Bab 28 – Penutup

Setelah menulis serangkaian posting Blog ini, anda tentu bisa menebak seperti apa perasaan saya. Perasaan saya rasanya seperti telah menunaikan tugas yang berat, yang dalam jangka lama saya terjebak ke dalam jurang “proscatination” yang menurut orang Betawi adalah “jurus ntar sok” yang artinya selalu berjanji…ntar…besok… ntar…besok ini. Memang saya sudah sering diminta, terutama oleh kakak saya Enny, untuk segera menuliskan pengalaman menjalani operasi bedah jantung ini karena kalau penulisannya ditunda-tunda akan semakin lupa akan peristiwa-peristiwa yang telah saya lalui : suka, duka, senang, seram, dan terutama perasaan berada di ujung maut itu seperti apa..

Dan ternyata  setelah operasi bedah jantung yang saya alami, sayapun tanpa terduga menderita sindroma lupa nama orang atau nama tokoh, dan lupa istilah-istilah populer yang sebelum ini amat sangat saya hapalkan. Belakangan dari komunikasi dengan sesama alumni SMA 1 Madiun, saya menemukan sindroma baru yang menimpa saya, yaitu lupa angka Romawi ! Ketahuan karena teman-teman saya alumni SMA 1 Madiun mengajukan banyak protes ke saya karena saya salah menulis angka Romawi I (satu) yang mixed up dengan angka Romawi II (dua). Anda tahu, saya serius atau tidak serius di sini kan ?  :))

Intinya, setelah penulisan serangkaian posting di Blog saya ini dari Bab 1 sampai Bab 28, perasaan saya adalah lega tak terkira. Seolah himpitan beban berat yang berada di pundak saya bisa diturunkan ke lantai. Take the monkey off my back.  Legaaa…

[EPILOG : Tri Djoko Wahjono saat ini sudah melewati 4 bulan sejak ia dioperasi jantung. Selama menjalani program rehabilitasi Fase II dan III, ia dan isterinya memilih untuk tinggal di rumah kakaknya Enny di Cilandak dengan pertimbangan lebih dekat ke kantor dan kampus. Pada minggu-minggu pertama rehabilitasi Fase II ia selalu dikawal oleh si mbak yang ikut di rumah kakaknya, namun setelah ia rasa cukup aman untuk berjalan sendiri iapun memutuskan untuk kemana-mana sendirian saja. Pada saat 3 bulan sejak ia dioperasi bedah jantung dan diganti klep aorta dan selongsong aorta-nya, detak jantungnya sudah teratur seperti orang sehat, walaupun dengan suara yang lebih keras. Setelah 2 bulan ia dioperasi jantung, iapun berani mencoba menyetir mobil kembali. Namun ia harus menunggu selama 3 bulan setelah program rehabilitasinya selesai, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk naik sepeda gunung – salah satu olahraga yang sangat disukainya. Tri Djoko Wahjono sebentar lagi akan pensiun sebagai PNS, namun ia memutuskan untuk tetap bekerja mengajar di kampus sampai fisik dan mental tidak memungkinkan lagi. Banyak calon pasien bedah jantung ataupun calon dokter spesialis jantung yang ketahuan membaca serangkaian posting tentang pengalamannya dioperasi bedah jantung..]

13 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    May 22, 2011 @ 08:19:26

    Cerita ini pantas untuk ditulis..jika nanti ada waktu, bisa diedit lagi…dan bisa menjadi sebuah buku. Saya ingat tulisan suami psycholog yang suka nulis di Kompas sebelum yang sekarang, dia menceritakan suka dukanya belajar di AS. Dan buku itu saya berikan ke si sulung saat dia mau berangkat kuliah di LN.

    Ho’oh….

    Reply

  2. fatah
    May 24, 2011 @ 11:38:48

    terimakasih banyak atas tulisannya
    saya semakin ingin untuk tes saya cepat selesai dan bisa masuk kedokteran bedah jantung
    alhamdulillah dapat kesempatan mengenyam pendidikan ini di negera ini
    dengan tulisan ini saya bisa tau bahwa seorang pasien bedah jantung hari harinya seperti apa
    atau saat dia di operasi seperti apa
    thanks.. semoga semakin membaik amiin

    Mas Fatah,
    Terima kasih doanya, semoga anda segera menjadi dr. Fatah (atau Fatah, MD kalau anda mengambilnya di Turki sana) dan nantinya lanjut menjadi dr. Fatah, SpJP….

    Semoga sukses….terima kasih telah berkunjung ke blog saya…

    Reply

  3. Alris
    May 25, 2011 @ 22:01:20

    Saya juga lega membaca tulisan Pak Tri, 🙂 Saya semakin sadar untuk menjaga kesehatan dan asupan makanan & minuman. Juga semakin care dengan tubuh, misal kalo mata udah minta jatah ya harus tidur. Sehat selalu, Pak Tri.

    Terima kasih Da…

    Reply

  4. Muchdie
    May 26, 2011 @ 12:19:42

    Tks atas tulisan yg sangat bermanfaat. Luar biasa, masih belum pulih benar, tetap dapat menyajikan tulisan yg bukan saja enak, tetapi sangat runtut.

    Soal pensiun sbg PNS, sebenarnya masih bisa dilanjut sampe umur 65 th dgn mutasi ke Kopertis Wilayah III, dpk ke Ubinus. Memang butuh proses agak lama. Saya habiskan setahun lbh, walaupun formalnya sekitar 10 bln.

    Prof. Muchdie,
    Trims compliment-nya…:)

    Iya saya denger prosesnya juga begitu, saya pernah dengar dari salah satu kawan dosen di univ saya kalau setelah dari Kementan ia pindah jalur jd pegawai Kemendiknas. Menurut dia, hal itu (transfer job) penting karena anaknya masih kecil-kecil. Lha saya anak saya sudah besar-besar dan sudah “mentas” (get a job) semua….lha terus buat apa transfer-transfer begitu ? Tapi anyway, sarannya sangat berharga. Dan saya mungkin masih waktu beberapa saat untuk memikirkannya dan kalau perlu mengikuti saran Prof…

    Reply

  5. Muchdie
    May 27, 2011 @ 16:19:28

    Hari Selasa kmrn saya ketemu Dr. Iman H Kartowisastro, Wakil Rektor I Ubinus di Dikti. Ternyata beliau alumnus BPPT juga..

    Iya Prof…Pak Iman sudah sejak 1999 “pensiun dini” dari BPPT….

    Reply

  6. yuana purnaminingsih
    May 29, 2011 @ 14:53:51

    Wah, saya baru aja ‘ngeh’ dengan status di FB Bapak yang selalu bilang “selesai bab …” kirain Pak Tri lagi nulis buku … saya sempat heran cepet banget nyampe bab 26 … hebat, bikin buku bisa secepat itu gitu …” … saya sudah baca share pengalamannya, turut bersyukur Bapak bisa melewati masa-masa yang seram begitu dan akhirnya kembali sehat …

    Salam dari Jogja,
    Yuana

    Mbak Yuana,
    Wah…senang akhirnya mbak Yuana bisa “ngeh”…hehehe

    Masalah nulis buku, kalau menurut Dee (Dewi RSD) bisa dilakukan dalam waktu cepat…Sebagai contoh novel SuperNova dsb itu selesai ditulis dalam waktu 14 hari saja mbak…dengan catatan penulisnya nyewa rumah/kamar sendiri dan tidak tercampuri dari rutinitas kantor lainnya (jadi bagi pegawai harus cuti)…

    Saya pernah memberikan contoh teman2 muda sekantor mbak, kita pernah balapan 18 orang seberapa cepat kita bisa menulis 1 artikel untuk jurnal ilmiah di kantor (tidak terlalu tinggi ekspektasi mutunya), teman-teman ada yang selesai dalam 1 hari, 1 minggu, bahkan 2 minggu. Sedangkan saya bisa selesai dalam 15 menit mbak…believe it or not (and yet, saya tidak jadi Peneliti atau Perekayasa yang merupakan jabatan fungsional…padahal saya suka menulis dan bisa menulis dengan cepat…)…

    Reply

  7. Alris
    May 30, 2011 @ 08:11:24

    Bisa menulis dengan cepat? Bakat yang harus disalurkan dengan frekwensi buah tuliasan yang lebih banyak lagi, Pak Tri. Mana tau nanti jadi penulis profesional menghasilkan buku bermutu dan kalau diterbitkan lalu dijual menjadi best seller.

    Uda Alris,
    Walah….itu kalau di Amrik sono bisa seperti itu….di sini mungkin hanya segelintir orang yang suka beli buku Da….

    Reply

  8. Sastra Bangun
    May 16, 2012 @ 15:42:33

    Wah…wah…wah….pak Tri Djoko tulisan nya hebat… mengingatkan saya pada apa yang saya alami sewaktu saya Operasi by pass kira2 2 bulan yang lalu. Mari kita jaga jantung kita, sehingga kita terhindar dari mati mendadak. Tks pak Tri…

    Bang Sastra,
    Wah…terima kasih sekali pujiannya Bang…
    Sama-sama Bang, mudah-mudahan Abang sehat selalu…

    Reply

  9. edy syahputra
    Dec 19, 2012 @ 15:05:38

    apa yg bpk alami gak jauh beda dgn sy ..! kt hnya beda 10 hr aja waktu ops nya tp ops sy smuanya lncar …! 1 mnggu pasca ops sy dah bs kluar dr Rs..n kost dskitar Rs …Rmh hijau namanya …alhmd..ya pak smg kt msh dberi umur yg panjang untuk lebih prbanyak ibadah..!

    Mas Edy,
    Syukurlah mas….iya saya masih ingat rumah hijau itu kayak apa…saya dulu pengin kost di situ juga….walau akhirnya memutuskan tetap tinggal di rumah kakak saya di Cilandak…

    Reply

  10. Sastra Bangun
    Dec 21, 2012 @ 13:30:05

    terima kasih atas tulisan nya pak. Saya opr by pass pada Maret 2012. Sekarang sudah mencapai 9 bulan. semua berjalan normal dan saya tidak ada keluhan lagi.

    Pak Sastra,
    Syukurlah Pak….semoga tetap sehat seterusnya….

    Reply

    • intan
      Aug 31, 2013 @ 17:50:38

      Assalamualaikum

      Pak Tri, saya berusia 31 tahun dan akan menjalani operasi bedah jantung untuk menutup kebocoran jantung saya yg di sebut AVSD, sebenarnya, kebocoran jantung saya bukan hanya AVSD, tetapi ASD juga, namun untuk sementara yang akan di tutup terlebih dahulu adalah AVSDnya, sungguh membaca catatan Bapak ini amat membantu saya, cerita Bapak yang mendetail membuat saya sangat mengerti persiapan apa saja yg saya butuhkan saat operasi nanti, walaupun saya dan Bapa jelas memiliki perbedaan dalam hal apa operasi ini di rencanakan, tetapi semua detail yg saya baca, membuat sayaa cukup mengerti dan pada akhirnya menyadari, mental yg harus saya persiapkan dalam menghadapi operasi bedah jantung yg rencana akan dilaksanakan cepatnya minggu depan, lambatnya minggu ke 2 di bulan september thn 2013, terima kasih banyak Pak Tri 🙂

      Mbak Intan,
      Tidak perlu takut menjalani operasi jantung, kesuksesannya 98% kok. Kalau mbak tidak ada darah tinggi atau diabetes, itu pasti sangat membantu kecepatan kesembuhannya. Pas dioperasi toh tidak berasa sakit, dan kalaupun sakit ya hari pertama dan kedua waktu anda sadar, ada sedikit nyeri. Setelah itu, nyeri tidak ada dan mbak Intan sabar dan pasrah aja menjalani penyembuhan dan rehabilitasi nanti.
      Toh operasi ini untuk kehidupan mbak Intan yang jauh lebih baik ke depan…
      Selamat operasi mbak, doa saya semoga mbak lekas sembuh….

      Reply

  11. Syam
    Nov 17, 2014 @ 12:01:10

    Dari awal saya baca tulisan bapak semenjak saya divonis harus operasi klep jantung aorta karena ada infeksi, insya ALLAH tanggal 19 nov lusa saya operasi pak, jujur saya takut sampai gak bisa tidur dan maag saya sampai kambuh gara2 stress. Tulisan bapak dan komen temen2 di sini menguatkan saya. Semoga operasi saya sukses besok lusa, amin ya ALLAH

    Reply

  12. Santi
    Oct 16, 2016 @ 11:16:08

    Saya baru saja baca mengenai pengalaman Bpk Tri bacaan bisa sebagai pembelajaran dan menguatkan suami saya yang akan menjalani operasi ganti katup mitral. 🙂

    Mbak Santi,
    iya mbak mudah-mudahan suami mbak Santi nanti operasi penggantian katup mitralnya sukses
    dan tanpa kendala. Amiiin….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: