Bab Epilog 1 – Bertemu dokter yang dulu pertama mendiagnosa saya

Dalam bab sebelumnya saya sudah menulis bahwa sebenarnya hasil operasi bedah jantung yang saya alami untuk mengganti selongsong aorta dan klep aorta (disebut “Bentall procedure”) yang saya alami cukup sukses. Tetapi seperti yang pernah ditulis oleh orang Amerika yang pernah mengalami double valve open heart surgery, “The problem is not the open heart surgery itself, but after that…”. Jadi biasanya operasi bedah jantung itu tidak menjadi masalah – bermasalah hanya jika “modal” pasien tidak fit untuk dioperasi jantung seperti : sepuh, punya darah tinggi, punya gula, dan ginjalnya sudah gagal – yang menjadi masalah justru setelah operasi jantung itu. Sayapun bisa merasakan sendiri hal ini, dan diam-diam sayapun setuju dengan apa yang dikatakan oleh kawan Amerika ini….

Setelah operasi jantung ada 2 masalah besar yang masih menghantui saya, yaitu keenceran darah dan irama detak jantung yang tidak beraturan. Masalah keenceran darah ini bahkan menyebabkan saya pingsan di kamar mandi pada hari H+16 setelah saya dioperasi jantung. Padahal saya baru saja keluar dari RS Jantung Harapan Kita dan sudah pulang ke rumah saya sendiri, namun karena darah saya yang terlalu encer (mungkin INR sekitar 5.0 !!!!) menyebabkan pendarahan di lambung saya, atau usus saya, atau di lubang penglepasan saya. Akibatnya, sayapun terpaksa masuk lagi ke UGD RS Jantung Harapan Kita dan selama 2 minggu saya dirawat dengan perasaan yang lebih sakit daripada selama operasi jantung. Namun dengan kesabaran saya dan atas petunjuk dokter yang merawat saya – dr. Aryo Suryo – saya rajin menjalani tes darah, bahkan sampai 2 x seminggu untuk menghitung berapa nilai INR saya yang idealnya harus di antara 2.00 – 2.50 itu…

Dengan 2 kali cek darah di lab RS Jantung Harapan kita dalam seminggu, setelah 2 bulan “masa percobaan” sayapun bisa menemukan rumus berapa dosis obat pengencer darah Simarc yang saya harus minum supaya tingkat keenceran darah saya ideal yaitu INR antara 2.00 – 2.50. Setelah saya “menemukan” rumus obat pengencer darah yang harus saya minum, sayapun lebih tenang menjalani hidup dan kehidupan pasca operasi bedah jantung ini. Karena setiap hari INR saya walaupun naik turun namun tetap dalam range 2.00 – 2.50. Padahal sebelumnya, dengan membaca artikel-artikel di Internet dari Wikipedia hingga website-website kesehatan, saya cukup khawatir dengan “keganasan” obat Simarc ini. Di lingkungan pasien atau ex pasien RS Jantung Harapan Kita pil Simarc sebagai pengencer darah juga cukup menjadi “hantu”..pertama-tama dan utamanya dikarenakan karena sifat pil ini yang seharusnya disesuaikan dengan sensitivitas masing-masing pasien secara individu terhadap pil Simarc. Dengan kata lain, perlu dicari daily maintenance dose (DMD) yang tepat untuk pil Simarc ini untuk masing-masing individu…

Tapi, masalah keenceran darah adalah “masa lampau” bagi saya….karena akhirnya setelah “meneliti” selama 2 bulan saya telah menemukan DMD yang tepat bagi saya untuk pil pengencer darah yang bermerk Simarc 2 alias Warfarin ini…

Kini, yang masih “menghantui” saya masih ada yaitu masalah ketidakteraturan detak jantung (irregular heart beat) yang saya masih alami. Sewaktu kontrol dengan dokter saya, saya selintas pernah membicarakan hal ini dengan dokter yang merawat jantung saya. Namun karena jumlah pasien yang masih menunggu setelah saya antriannya cukup panjang, saya tidak sempat mendiskusikan hal ini secara mendetail dengan beliau. Namun dokter saya itu mengatakan bahwa “saya masih ada masalah” di jantung saya…

Masalahnya apa, tidak pernah dikatakan oleh dokter jantung yang merawat saya. Dan sayapun tidak punya kesempatan untuk bertanya lebih lanjut…

Pada suatu hari saya kontrol bulanan ke RS Jantung Harapan Kita dan setelah antri beberapa lama sayapun masuk ke ruang praktek dokter jantung saya itu. Setelah dada saya dicek dengan stetoskop dan denyut nadi saya di pergelangan tangan “didengarkan” oleh dokter saya itu, sayapun melakukan sedikit tanya-jawab dengan dokter saya itu – hal normal yang biasanya disebut “anamnesis” itu. Lalu entah bagaimana, sayapun mengatakan kepada dokter saya itu, “Dok..sudah 2 minggu ini detak jantung saya semakin beraturan”. Dokter yang tadi sempat menghitung denyut nadi di pergelangan tangan sayapun mengatakan, “Iya kok Pak, saya lihat juga begitu..”. Ahirnya keputusannya, dokter mengurangi dosis 2 jenis obat “maintenance” jantung yang harus saya minum setiap harinya. Untuk 2 jenis obat itu dosisnya dikurangi sehingga menjadi setengahnya…

Tiga hari berlalu, dan tidak ada satupun yang mencurigakan terjadi pada jantung saya. Pada hari keempat setelah saya kontrol bulanan, tiba-tiba jantung saya berdegup “aneh” dan itu saya rasakan pada saat tidur jam 03.00 pagi. Kalau biasanya detak jantungnya teratur : duk…duk…duk..duk..duk…  setelah 2 jenis obat (yaitu beta-blocker dan anti-aritmia) dikurangi dosisnya menjadi separonya, detak jantung sayapun jadi mengalami ketidakberaturan detak jantung atau biasa yang disebut “aritmia”. Kini detaknya menjadi : duk…duk…duk…(idle)…duk…duk…duk…(idle). Sayapun jadi tidak bisa tidur di pagi hari itu karena memikirkan detak jantung saya yang jadi tidak beraturan ini. Beberapa saat kemudian detak jantung saya ketidakberaturannya memburuk : duk…duk…(idle)…duk…duk…(idle). Wah !!! Yang tadinya denyutnya ada 3 sebelum idle, sekarang malah turun jadi 2 denyut sebelum 1 idle. Sayapun segera berpikiran buruk, “Wah…jangan-jangan nantinya detak jantung saya 1 berdetak dan 1 idle saja…dan lama-kelamaan jantung saya bisa berhenti (cardiac arrest)…”.

Pikiran buruk itu begitu menghantui saya, menyebabkan saya tidak bisa tidur nyenyak. Pada saat liburan long weekend bulan Mei, sayapun nginep di rumah kakak saya di Cilandak. Kakak saya yang satunya datang juga berlibur ke Jakarta dari Semarang. Sebenarnya harus saya senang karena kami 3 bersaudara bisa ngumpul dan ngobrol bersama. Tetapi yang terjadi adalah, saya ngendon terus di kamar, melek gak enak tidur tak nyenyak karena memikirkan detak jantung saya yang tidak beraturan. Akhirnya kakak saya yang dari Semarang mengirim sms ke teman dokternya, “Bagaimana ya…adik saya dosis obat jantungnya dikurangi terus menderita ketidakberaturan detak jantung ?”. Lama tidak ada jawaban, teman kakak saya itu baru menjawab jam 11 malam. Esok paginya sms jawaban dari dokter teman kakak saya itu ditunjukkan ke saya, “Sebaiknya adiknya langsung dibawa ke UGD saja”…

Akhirnya jam 10.00 pagi di hari libur Waisak itu saya tidak jadi menikmati liburan, tetapi justru naik taksi menuju UGD RS Jantung Harapan Kita. Sebenarnya kalau mendengar kata “UGD” apa yang terpikir adalah “suasana seram, berisik, dan banyak orang luka berdarah-darah”. Tetapi UGD RS Jantung Harapan Kita siang itu suasananya tenang, tenteram dan kalem. Sebenarnya tempat favorit saya, karena saya bisa tidur nyenyak dan dijagain oleh banyak perawat dan banyak dokter. Tidak ada tempat yang lain yang lebih enak daripada UGD kan ? Hahahaha…

Sesuai standard and procedure di UGD RS Jantung Harapan Kita, sayapun didekati seorang dokter yang mencatat semua data dan keluhan saya. Lalu perawat mengukur tekanan darah saya yang katanya, “Normal Pak, 135/70”. Sayapun sedikit tenang. Sesaat kemudian atas perintah dokter jaga di UGD si perawat yang sama merekam detak jantung saya dengan ECG (Electro Cardio Gram). Setelah hasilnya keluar…si perawatpun mendesis, “Iya Pak…ini ada rekaman 3 detak jantung diikuti dengan 1 idle”. Sayapun menunjukkan muka yang tidak berubah, “Oh ya ?”..Perawat tersebut akhirnya mengambil sampel darah dari lengan kiri saya untuk diperiksa segalanya di lab, termasuk untuk mengetahui apakah elektrolit yang ada di darah saya masih normal dan lengkap…

Kira-kira 10 menit kemudian sayapun “naik pangkat” dari duduk di kursi roda ke tidur di tempat tidur UGD. Sayapun meminta selimut berwarna biru terang karena memang dari tadi saya merasa agak kedinginan – ternyata karena belum makan siang sedangkan jatah makan siang di rumah sakit saya belum dapat. Sementara saya tidur di tempat tidur UGD, beberapa pasien baru ada yang keluar UGD tapi ada juga yang masuk. Ternyata pasien di sebelah saya adalah teman lama sewaktu Rehabilitasi Fase II. Pasien itu teman dari Lampung dan katanya ia masuk UGD karena merasa “meriang” (padahal isterinya bilang ke saya, “Bapak tidak apa-apa kok Pak, hanya semangatnya saja yang tidak ada”). Sebentar kemudian petugas X-ray masuk dan memfoto dada saya, mungkin untuk mengetahui apakah jantung saya bengkak atau tidak, dan apakah paru-paru saya mengandung air yang mencurigakan ataukah tidak…

Sayapun berusaha tidur di UGD ini. Tidur sayapun nyenyak sekali, sampai si pasien ibu tua di sebelah saya pindahpun saya tidak sadar karena nyenyaknya tidur saya. Kira-kira tiga jam kemudian seorang dokter jaga di UGD datang kepada saya, dan mengatakan kepada saya bahwa detak jantung saya ada ketidakberaturan karena adanya VS. Saya tanyakan, “Apa VS itu dok ?”. Sang dokter menjawab, “Excessive systolic Pak”. Memang tekanan darah atas atau systolic saya agak berlebihan tingginya, sedangkan tekanan darah bawah atau diastolic saya cenderung normal. Dokter jaga itupun melanjutkan, “Saya telah menelpon dokter yang merawat Bapak, dan disarankan Bapak kembali ke dosis awal (DMD yang awal) supaya jantung Bapak detaknya menjadi teratur. Tetapi saya beritahu lho Pak, mungkin perlu 3-4 hari sebelum detak jantung Bapak kembali teratur”. Sayapun mengangguk mengerti dan ternyata saya disiapkan untuk pulang siang itu juga, alias saya di UGD hanya 3,5 jam saja !  Tetapi itu sudah cukup bagi saya, karena pasien di sebelah saya di UGD ada yang mengatakan kepada saya setelah “menguping” apa yang dikatakan dokter jaga tadi kepada saya, “Pak…detak jantung saya tidak beraturan sudah 20 tahun yang lalu Pak…toh saya masih hidup”. Wah…kata-kata yang menghibur dan memberi semangat kepada saya agar tetap ikhlas dan nerimo apapun yang terjadi pada jantung saya. Tekad saya dalam hati, “Mau teratur kek, mau tidak teratur kek, tidak ngaruh sama saya, kalau saya mau tidur…ya tinggal tidur saja”. Dengan tekad ini, saya dan isteripun pulang ke rumah kakak naik taksi…

Lima hari kemudian (bukan 3 hari atau 4 hari kemudian) detak jantung saya kembali normal. Tidak ada bekas “aritmia” (arrhytmia) lagi. Detaknya kini sudah teratur : duk…duk…duk…duk…duk…duk… Sayapun tidur semakin nyenyak dengan hati semakin tenang…

Tetapi itu hanya sebentar, karena saya mempunyai buku paperback yang berjudul “Principles of Internal Medicine”. Buku ini saya beli di toko buku di ujung utara Orchard Road waktu saya tugas belajar ke Singapore tahun 1993 yang lalu. Hari itu saya harus mengantar dokter kenalan saya yang juga mendapat beasiswa untuk sekolah di Singapore. Teman saya itu membeli buku edisi “full version” dengan harga mahal, saya membeli buku versi “paperback” dengan harga murah, kalau tidak salah cuman Sin $ 30.

Setelah saya membolak-balik paperback tentang “Internal Medicine” itu…saya menemukan kata kunci “arrhytmia” dan segera membaca apa saja yang ditulis di sana. Yang mengejutkan saya, ada 18 macam aritmia dengan hasil rekaman jantung yang grafik atau kurvanya berbeda !!! Ya 18 macam ! Sayapun lalu berpikir, “Lah…aritmia yang saya alami itu nomor berapa ya ?”. Sayapun segera tahu karena pattern detak jantung saya yang : 2-1 (2 detak, 1 idle) atau 3-1 atau n-1 (n maksimum 10 detak). Di situ juga disebutkan bahwa aritmia mempunyai 4 golongan besar (dari 18 macam kurva tadi) dan aritmia yang saya derita itu disebut “golongan III”. Di belakang buku itu lalu dituliskan obat anti-aritmianya, dan ternyata obat anti-aritmia yang saya diresepkan kepada sayapun ada, yaitu Amiodarone…

Esoknya di kantor saya Googling seharian tentang berbagai pandangan dan testimonial pasien tentang Amiodarone, obat anti-aritmia ini. Kebanyakan testimoni pasien tidak terlalu menggembirakan – walaupun dalam hati saya berkata hanya pasien yang menemui masalah yang menulis di website nya, sedangkan pasien yang tidak masalah dengan Amiodarone mungkin jumlahnya lebih banyak tetapi tidak menuliskannya di website. Tetapi intinya, walaupun Amiodarone sebagai obat anti-aritmia ini mempunyai “daya kesembuhan” (efficacy) yang lebih tinggi daripada obat pesaingnya, namun Amiodarone juga mempunyai kontra indikasi atau efek samping yang cukup menciutkan nyali : pandangan kabur karena deposit cairan di kornea, kulit yang menjadi berwarna abu-abu, rambut rontok, sensitif terhadap cahaya matahari, dan sebagainya…

Akhirnya sayapun memutuskan untuk bertemu dengan dokter yang dulu pertama mendiagnosa saya di Rumah Sakit dekat rumah saya. Dokter spesialis jantung ini lebih sepuh, blak-blakan, dan selalu berbicara dengan dialek Betawi yang sangat kental, kalau perlu menggunakan kata “Lu” dan “Gue”. Tetapi jauh di dalam hati saya merasakan betapa jujurnya dokter ini, yang selalu mengatakan apa yang dirasakannya kepada pasien. Di suatu sore yang cerah sepulang dari kantor, sayapun mampir ke tempat praktek dokter jantung ini…

Saya ” “Selamat sore dok…”
Dokter : “Selamat sore…anda dulu yang menderita apa ya ?”
Saya : “Saya didiagnosa menderita aneurisma (aorta dilatasi) oleh dokter dan dokter menyarankan saya segera ke UGD RS Jantung Harapan Kita saat itu juga, di bulan Nopember 2010 dok…”
Dokter : “Oh yang itu…ya..ya…ya…saya ingat”

Beberapa saat kemudian setelah suster mengukur tekanan darah saya dan tinggi badan saya, dan setelah dokter jantung ini memeriksa dada dan punggung saya dengan stetoskop, ada pembicaraan ini :
Dokter : “Wah…bagus hasil operasi jantungnya….tetapi suara klep jantung artifisialnya memang keras ya…tetapi lebih baik keras begitu suara detak jantungnya, kalau tidak ada suaranya malah bahaya karena artinya jantungnya berhenti bekerja…”
Saya : “Iya dok…hahahaha”

Lalu,
Saya : “Dok…maksud saya ke sini ketemu dokter untuk mengucapkan terima kasih karena waktu itu dokter telah tepat mendiagnosa penyakit aneurisma yang menimpa jantung saya dan menyarankan saya untuk segera ke UGD RS Jantung Harapan Kita. Untung saya masih diselamatkan dok…”
Dokter : “Yaaa…itu bukan karena saya…tetapi karena yang di atas”..kata dokter ini sambil menunjuk ke atas…

Sayapun lalu bertanya dosis obat seperti apa (DMD berapa) agar jantung saya sehat selama-lamanya :
Dokter : “Obat pengencer darah…itu yang paling perlu….cek INR sering-sering dan minum dosis obat pengencer darah yang tepat. Obat anti aritmia juga harus diminum seumur hidup selama aritmia nya ada…(saya heran, karena di internet paling lama pengguna obat anti-aritmia ini adalah 4 tahun)…Tekanan darah anda terlalu tinggi….kalau gitu naikkan saja dosis obat anti darah tingginya….lalu cek sudah normal tekanan darahnya belum, seharusnya 120/80…kalau masih terlalu tinggi…naikkan lagi dosisnya….terus nanti bisa diturunkan kalau tekanan darah sudah normal”…

Dengan hanya membayar Rp 125.000 yaitu Rp 15.000 untuk “uang pakar” dan Rp 100.000 untuk “uang konsultasi”, sayapun memasuki taksi Blue Bird yang menunggu di depan Rumah Sakit ini dengan senyuman tersungging di bibir saya karena puas telah bertemu dengan dokter yang dulu pertama mendiagnosa penyakit jantung saya dengan tepat….. Semoga senyuman ini berkembang terus (bersambung)…

17 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Jun 02, 2011 @ 15:42:44

    Ada beberapa dokter yang berani mengemukan dan memberikan penjelasan secara jujur dan blak-blak an, namun kadang ini juga sangat terkait dengan kondisi pasien. Ada pasien yang tidak kuat, walau ingin tahu kondisi yang sebenarnya.

    Iya, memang begitu…

    Reply

  2. alrisblog
    Jun 11, 2011 @ 22:20:34

    Suka saya dengan cara penyampaian dokter yang blak-blakan itu. Walau mungkin ada pasien yang kaget, khawatir atau takut, tapi beliau sudah menyampaikan informasi yang benar.
    Salut juga dengan tarif Beliau itu, Rp.15.000 untuk kepakarannya. Sungguh Beliau tidak mencari kaya dengan ilmunya. Semoga makin banyak dokter spesialis yang dermawan.

    Uda Alris,
    Tarifnya Rp 125.000 Da…bukan Rp 15.000,-. Tolong dibaca ulang lagi…hehehe…

    Tapi untuk Jakarta, tarif Rp 125.000 sudah terhitung wajar, alias gak terlalu mahal, dibandingkan dengan advis yang beliau sampaikan kepada pasien…

    Reply

  3. susilo
    Jul 06, 2011 @ 16:42:42

    coba om ke dr. Alfin 7821190

    Reply

  4. melly
    Jul 18, 2012 @ 13:35:02

    hebat ya semangat bapak,,,semoga sehat selalu 🙂
    kmrn sy jg bru di diagnosa aritmia tp ga tw jenisnya yg mana usia sy bru 28th,,,bru diketahui pas kmrn tgl 10 juli 2012 ikut seleksi penerimaan karyawan di perbankan,sblumnya sy dnytakan lolos medical checkup bsknya ttd kontrak,tp sesaat sblm ttd kontak sy dipersilahkan untuk kluar ruangan sebentar,ada pemberitahuan dr pihak klinik bahwa saya ada kelainan jantung,otomatis ttd kontrak saya ditunda smpai ada diagnosa dr dokter specialis,. smpt ga percaya apa yg baru saja di dengar,soalnya tdk ad riwayat penyakit jantung. akhirnya sy lngsng cek ekg+elektrolit untuk hsl ekg memang ada sedikit gangguan pd ritme,tes elektrolit nolmal hanya kurang ca 0.2mg dr batas normal..hsl lab g kburu d konsulkan kburu dokterny plng,untuk memastikan sya konsul ke dkter yg berbeda,di dokter yg ke 2 ini diagnosanya bikin sya *ciut ktnya emang ad kelainan,parah,bnyak distorsi,pokoknya bisa mati mendadak,trus ktnya bawaan dr lahir… tp sya yakin Allah tdk akan memberi cobaan dluar batas kemampuan hambanya,sya yakin semua penyakit pasti ada obatnya,kuncinya ttp berusaha sugesti positif dan berdoa.

    Melly,
    Tenang saja, tidak usah terlalu khawatir. Aritmia atau detak jantung yang tidak teratur itu ada penjelasannya kok. Jantung kan listrik yang menggerakkannya berasal dari cairan tubuh yang berbentuk elektrolit, nah elektrolit ini yang menggerakkan jantung, bahkan jantung memompa 1 milyar kali setiap 20 tahun umur manusia. Kalau ada gangguan detak jantung, mungkin ada gangguan pada elektrolit, tapi mungkin karena gangguan lain seperti klep tidak sempurna, atau jantung ada yang bocor. Sayapun seperti itu juga, mungkin bawaan sejak lahir, tapi selama 54 tahun umur saya tidak pernah ada masalah yang mengganggu. Saya yakin Melly-pun sebenarnya tidak terganggu kehidupan sehari-harinya…

    Kalau Melly tinggal di Jakarta, Bandung, atau tinggal di kota lain yang bisa ke Jakarta kapan saja. Saya punya dokter jantung bagus yang dulu pertama kali mendiagnosa penyakit jantung saya (saya tulis di salah satu Bab dari cerita saya). Nama dokter jantung itu dr. Anwar Fachrudin, Sp.JP, beliau berpraktek di RS Haji Pondok Gede, dari Tamini Square masuk ke arah timur sekitar 500 meter. Praktek beliau setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu, jam 17.00-19.00. Di situ ada EKG, Rontgen, Echo, sama Treadmill. Dan beliau teliti sekali melihat gejala yang sekecil apapun, diagnosa beliau dipastikan akurat. Tapi kalau perlu pemeriksaan lebih lanjut seperti Vascular atau MSCT Scan (Multi Slice CT Scan), pasti beliau merujuk ke RS Jantung Harapan Kita…

    Saya juga 10 bulan pertama sejak operasi menderita aritmia terus, tapi setelah itu jantung saya berdetak normal dan teratur. Ada pasien jantung yang bernama Pak Wayan bilang, beliau sudah 20 tahun menderita aritmia dan semuanya ok-ok saja. Jadi semangat Melly….everything is gonna be ok….

    Melly juga bisa perbaiki aritmia yang Melly derita dengan dzikir, kalau Melly beragama Islam, kalau beragama lain ya silahkan sesuaikan dengan doa masing-masing. Jadi kalau dzikir kan mengucapkan : subhanallah 33 x, alhamdulillah 33 x, dan allahu akbar 33x….nah waktu berdzikir itu sesuaikan dengan detak jantung….misalnya subhanallah (duk…duk..)…subhanallah (duk…duk…)…subhanallah (duk…duk…)… Saya sudah lakukan ini dan detak jantungku jadi teratur lho Mel….

    Reply

  5. Toni
    Jul 19, 2012 @ 06:40:58

    Berapa lama bapak pakai Simarc, dan knp obat ini “ditakuti” krn saat ini saya br saja 3 hr mengkonsumsi Simarc dng dosis 2 kali sekali minum untuk 1 x saja dlm sehari. Mohon shaingnya. Thx

    Mas Toni,
    Sebenarnya tergantung “sensitif” atau tidaknya seseorang dengan Simarc sih mas. Kalau saya waktu itu super sensitif terhadap Simarc, dalam arti minum 1 pil sehari saja sudah menaikkan INR saya sebesar 0.8. Jadi kalau INR awal saya 2.0 lalu saya minum pil Simarc 5 hari, berarti di hari ke-6 INR saya jadi = 2 + (5 x 0.8) = 2 + 4 = 6.0 ! Dan biasanya dengan INR sebesar 6.0 pasien sudah mengalami pendarahan lambung yang ditandai dengan faeces yang berwarna hitam pekat seperti kopi…

    Makanya, sebaiknya 2 atau 3 hari sekali mas Toni cek keenceran darah saja di Lab…supaya kalau INR terlalu tinggi (di atas 3.0) segera ketahuan….

    Reply

  6. didi adrianto
    Jul 30, 2012 @ 20:51:18

    pak kalau inr rendah itu penanganannya bagaimana? dan makanan buat inr yang rendah tu apa ya ? terima kasih

    Mas Didi,
    Wah…sayang tidak disebutkan Mas Didi ini masih sehat wal afiat ataukah sudah menjadi pasien jantung….dan pasien jantungpun sudah pernah ganti klep atau tidak…akan sangat mempengaruhi jawaban saya…

    INR bagi orang normal itu antara 0.9-1.3 (kental), sedangkan INR bagi pasien jantung ex operasi klep harus antara 2.0-2.5 (di internet disebutkan antara 2.0-3.0) alias harus 2 x lebih encer darahnya dibandingkan dengan orang normal, terutama bagi pasien jantung yang pernah operasi klep….

    Nah, makanan sayur-sayuran hijau macam bayam, kangkung, dsb itu “mengentalkan darah” (menyebabkan INR turun), sebaliknya makanan berupa ikan-ikanan terutama ikan yang mengandung Omega-3 (kembung, layur, sarden segar) itu bersifat “mengencerkan darah” (menyebabkan INR naik).

    Intinya, berapapun INR seseorang yang dibuktikan dari uji INR di RS Harapan Kita….maka harus ditentukan INR target yang ingin kita capai berapa….nah makanannya harus disesuaikan….

    Pil pengencer darah semacam Simarc itu bersifat mengencerkan atau membantu mengencerkan darah…

    Reply

  7. cynthia
    Oct 22, 2012 @ 17:02:08

    dear pak tri,
    thx atas share pengalamannya.
    kebetulan sekarang papa saya 66th sdg usaha untuk mengencerkan darahnya (INR dinaikkan), tp koq susah sekali utk naik ya pak?? ini udah 3 minggu, cm naik dari 1,2 jadi 1,7 (konsumsi warafin setiap hari)
    beliau rencananya mau operasi, karena askes jd ke RS Harapan Kita. namun karna kakak beliau seorang dokter di Sidney, dia “tidak rela” kalau si papa operasi di indonesia. singkat kata, singapura jadi pilihan menurut si om dekat dan bagus. tapi setelah dilakukan observasi lg sebelum operasi, dokter di RS sana “tidak berani” ambil tindakan operasi karena adanya gumpalan beku darah sebelah kiri bawah jantung yg menurutnya jk terus dilakukan operasi, bs berakibat fatal pendarahan ke otak.
    alhasil, operasi ditunda, sambil menunggu INR papa encer antara 2,1-2,9.
    pertanyaannya pak, makanan apa yg cpt menaikkan INR? atau bolehkah dosis warafin (sesuai pengalaman pak tri) ditambah?
    makasi sebelumnya pak.

    Mbak Cynthia,
    Kalau Bapaknya mbak Cynthia sudah minum Warfarin tapi INR tidak naik-naik dan selama 3 minggu hanya naik INR nya dari 1,2 ke 1,9….maka menurut logika saya, mestinya dosis Warfarin bisa ditingkatkan. Kalau sebelumnya 1 pil (Warfarin/Simarc 2mg), maka sekarang bisa ditingkatkan menjadi 1,5 pil atau malah 2 pil….

    Tapi mbok ya dikonsultasikan dengan dokter jantungnya Bapak dulu, bisa nggak dosis Warfarin ditingkatkan seperti itu, karena Warfarin itu sebenarnya pil yang “keras” lho….

    Jenis makanan yang bisa meningkatkan keenceran darah adalah ikan-ikanan, karena Omega-3 yang dikandung ikan bisa meningkatkan keenceran darah. Sebaliknya, sayuran warna hijau itu bersifat mengentalkan darah…

    Reply

  8. manyuk kristinas srw
    Apr 28, 2013 @ 21:38:39

    Saya mau tanya dokter kadang kadang saya ada arirhmia waktu datang rasa kembung sering buang angin pertama denyut beraturan 5, 10 ,berhenti satu detik berdenyut lagi, tensi normal jumlah denyutan normal sesak nafas tidak ada dibawa bekerja/beban denyutnya jadi beraturan jadi apa masalah darti jantung saya? mks

    Mbak Kristina,
    Saya bukan dokter mbak….saya pasien jantung juga seperti mbak…
    Saya sarankan, mbak perbanyak olahraga biar jantungnya detaknya lancar, soalnya kalau mbak kurang kegiatan malah jantung mbak aritmia..
    Terus yang penting lagi, pasrah dan merasa biasa aja jika terjadi aritmia, soalnya ada orang yang sudah 20 tahun aritmia juga tidak apa-apa kok mbak, yang penting tidak muntah, tidak pusing, dan tidak pingsan. Selama ketiga hal ini tidak terjadi, ya jantung mbak tidak apa-apa, everything is oke…

    Reply

  9. Erny
    Jun 20, 2013 @ 06:56:44

    Saya baru 3 hari mengkonsumsi Warfarin 2 mg. 2 tab dlm 1 harinya.Diagnosa INR saya hasilnya 0.86 rasio. Artinya darah saya kental ya pak…
    Penyebabnya apa ya pak ? Dulu waktu baru menikah, krn penyakit di rahim saya, saya dianjurkan banyak makan daun kates, apa ini bisa jd sebab ya….
    Terus, bpk pernah dengar tidak efek dari INR rendah menyebabkan Ostheo Artritis (radang sendi). Saya sudah kllng berobat karena nyeri sendi, akhirnya terdampar di dokter hematologi dan katanya karena INR saya.
    Bisa bagi pengalaman yg bpk tau….?
    Terima kasih pak Tri….

    Mbak Erny,
    Kalau mbak Erny terbilang normal (artinya bukan sakit jantung), INR orang normal adalah antara 0.96-1.30, jadi kalau INR mbak Erny itu 0.86 artinya itu rendah sekali atau darah mbak kental atau terlalu kental. Idealnya INR mbak mungkin sekitar 1.50. Ketika mbak oleh dokter sudah diminta meminum 2 tablet Simarc 2 mg, maka sebaiknya 2 minggu sekali mbak pergi ke RS Jantung Harapan Kita (kalau mbak berdomisili di Jakarta, atau di RS Jantung lainnya kalau tidak di Jakarta) untuk mengecek nilai INR mbak yang terakhir berapa.

    Menurut yang saya baca, sayuran berwarna hijau bersifat “mengentalkan darah”, sebaliknya ikan atau produk ikan yang mengandung “Omega 3” akan mengencerkan darah. Jadi supaya darah mbak encer atau cukup encer, sebaiknya mbak makan banyak ikan, atau minimal minum tablet Omega 3 (biasanya bernama “Squallent” yang banyak dijual di apotik Guardian di Giant). Tapi pengaruh jenis makanan terhadap kekentalan darah itu sekitar 1 hari, jadi kalau mbak makannya sudah lama ya tidak ada pengaruhnya terhadap kekentalan darah mbak hari ini.

    Seorang teman dosen memberi tahu saya kalau saudaranya divonis darahnya kental, terus saudaranya itu minum perasan buah Lemon (jeruk berukuran sedang yang berwarna kuning, banyak di supermarket) dan akibatnya kondisi jantungnya menurut perasaan saudaranya itu semakin baik…..

    Sayuran hijau tidak perlu dihindari, yang penting dikurangi saja porsinya.

    Semoga mbak segera sembuh seperti sedia kala…

    Reply

  10. safira seto
    Aug 02, 2013 @ 03:56:50

    Untuk dktr anwar bisa pake askes ‎ƍäª Ɣªª pa?krn sy domosili ði pati jateng.sy sudah konsul ði semarang RS.kariadi ke dr.penyakit jantung dr.charles sy U∂αђ melakukan echo dan diberi resep obat concor krn klep sy bermasalah n bawaan dr kecil,,sy suka kumat stiap jam 3dekat aneh saat tertidur,,gmna mengantisipasi saat2sprt ini Ɣªª pak,,sy trgolong ringan.

    Mbak Safira,
    Dr. Anwar praktek di sore hari mbak, jadi tidak bisa menggunakan Askes.
    Yang bisa menggunakan Askes adalah yang praktek pagi hari.
    Ya nanti kalau mbak sempat saja, mbak ke Jakarta dan langsung menuju ke RS Haji tempat beliau praktek setiap sore jam 17.00-19.00 hari Selasa, Kamis, Sabtu.
    Alternatifnya, mbak bisa mendapat dokter opini kedua tetap di Semarang atau di Solo atau Yogya.

    Reply

  11. Hadi Mustofa
    Jan 31, 2014 @ 01:54:56

    Wah tulisanya sangat membantu kepada sesama penderita jantung,saya dah 4 tahun minum obat jantung dengan obat sejumlah 5 macam yg dua diantaranya disebutkan di atas saya akhir akhir ini pandangan mata saya kabur seperti ada cairan kental yang menghalangi mata dan saya perkirakan karena efek minum kopi yg memang sulit untuk meninggalkanya,kopi saya hentikan ternyata tdk ada perbedaan… setelah aku mambaca artikel di atas mungkin saja penyebabnya adallah obat Amiodarone yg 3 bulan terakhir ini saya minum krna baru diresepkan dokter,trimakasih tulisanya sangat menarik…

    Mas Hadi,
    Syukurlah….prinsipnya, kalau obat itu mempunyai efek samping yang merugikan, ya sebaiknya dihentikan dan diganti dengan obat sejenis yang tidak mempunyai efek samping…

    Reply

  12. fitria
    Jun 09, 2014 @ 10:47:41

    pak boleh tau rekomendasi dokter yang bagus di harapan kita, ibu saya mau kateter dan pasang ring disana

    Reply

  13. Yopie Tanring
    Jan 21, 2015 @ 23:39:38

    Salam kenal Pak Tri, saya sempat baca sepintas tentang pengalaman anda menyangkut operasi katup jantung, yg ♏ãŇą anda dgn begitu detail menceritakan, berbagi pengalaman pada yg memerlukannya. Saya sangat salut.
    Saya juga sdh menjalani operasi ganti katup Aorta pd tgl 5 Agustus 2014 di Harkit, saya juga sdh menjalani yg namanya Ablasi pd tgl 19 jan 2015 dan menurut keterangan dokter tindakan tersebut berhasil.
    Tetapi yg membuat saya cemas yaitu INR saya.
    Dokter specialis Aritmia, Dicky A Hanafy menyarankan utk membeli alat tes INR agar biaya tes INR tdk terlalu membebani kita.
    Nah masalahnya skarang, saya tdk tau dimana bisa saya mendapatkan alat tersebut? , mungkin Pak Tri pernah dengar nama alat itu dan tau dimana bisa didapat ?
    Saya sekarang masih berada di jakarta krn baru saja saya menjalani tindakan Ablasi.
    Jadi sebelum saya pulang ke Makassar saya ingin tau mengenai alat tsb, dan klo mungkin tdk terlalu mahal, mungkin isi dompet saya mampu utk membawanya ke mks, saya rencana utk membelinya, hahahahahahah.
    Menurut dok, harga alat tsb sekitar 4 juta an, tapi saya lupa menanyakan dimana bisa didapatkan alat tsb.
    Atas Bantuan Pak Tri, saya haturkan Terimakasih banyak.
    Salam, Yopie Tanring

    Daeng Yopie,
    Saya malahan baru tahu kalau sekarang sudah ada alat yang bisa buat mengecek INR sendiri (tidak harus ke rumah sakit) soalnya 3-4 tahun yang lalu saya baca di internet bahwa alat test INR ini masih diuji di laboratorium dan belum dijual ke publik.
    Nanti kalau saya dengar kabar kalau alat test INR sudah mulai dijual bebas, saya kasih kabar Daeng.
    Sementara ini mudah-mudahan Daeng Yopie tetap sehat wal afiat selalu..

    Reply

  14. Fito
    Dec 03, 2015 @ 09:20:13

    salam kenaL pak Tri..
    saya daLam keadaan sehat waLafiat, cuma saat ini INR saya 0.88 dibawa normaL info dari dokter mesti diantara : 1-2, dan diberikan Sinmarc, pemeriksaan rutin ke dokter speciaList Jantung saya Lakukan karena riwayat dari keLuarga, juga darah kentaL dan triglicerid tinggi.. Ayah saya kena serangan Jantung dan pergi seteLah sembuh dari stroke ringan 6 tahun sebeLumnya.. Ibu saya pernah dipasang 2 ring oLeh prof. Santoso..
    Jadi untuk itu obat yang diberikan sebelumnya ClopidogreL dan Sinmarc, dan juga Crestor biLa kolestroL sedikit tinggi.
    Kepala saya diatas tengkuk / leher sering cenut.. cenut.. ada rasaLah ysng tidak nyaman.
    Mohon saran, info dan rujukan untuk saya secara pengaLaman pak Tri yang Luar biasa.. saya Ibu dari dua anak Laki2 berumur 47 tahun dan tinggaL di Tangerang..
    Terimakasih

    Mbak Fito,
    Bagi pasien jantung itu setelah diambil tindakan oleh dokter jantung, apakah dipasang ring, di-by-pass, atau di-bental-procedure seperti saya ini pasti ada minus dan plusnya.
    Minusnya, segalanya tidak akan sama lagi dengan sebelum terkena sakit jantung. Seperti saya ini mbak, kaki saya kadang keju, tangan juga keju kadang mati rasa, perasaan di leher belakang dan pundak juga sering keju (bukan nyeri, tapi seperti mati rasa).
    Plusnya, kita bisa hidup sampai sekarang. Tak terasa saya dioperasi dulu umur 54 tahun, dan sekarang hampir 59 tahun mbak…alhamdulillah….Thanks God…
    Tapi ya itu, sebagai pasien jantung kita harus rajin olahraga aerobik dan pelemasan semua bagian tubuh terutama kepala, leher, tangan dan pundak. Selain itu jaga makanan. Selebihnya, mudah-mudahan kita semua diberi umur panjang agar bisa cerita ke generasi muda di bawah kita nantinya…

    Reply

  15. Sari
    Apr 27, 2016 @ 07:40:57

    Dear Pak Tri,
    suami saya disarankan dokter utk operasi Bentall Procedure, boleh tau dokter bedah terbaik di RS Harapan Kita pak, dan mau tanya juga pak .. Klep jantung pengganti jenis apa yang terbaik ya pak.

    Mbak Sari,
    Ada banyak dokter bedah jantung di RS Harapan Kita mbak, tapi saya tidak tahu siapa nanti yang available dan waktunya sesuai dengan waktu suami dioperasi Bentall Procedure. Tapi banyak dokter bedah Bentall Procedure yang bagus kok, dulu jaman saya ada dr. Maizul Anwar, tapi beliau sekarang sudah purna tugas. Ada juga dr. Dudi, dan dokter-dokter lainnya.
    Yang saya dengar, sekarang dengan adanya BPJS Kesehatan, antrian pasien jantung yang akan dioperasi menjadi 6 bulan (waktu jaman saya hanya 1 bulan), jadi yang penting masuk antrian dulu.
    Klep jantung terbaik yang nanti menggantikan klep jantung asli tentunya menurut saya adalah klep stainless steel buatan St.Judd Medical, Minneapolis, Minnesota, USA, karena sudah lebih dari 2,5 juta orang menggunakan klep ini di seluruh dunia.

    Reply

  16. Novison
    Aug 08, 2017 @ 08:30:19

    Slamat pagi Pak. Bisa saya minta alamat email bpk. Saya mau mendapatkan buku yang bpk tulis mengenai pengalaman setelah operasi klep jantung. Saya sudah operasi klep jantung tahun 2007. Trimakasih

    Bang Novison,
    Saya tidak punya buku, atau bentuk buku belum siap.
    Silahkan download tulisan2 saya dan diedit sendiri
    dijadikan buku.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: