Bab 25 – Kembali ngantor dan ngajar lagi

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah setelah menghuni ruang ICU, ruang Intermediate IWB+IWM, dan ruang perawatan di RS Jantung Harapan Kita selama 29 hari. Dengan catatan, 15 hari setelah operasi saya sebenarnya sudah diperbolehkan pulang, namun ternyata saya diam-diam mengalami pendarahan lambung (internal bleeding) yang akhirnya membuat saya pingsan di kamar mandi rumah saya. Alhasil, saya hanya semalam saja di rumah saya dan besoknya dilarikan lagi ke UGD RS Jantung Harapan Kita. Dari UGD, terus dipindahkan ke ruang Intermediate IWM selama seminggu, dan kemudian ditransfer ke ruang perawatan di Gedung II Lantai 5.

Sebenarnya sejak sebelum operasipun saya sudah mempersiapkan surat ijin yang diperlukan agar saya diperbolehkan tidak ngantor dan tidak ngajar. Saya minta ijin ke kantor selama 2,5 bulan terhitung dari tanggal 8 Februari 2011 (H-2 operasi saya) sampai 16 April 2011. Sedangkan ke pihak manajemen kampus, saya minta ijin selama 4 minggu pertama masa perkuliahan (pertemuan ke-1 hingga pertemuan ke-4). Sehingga selama “nge-kost” di RS Jantung Harapan Kita sayapun selalu teringat-ingat dan memikir-mikir kapan sebaiknya saya mulai ngantor dan ngajar ? Apakah harus stick to the original plan, yaitu masuk kantor setelah 2,5 bulan absen dan mulai mengajar pada perkuliahan pertemuan ke-5 ?

Untuk surat kantor saya membuat jadwal kapan saya harus masuk rumah sakit, kapan saya dioperasi, kapan dirawat, dan kapan ikut program rehabilitasi fase I, II dan III. Pokoknya lengkap jadwalnya yang memakan kertas sampai 2 halaman, kemudian jadwal ini saya serahkan ke sekretaris kantor saya untuk dibuatkan “cover letter” yang ditandatangani oleh Boss saya di kantor (Kapus).

Sebelumnya di kantor unit kerja saya, terjadi perdebatan kecil ketika saya mau minta ijin untuk operasi jantung. Ada yang bilang, sebaiknya mengambil cuti besar 3 bulanan – apalagi selama 31 tahun saya bekerja saya belum pernah sekalipun mengambil cuti besar yang sebenarnya hak pegawai setiap 3 tahunan itu. Ada yang mengusulkan untuk membuat atau mengisi formulir cuti karena sakit yang nantinya bisa diperpanjang lagi sesuai dengan surat cuti dari dokter. Kedua pendapat itu rasanya aneh di telinga saya, sehingga sayapun langsung pergi ke Biro SDMO ketemu mbak Nita dan menanyakan tentang hal ini. “Buat surat permohonan ijin aja Pak, lalu diberi pengantar dari atasan Bapak dan sampaikan ke sini. Banyak kok Pak pegawai kita yang minta ijin karena sakit jantung dan sejenisnya”. Nah, kata-kata mbak Nita ini yang paling pas logikanya, makanya saya siapkan surat ijin untuk operasi jantung dan diberi pengantar oleh Kapus saya…

Kalau minta ijin di kantor saya sangat formal dan prosedural, maka sebaliknya yang terjadi dengan minta ijin di kampus tempat saya ngajar. Saya cukup menggunakan sarana Facebook message untuk meminta ijin cuti mengajar kepada Sekretaris Jurusan Ibu Yen Lina. Dalam sekejap saya mendapat jawabannya, maklum semua orang sekarang kan sedang demam Facebook, sehingga bahkan dari handphone sederhana saja bisa membaca Facebook. Intinya Bu Yen mengijinkan saya untuk absen selama 4 minggu pertama semester genap 2010/2011. Untungnya jadwal operasi bedah jantung yang saya alami pada tanggal 10 Februari 2011 itu adalah di ujung semester ganjil, UAS sudah selesai dilaksanakan, dan saya tinggal memasukkan nilai akhir dari setiap mahasiswa. Setelah semuanya saya lakukan, nilai akhir saya serahkan secara elektronik ke Biro Data, dan sebelum operasi saya masih sempat datang ke Biro Data untuk menanyakan apakah semuanya ok. Setelah dijawab semua ok, sayapun diantar oleh sopir kakak saya menuju RS Jantung Harapan Kita…

Pada hari ke-10 setelah operasi, seperti telah saya ceritakan sebelumnya, sayapun ditransfer dari ruang Intermediate Ward Bedah (IWB) ke ruang perawatan di Gedung II Lantai 6. Lantai yang khusus disediakan bagi semua pasien ex bedah jantung. Karena kesadaran saya sudah semakin baik dan saya sudah bisa turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi sendiri, akhirnya backpack saya dikembalikan kepada saya oleh isteri saya. Tentu saja yang terpenting isinya dompet dan handphone saya. Sayapun segera mencek Facebook via handphone dan menulis status kira-kira seperti ini, “Hallo teman-teman semuanya, saya sudah sadar dan kesehatan saya perlahan-lahan membaik. Dalam beberapa hari lagi saya akan diperkenankan pulang dari rumah sakit…”. Tentu saja status saya itu membuat teman-teman saya ibarat memberikan setetes air bagi orang yang tersesat di gurun…dalam waktu sekejap, banyak comment “Selamat ya Pak…”, “Selamat ya Mas…”, “Selamat ya Pah…”, “Selamat ya Oom….” dan sebagainya yang menunjukkan bagaimana hubungan teman itu dengan saya…

Dengan handphone saya juga bisa mengecek apa saja yang ditulis di Wall Facebook saya oleh teman-teman, saudara, mahasiswa, dan pembaca blog saya. Kira-kira saya menerima lebih dari 50 Wall yang umumnya berisi harapan agar saya cepat sembuh dan segala penyakit saya diangkat dari tubuh saya oleh kuasa Tuhan YME. Sayapun merasa sangat sangat terharu membaca semua Wall itu, saking terharunya sampai saya termangu-mangu sendirian di ruang perawatan yang memang 1 kamar saya tempati sendiri itu. Dengan membaca Wall Facebook saya, sayapun bisa mengkonfirmasi semua cerita kakak saya, isteri saya, dan anak saya tentang segala kegaduhan yang ada pada saat saya mengalami pendarahan hebat yang sampai 3 kali setelah menjalani operasi bedah jantung “Bentall procedure” itu…

Sayapun membalas semua pesan yang ditulis di Facebook saya itu dengan menulis status, “Terima kasih teman-teman semua yang telah mendoakan kesembuhan saya melalui Wall saya…”. Sebenarnya tidak semuanya ditulis di Wall…banyak juga yang menulis via Facebook message ataupun sms di handphone saya. Namun isinya sama, kira-kira “Bapak, apa kabar ? Sudah sembuh Pak ?”. Tapi yang paling membuat saya terharu dan semangat saya untuk sembuh menjadi menggebu-gebu karena ada mahasiswa yang menulis pesan di Wall saya, “Cepat sembuh ya Pak Tri…supaya nanti Pak Tri bisa melihat saya dengan gaun wisuda…”. Wah, itu pasti dari bimbingan skripsi saya, atau dari mahasiswa bukan bimbingan saya namun “saya bimbing” secara moral melalui penulisan status di Wall Facebook-nya…

Makanya, walaupun saya setelah 15 hari dirawat saya sempat pulang ke rumah dan baru semalam di rumah besoknya pingsan di kamar mandi yang akhirnya sayapun dibawa kembali ke UGD RS Jantung Harapan Kita dan setelah itu dirawat di ruang Intermediate Ward Medik (IWM) dan setelah 1 minggu ditransfer ke ruang perawatan di Gedung II Lantai 5…pada akhirnya ujung-ujungnya sayapun dinyatakan membaik kondisinya dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sayapun memutuskan pulang ke rumah kakak di Cilandak agar ada yang mengawasi saya selama isteri dan kakak saya ngantor. Pertimbangan lain, Cilandak lebih dekat jaraknya ke kantor atau kampus sehingga kalaupun harus naik taksi, ongkosnya jauh lebih murah dibandingkan kalau saya tinggal di rumah saya sendiri..

Maka setelah saya diperbolehkan pulang pada hari Rabu malam tanggal 9 Maret 2011, maka mulai hari Senin pagi tanggal 14 Maret sayapun mulai mengikuti Program Rehabilitasi Fase II yang memakai seragam merah putih (saya lebih senang menyebutnya “ban merah”). Program rehabilitasi saya di ban merah ini berjalan dengan lancar. Sayapun bisa mengikuti senam yang diadakan selama 10 menit, dilanjutkan dengan menaiki static bike selama 10 menit, dan diakhiri dengan jalan kaki sejauh 2 x 500 meter pada hari pertama, dan ditingkatkan menjadi 2 x 600 meter di hari kedua dan seterusnya. Setelah jalan kakinya mencapai 2 x 900 meter maka pada pertemuan selanjutnya sayapun diperbolehkan untuk mencoba menggunakan treadmill yang saya sebut – alat rehabilitasi yang paling canggih karena hampir semua atlet balap motor sampai atlet Formula 1 yang cedera program rehabilitasinya menggunakan treadmill ini. Kecepatan treadmill juga dari yang pelan 3.0 km per jam, sampai dengan 4.0 km per jam, dari 20 menit sampai 30 menit per harinya…

Setelah rutin menjalani program rehabilitasi “ban merah” Fase II, sayapun merasa diri saya semakin membaik. Terutama kaki saya sudah bisa melangkah dengan lebih pasti dan ajeg – memang di situlah inti dari “ban merah” yaitu memperkuat kaki. Walaupun di awal-awal program rehabilitasi saya selalu dikawal oleh mbak yang tinggal di rumah kakak saya, just in case saya ada apa-apa di jalan, misalnya jatuh pingsan. Tapi ternyata tidak ada satu kejadian burukpun yang menimpa saya selama itu, semuanya baik-baik saja dan sesuai rencana…

Setelah seminggu menjalani program rehabilitasi “ban merah” Fase II, sayapun memberanikan diri masuk kantor, walaupun untuk pertama kalinya cukup 2 jam saja di kantor. Kali ini saya tetap disertai si mbak. Begitu juga pekerjaan di kampus juga harus dimulai lagi karena saya sudah ijin tidak mengajar selama 4 minggu atau 4 pertemuan. Nah, pada pertemuan ke-5 sayapun sudah menampakkan diri di kampus dan membimbing mahasiswa skripsi di “Skripsi Jalur Non Kelas”. Cuman bedanya kalau di kantor teman-teman kantor selalu bilang dengan nada discouraging, “Aduh Pak Tri…jangan masuk kantor dulu lah…jangan capek-capek dulu Pak…istirahat saja di rumah”. Dalam hari saya berpikir, “Wah…kapan nih saya sembuhnya kalau sikap teman-teman sangat discouraging seperti ini….” sambil memikirkan apa yang saya telah baca di internet bahwa “pasien jantung sebaiknya segera kembali beraktivitas seperti semula seperti sebelum terkena penyakit jantung”…

Sebaliknya para staf, teman dosen, dan para mahasiswa kalau ketemu saya di kampus selalu mengatakan hal-hal yang nadanya encouraging, “Wah..Pak Tri apa kabarnya ? Semoga Bapak cepat sembuh seperti sediakala ya Pak, supaya bisa mengajar lagi seperti semula…

Nah…tidak aneh kan kalau saya akhirnya lebih suka ke kampus daripada ke kantor….(bersambung)

1 Comment (+add yours?)

  1. vivi oktavia
    Jan 04, 2012 @ 09:09:44

    Pak Tri, thank you for sharing your experience.

    Mbak Vivi,
    Terima kasih juga telah berkunjung ke Blog saya….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: