Kaya itu adalah pilihan

Saya teringat pada jamannya Friendster lagi top-topnya dulu, ada adik temannya anak saya yang menerima “testimonial”..”Hallo, X yang tajir, apa kabar ?”. Dalam hati saya merenung dalam membaca testimonial untuk X yang cowok itu. Mengapa dia dibilang “tajir” alias “kaya” ? Dalam hati saya merasa sedih dan kasihan kepada X, karena dengan hanya menyebut X tajir, maka X pastilah tidak mempunyai kata sifat lain misalnya “pinter” atau “ganteng”…

Padahal menurut pendapat saya pribadi, kata sifat “pinter” atau “ganteng” itu lebih “cool” dibandingkan dengan “tajir”. Mengapa ? Karena menjadi tajir atau kaya itu jauh lebih mudah (believe it or not) dibandingkan dengan menjadi pinter atau ganteng. Orang yang tidak pinter dan tidak gantengpun bisa menjadi orang tajir, mohon maaf..bahkan bila pendidikannyapun tidak terlalu tinggi….

Mohon maaf sekali lagi ya, saya tidak membenci orang kaya lho. Tapi sebaliknya juga jangan bilang kalau saya frustasi tidak bisa menjadi kaya. Sejak masih bayi, sepanjang yang masih saya ingat, orangtua saya selalu “ngudang” (menimang) saya sewaktu masih bayi, “Aduh..anakku yang pinter..pinter..pinter. Aduh…anakku yang ganteng…ganteng…ganteng…” dan sama sekali orangtuaku tidak pernah menimang seperti ini “Aduh…anakku yang kaya..kaya…kaya…“. Di sini perlu diingat, bahwa apa yang dikatakan orang tua kita sewaktu menimang kita pada saat bayi biasanya cepat atau lambat akan terjadi…

Jadi, apakah saya pinter ? Nggak juga…saya cuman lulus S2 saja dan belum pernah lulus S3 (walaupun saya ngambil S2 di Amerika dan walaupun semua mata pelajaran S3 waktu sekolah di Amerika dulu pernah saya ambil). Terus, apakah saya ganteng ?…What ? Ganteng ? You must be kidding ! Gak lah…kalau saya ganteng (dan tinggi) pasti pasangan saya artis yang lagi moncer, selebritis, sosialita, kembang kampung, atau kembang kampus. Tapi ini kan nggak. Paling banter kalau saya dibilang, “Aduh…mas ini ganteng ya”…selalu secara refleks saya sambar “Ah…ganteng dele gosong iyo…”. Hahahaha…itulah cara orang Madiun mengekspresikan cowok item seperti kecambah (kacang ke)dele yang gosong (hangus) itu…hehehe…

Jadi, apakah saya tidak kaya ? Nggak juga…saya takut dibilang tidak mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya kalau saya menyebut diri saya “tidak kaya”. Karena saya telah diberikan “kekayaan yang tidak ternilai” berupa kesehatan yang prima oleh Allah (walaupun, di umur 54 saya terkena sakit jantung). Minimal saya juga punya rumah dan kendaraan berupa mobil, motor, dan sepeda yang cukuplah…cukup untuk standar hidup saya sebagai “kaki tangan kerajaan” (menurut istilah Malaysia-nya). Mobil yang asal bisa jalan dan tidak mogok di tengah jalanan Jakarta, motor yang kira-kira bebas bengkel, dan sepeda yang sederhana (sebenarnya yang masih terbilang “mewah” justru sepeda saya ini, karena sudah ada 3 tipe : gunung, lipat, dan sepeda perempuan…dan yang saya belum punya “fixie” dan “balap”). Makanya, menurut standar saya sendiri, saya ini sudah kaya….secara kesehatan saya kaya karena jarang sakit dan tidak pernah masuk rumah sakit. Secara ilmu saya juga kaya karena sesedikitpun ilmu yang saya punya…selalu saya ajarkan ke mahasiswa-mahasiswa saya selama 30 tahun terakhir ini…

Pada suatu hari di tahun 1980 dulu, mantan boss saya Pak Satrio B. Joedono memberi nasehat kita yang muda-muda ini di dalam suatu rapat mingguan, “Saudara harus jadi orang pinter, karena kepinteran itu tidak akan ada habisnya. Sedangkan kekayaan itu sekali sapu bisa habis semua. Dari kepinteran saudara juga bisa mencari kekayaan…”. Nasehat beliau saya laksanakan sepenuhnya, saya tetap hidup sederhana dan beliau tetap hidup sederhana juga (walaupun, standar sederhana saya sebagai pegawai rendahan dengan beliau yang pernah jadi menteri, tentu saja berbeda)…

Beberapa tahun yang lalu dalam kesempatan pergi ke Korea saya diajar oleh salah seorang Deputi Menteri Riset dan Teknologi Korea. Dalam kesempatan yang baik itu, beliau menyatakan, “Hayoo…siapa mau bertanya ? Bertanya apa saja boleh ?”. Rupanya dari beberapa orang teman yang hadir hanya saya sendiri yang siap dengan pertanyaan. Saya bertanya, “Dok…kira-kira apa pertimbangan anda kok bekerja di pemerintahan seperti sekarang ini, dan bukannya Dok punya peluang untuk bekerja di Chaebol (Konglomerat) Korea yang menghasilkan gaji yang lebih besar ?”.

Saya pernah menulis post tentang hal ini sebenarnya. Doktor Korea itupun menjawab, “Dengan menjadi pegawai pemerintah...saya bisa melakukan apa saja. Lihatlah sekarang…ruangan kantor saya cukup luas…saya juga mempunyai sekretaris sendiri…”. Hebaat, kata kuncinya adalah “saya bisa melakukan apa saja”…cool !

Wah…ternyata menulis posting ini cukup sulit ya. Mulanya saya anggap bakalan mudah, tetapi setelah posting ini saya tulis dengan kecepatan sangat tinggi, saya terjebak untuk banyak cerita yang tentunya akan menyebabkan posting ini sangat panjang. Padahal salah seorang adik kelas saya SMA yang sekarang lagi sekolah di Australia berkomentar bahwa posting di blog saya panjang-panjang…

Yasudah…saya akhiri posting ini di sini saja… Alangkah baiknya bila pembaca aja yang berkomentar, dan nanti saya jawab komentarnya tentang mengapa “Kaya itu pilihan” ?

Selamat pagi !

8 Comments (+add yours?)

  1. [Gm]
    Jun 17, 2011 @ 07:21:11

    Jadi, kesimpulannya Pak Tri ini ngguanteng ya? :D…

    *kalo pinter, itu kan sudah jelas… tapi masalah kegantengan, belum ada buktinya nih, Pak Tri :D…

    Reply

  2. tridjoko
    Jun 17, 2011 @ 07:53:17

    Hallo Mas [Gm]…iya mas “kegantengan” saya benar-benar belum terbukti. Salah satunya karena teman fotografer saya yang tinggal di Jepun yaitu Mas [Gm] ternyata tidak terlalu suka memotret wajah….jadinya wajah ganteng saya belum sempat masuk Flickr nya Mas [Gm]…

    Hehehehe…..arigato sudah mampir ke Blog saya mas…

    Reply

    • [Gm]
      Jun 17, 2011 @ 09:05:42

      Haha, saya bukan fotografer, Pak Tri… hanya photo-enthusiast :D…

      Ngomong-ngomong, saya sering mampir ke blog bapak, kok. Hanya saja jarang berkomentar, dan dulu alamat blog saya beda (mungkin itu sebabnya pak Tri tidak ‘ngeh’).

      Mas [Gm],
      Wah…kayaknya saya tahu deh siapa jatidiri Mas [Gm] ini…cepat atau lambat saya pasti tahu…hehehe…

      Reply

  3. muchdie
    Jun 17, 2011 @ 09:05:34

    Kaya itu pilihan…Kata Iwan Fals : aku bukan pilihan. Kata Anang: Jangan memilih aku.
    Kalo saya bisa memilih, saya pilih ganteng, pinter dan kaya..

    Prof. Muchdie,
    Hahahahaha….tapi Prof ini sudah antitesis dari saya lho yang : pendek, item, dan tidak ganteng….kalau Prof : tinggi, putih, dan ganteng (kata isterinya lho)….hahahaha

    Reply

  4. Alris
    Jul 13, 2011 @ 07:30:59

    Benar, Pak Tri waktu kecil kita sering dininabobokan dengan lagu yang mendoakan supaya pintar dan ganteng. Walau bukan wong Jowo, tapi ortuku waktu kecil sering “nembang” menidurkan anaknya dengan kata2 semoga pintar dan ganteng itu. Jadi benarlah kata Pak Billy Joedono itu kepinteran itu tak ada habisnya. Bahkan, sebagaimana kita lihat saat ini, banyak orang “pintar” bisa kaya dadakan karena berhasil orang yang datang padanya, wakakaka……..

    Reply

  5. Alris
    Jul 13, 2011 @ 07:31:25

    Benar, Pak Tri waktu kecil kita sering dininabobokan dengan lagu yang mendoakan supaya pintar dan ganteng. Walau bukan wong Jowo, tapi ortuku waktu kecil sering “nembang” menidurkan anaknya dengan kata2 semoga pintar dan ganteng itu. Jadi benarlah kata Pak Billy Joedono itu kepinteran itu tak ada habisnya. Bahkan, sebagaimana kita lihat saat ini, banyak orang “pintar” bisa kaya dadakan karena berhasil menipu orang yang datang padanya, wakakaka……..

    Reply

  6. Alris
    Jul 13, 2011 @ 07:32:50

    Eh, jadi dobel komentarnya. Komentar yang pertama dihapus aja Pak Tri, karena komentar yang kedua adalah yang benar.

    Reply

  7. Matza
    Nov 08, 2011 @ 18:46:40

    halo om, apakabar? sudah lama tidak bertemu…. benar sekali om,kasihan sekali orang yang dapet lebel ‘tajir’ karena mungkin dia bisa dibodohi oleh orang pintar dan lebel ‘tajir’nya akan hilang seiring kebodohan dia,hehe…
    kalau saya disuruh memilih,saya lebih memilih hidup bermanfaat buat orang lain, karena kata Christopher McCandless di filmnya into the wild (salah satu film favorit saya) “Happiness only real when shared”. jadi buat apa kaya atau pintar kalau tidak bahagia…….:)

    Andi,
    Hallo nDi “the rocket scientist”, apa kabar juga ? Kabar saya baik, terus bertambah sehat kok…
    Benar apa yang Andi katakan mengutip dari McCandless “Kebahagiaan itu nyata kalau berbagi”….saya rasa begitu juga…

    Iseng-iseng tadi pagi sambil nyopir saya juga sempat berpikir, bahwa Tuhan menganugerahi saya wajah KW1 (bahkan mungkin KW2), kepinteran KW1 (mungkin KW2), kekayaan KW2 (mungkin KW3)….mungkin supaya saya tidak jatuh ke dalam kejumawaan yang sia-sia. Tetapi setelah saya pikir, Tuhan menganugerahi saya kebahagiaan yang prima alias “ori” (bukan KW lagi)……dan yang membuat saya lebih berbahagia lagi karena kalau saya berbahagia saya langsung berbagi ke orang-orang lainnya….

    Kelihatannya simpel….tapi itulah hakekat hidup kita ini nDi…. Good luck ya dengan kerjaan anda merancang-rancang pesawat terbang untuk diterbangkan oleh anak cucu kita nanti….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: