sakit dan pulang ke rumah masing-masing – bagi pasien yang tinggal di Jabodetabek, atau pulang ke wisma Bidakara atau kost-kostan di rumah penduduk – bagi pasien yang berasal dari luar kota. Sebenarnya bagi pasien dalam kota dan pasien luar kota, mulai di rehabilitasi tahap II ini pengeluaran akan banyak, yaitu untuk biaya transportasi menggunakan taksi dan uang makan selama rehabilitasi bagi pasien yang tinggal di dalam kota. Transportasipun terpaksa menggunakan taksi soalnya pasien ex operasi bedah jantung tentunya belum terlalu fit untuk naik transportasi umum berupa bis kota atau busway yang ada di Jakarta. Bagi pasien dari luar kota, masa menjalani program rehabilitasi tahap II pun cukup berat, karena si pasien dan 1-2 orang keluarganya harus tinggal di Wisma Bidakara yang terletak di sebelah gedung II, atau tinggal di rumah kost-kostan di perkampungan penduduk, yang mana kedua pilihan itu tetap saja memerlukan pengeluaran ongkos yang tidak sedikit.

Saya sebagai pasien yang berasal dari “dalam kota”, pada hari kepulangan saya ke rumah dari ruang perawatan, saya mampir di kantor program rehabilitasi di lantai 2 untuk membeli 1 celana training dan 2 kaos merah-putih (saya menyebutnya “baju ban merah”), serta mampir ke toko pakaian di gedung I lantai 1 untuk membeli sepatu merah putih dengan velkro di atasnya yang ada tulisannya RJS (Rehabilitasi Jantung Sehat). Selain itu di toko pakaian ini saya juga membeli kaos merah putih yang modelnya agak lain daripada yang dijual di toko program rehabilitasi. Sebenarnya maksimal hanya 2 kaos saja yang boleh dibeli dari toko rehabilitasi karena keterbatasan stock dan kebanjiran peminat, makanya kalau mau membeli kaos merah-putih ke-3 ya harus di toko pakaian ini.

Program rehabilitasi tahap II ini berlangsung selama 12 kali pertemuan. Bagi pasien luar kota diperkenankan untuk mengikuti 5 kali pertemuan per minggunya, barangkali untuk menekan ongkos tinggal di Jakarta. Sedangkan bagi pasien dalam kota, maksimal hanya diperkenankan mengikuti 3 kali pertemuan per minggu – walaupun setelah selesai menjalani program rehabilitasi saya jadi tahu kalau hal ini masih bisa ditawar misalnya pasien dalam kota mengikuti 4-5 kali pertemuan per minggu. Setiap kali pertemuan akan berlangsung selama 1 jam, dari jam 07.45 – 08.45, 09.00 – 10.00, 10.00 – 11.00, dan 16.00 – 17.00. Bagi saya pribadi yang ongkos program rehabilitasinya ditanggung oleh Askes, jam pertemuan ini tidak menjadi masalah, mau ikut pagi, siang atau sore, toh semuanya dibayari oleh Askes. Tetapi untuk pasien non-Askes, barangkali perlu memilih-milih waktu pertemuan yang tepat, karena ongkosnyapun berbeda-beda. Pertemuan jam 07.45 – 08.45 biayanya Rp 75 ribu, Jam 09.00 – 10.00 dan 10.00 – 11.00 biayanya Rp 60 ribu, dan jam 16.00 – 17.00 biayanya Rp 30 ribu…

Pada awal-awal pertemuan program rehabilitasi “ban merah” ini saya selalu diantarkan oleh si mbak dengan naik taksi dari Cilandak ke RS Harapan Kita. Mengapa saya perlu dikawal ? Karena takut kalau bisa pingsan di tengah jalan atau tersesat di jalan karena kesehatan belum sepenuhnya pulih. Tapi setelah 6 kali pertemuan, maka si mbak tidak mengawal saya lagi, sayapun pengin pergi sendiri agar lebih mandiri. Jadi pada program rehabilitasi pertemuan 7 sampai pertemuan 12 saya selalu naik taksi sendiri pergi-pulang dari Cilandak – RS Harapan Kita – Cilandak. Ongkos taksi yang sekitar Rp 45 rb – Rp 50 rb cukup murah mengingat kalau membawa mobil sendiri di Jakarta dan harus membeli bensin dan membayar tol, maka biayanyapun hampir sebesar itu…

Pada pertemuan ke-12 di program rehabilitasi fase I – atau saya sebut “ban merah” – setiap pasien dipasangi “monitor” yang dadanya ditempeli 3 titik monitor, sehingga data rekam jantungnya bisa dilihat di layar monitor yang ada di ruang rehabilitasi, bisa disimpan di hard disk, dan kalau perlu “di-print”. Pada pertemuan ke-12 pasien hanya diminta untuk jalan kaki cepat selama 6 menit dan dilihat seberapa jauh ia bisa berjalan. Untuk kasus diri saya, kalau nggak salah saya bisa menempuh jarak 489 meter dalam waktu 6 menit. Kecepatan jalan tidak bisa saya tambah lagi, karena banyak hambatan keluarga pasien lalu lalang dan menyeberang di depan jalur track kita.

Pada pertemuan ke-13, sayapun menjalani “ujian kenaikan tingkat dari ban merah ke ban biru”. Sebelum ujian, baju-baju warna biru putih yang di lengan kirinya ada tulisan “Rehabilitasi Kardiovaskuler” tidak boleh dibeli. Maka pada hari itu saya sengaja datang ke ruang test treadmill di kompleks rehabilitasi RS Harapan Kita di lantai 2. Baju merah putih dan celana training saya harus ditukar dengan baju pasien yang berwarna kuning kunyit. Oleh suster yang menjaga treadmill yang akan digunakan untuk mengetest kita, pertama-tama kita disuruh berbaring tenang selama 5 menit, lalu dipasangi 8 titik monitor di dada. Setelah itu saya diminta bangun dan berdiri di atas treadmill yang belum jalan (masih idle) untuk dipasangi tensimeter manual di lengan sebelah kiri saya…

Lalu test treadmill yang menggunakan “Metode Rogers” itu (? nanti saya cek namanya), saya diminta untuk naik ke atas treadmill yang masih belum dihidupkan. Setelah kata-kata “Siap”, maka treadmill pun dihidupkan dengan kecepatan rendah dan elevasi “0 derajat” alias datar. Kecepatan treadmill kira-kira 3 km/jam. Beberapa saat kemudian kecepatan treadmill ditambah dan elevasipun dinaikkan menjadi sekitar 10 derajat. Sayapun mulai agak ngos-ngosan memenuhi tantangan jalan di atas treadmill yang menanjak cepat itu. Tak lama kemudian suster menaikkan kecepatan treadmill menjadi sekitar 6.00 km/jam dan menambah elevasi sehingga sebesar 20 derajat…

Pada suatu titik, susterpun berteriak, “Mau terus ?”. Sayapun menjawab, “Mau, saya mau 1 menit lagi”. Belakangan saya tahu kalau suster bertanya “Mau terus” itu artinya waktu di atas treadmill sudah melewati 6 menit – yaitu waktu batas lulus. Saya yang dengan segenap tenaga dan pikiran ingin berjalan di atas treadmill yang semakin cepat dan semakin menanjak ini akhirnya hanya tahan 1 menit lagi. Total saya bisa menjalani treadmill sebanyak 7 km – lebih besar dari batas minimum 6 km – maka ketika mengganti baju pasien berwarna kuning kunyit itu dengan baju saya yang saya simpan di locker, maka kelihatan muka sayapun disertai senyum yang mengembang :…..saya naik kelas ke Ban Biru !!!! (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: