Mami, kaki saya kecil karena….

Tinggal di asrama co-ed (laki & perempuan tinggal bersama) macam asrama saya waktu sekolah di Amerika itu banyak untungnya (mula2), tetapi juga banyak ruginya (belakangan baru tahu). Asrama saya yang merupakan gedung 14 tingkat adalah gedung setinggi Sarinah di Jalan Thamrin Jakarta. Cuman bedanya, asrama saya itu bentuknya “X” sedangkan Sarinah hanya berbentuk “I” saja. Kalau asrama saya mempunyai 4 wing, maka Sarinah hanya mempunyai 2 wing saja…

Setiap lantai dihuni kira-kira 100 orang, jadi dari lantai 1 sampai lantai 14 kira-kira dihuni 1.400 orang. Ruang makan di lantai ground konon bisa menampung 500 orang yang dining sekaligus, 250 orang di sisi kiri (utara) dan 250 orang di sisi kanan (selatan). Di sebelahnya terdapat lapangan tennis 4 band (4 court). Di belakangnya ada lapangan tempat parkir mobil yang bisa menampung sekitar 200-300 mobil sekaligus.

Setiap lantai terdiri dari 4 wing, dimana 2 wing merupakan wing cowok dan 2 wing merupakan wing cewek. Antara wing cowok yang diberi karpet warna orange dan wing cewek yang diberi karpet warna biru (untuk Indonesia mestinya warna itu kebalik), dihubungkan dengan sebuah “pintu butulan” yang hanya cukup 1 orang buat lewat, ya sekitar 80 cm-an. Sewaktu saya mulai tinggal di asrama ini saya di-brief tentang “what you can do and don’t” oleh pegawai asrama yang biasanya berstatus mahasiswa juga..

Tentu saja “common rule” yang berlaku di Amerika juga berlaku di sini yaitu, “Anda bisa melakukan apa saja semaumu, kecuali yang dilarang !“. Jadi kami para cowok ini boleh nyeberang ke wing cewek melalui “pintu butulan”, dan sebaliknya begitu juga, cewek boleh menyeberang ke wing cowok dengan bebas melalui “pintu butulan” ini. Biasanya kami para cowok menyeberang ke wing cewek hanya buat numpang elevator (sebutan Amerika untuk “lift”) untuk naik atau turun lantai. Di seberang lift ada lubang selebar 30 cm dan setebal 5 cm yang disebut “chute mail” karena kalau kita menulis surat, setelah diberi perangko, bisa dikirimkan dengan cara memasukkan dan “menjatuhkannya” di chute mail ini. Cara praktis bukan ? Tepat di dekat pintu butulan, untuk beberapa lantai tertentu juga tersedia fasilitas untuk memuaskan “tenggorokan” Amerika…yaitu mesin pembuat ice cube ! Di setiap wing juga tersedia “fountain” untuk minum air sejernih air Aqua tapi gratis…

Tadi saya sebutkan tinggal seasrama dengan cewek-cewek ada enaknya, tetapi banyak juga tidak enaknya. Enaknya, kalau kita lagi pengin, kita nyeberang aja ke wing cewek yang tentu saja “baunya” agak berbeda. Berbeda bau, berbeda parfum, dan berbeda lain-lain tapi umumnya didominasi bau “puff” yang biasanya terdapat pada bedak cewek. Kalau di wing cowok bisa dikatakan tidak ada bau-bau yang aneh, datar-datar saja (dan karena itu, membosankan !)…

Juga ada rule umum yang kayaknya khas Amerika juga, yaitu kalau di antara cowok dan cewek ada yang pacaran, maka si pacar cewek akan mendatangi wing cowok dan bukan sebaliknya. Soalnya cewek mengunjungi wing cowok dianggap “biasa dan aman”, sedangkan cowok yang mengunjungi wing cewek akan disebut “ancaman”…

Bagi kita para cowok yang tinggal di asrama ini juga diwanti-wanti untuk tidak mengintip atau masuk ke kamar mandi cewek karena hal ini akan dianggap sebagai “serious offence” yang bisa mengakibatkan pelanggarnya dikenai “kartu merah” alias di-expell dari kampus yang megah dan indah ini. Jadi, tidak ada satupun cowok bodoh yang melakukannya. Tapi cowok pinter – seperti saya – pernah melakukannya, tetapi di hari libur kampus antara 14 Des – 13 Jan, masa dimana kampus dan juga asrama sangat sepi karena para mahasiswa memilih pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga. Saya menyelinap masuk dan nengok kiri-kanan untuk melihat ada nggak yang ngelihat. Ternyata kamar mandi cewek perlengkapannya agak lain dengan kamar mandi cowok karena di kamar mandi cewek ada sofa dan tempat nyuci “CD kotor” yang merupakan sifat ciri cewek setiap bulannya. Di kamar mandi cowok kedua hal ini (sofa dan tempat cuci) tidak ada sama sekali…

Karena statusnya “married” dan tinggal sendirian di Amerika, saya memutuskan untuk tinggal di asrama co-ed yang diperuntukkan bagi para mahasiswa pascasarjana (graduate) ini. Alasannya, di sini banyak temannya dan tidak harus belanja atau memasak kalau ingin makan. Ada satu kebiasaan saya dalam mencuci pakaian, yaitu saya sering mencuci pakaian di Sabtu malam sekitar pukul 7 sore. Gak tahu kenapa, mungkin karena saya sebagai seorang “bapak” yang keluarganya jauh tinggal di Indonesia lebih baik menyibukkan diri dengan mencuci daripada tergoda untuk melakukan yang enggak-enggak…

Ternyata kebiasaan saya itu suatu hari terbukti sangat merugikan saya sendiri. Seperti pada Sabtu malam-Sabtu malam sebelumnya, saya berangkat ke tempat mesin cuci sekaligus pengering di lantai basement. Baju-baju kotor saya taruh di sebuah bak dari plastik yang isinya bisa kelihatan. Celakanya, kaos kaki saya yang berwarna putih tetapi kotor saya taruh di paling atas. Celakanya lagi, saya ke tempat mesin cuci hanya mengenakan sandal yang di Amerika disebut “trong” (bener gak ya tulisannya ?) sehingga kaki saya yang kecil kelihatan…

Sore itu (di Amerika sebelum jam 10 malam disebut “sore”) saya lagi nunggu elevator untuk membawa saya turun ke lantai basement untuk mencuci baju-baju saya. Tiba-tiba muncul dari “pintu butulan” yang saya sebut tadi dua orang cewek yang sedang mengenakan pakaian pesta, bukan pakaian “casual” yang biasanya dipakai mahasiswi ke kampus. Satu di antaranya sangat saya kenal wajahnya, dan saya tahu cewek kecil berambut pendek itu adalah Italiano, tetapi saya tidak tahu apakah ia Italiano “tembak langsung” dari Roma ataukah ABI (American-Born Italiano).

Sore itu elevator yang kita tunggu-tunggu lama sekali datangnya. Saya kebelet ke tempat mesin cuci, sedangkan 2 cewek berbaju pesta tadi barangkali kebelet mencicipi welcome drink di pesta yang akan dihadirinya. Saking lambatnya datangnya elevator, kedua cewek itu mengobrol asyik kesana-kemari…

Tiba-tiba si cewek Italiano tadi berkata ke temannya, “Mami saya bilang kalau kaki saya kecil karena saya jarang mencuci kaos kaki saya”. Dan si cewek bilang begitu itu sambil melihat kaki saya ukuran 39 yang kecil dibalik sandal yang saya pakai, dan sambil memandang kaos kaki putih kotor yang saya taruh paling atas di antara tumpukan baju kotor yang mau saya cuci…

Kata-kata cewek Italiano yang sebenarnya cantik dan bersuara merdu itu terasa lebih keras dari sambaran geledek yang paling keras sekalipun. Walaupun muka saya terlihat tenang dan saya tidak mengeluarkan kata-kata apapun, tetapi telinga saya memerah lebih merah daripada cabe merah keriting yang di pasar tradisional harganya paling mahal itu…

Sejak sore itu, saya ubah waktu mencuci baju saya dari Sabtu sore jam 8 malam menjadi Sabtu malam jam 12 malam alias “midnight“. Selain karena mulut cewek Italiano beracun itu, beberapa hari kemudian saya berantem seru dengan cewek Mesir yang merasa bajunya saya angkat dengan sengaja dari mesin cuci, padahal saya tidak mengangkatnya (dan saya barangkali disangka mengintip underwear-nya yang sedang dicuci…amit-amit deh…knock on wood !!).

Kini saya mencuci baju kotor setiap Sabtu midnight di suasana asrama yang super sepi karena penghuninya sudah pada tertidur. Anehnya, masih ada saja pasangan mahasiswa yang pacaran di mesin cuci di jam tengah malam itu.

Yang tidak aneh adalah, saya tidak pernah tahu siapa nama cewek Italiano berwajah manis tapi bermulut racun itu…suatu tanda bahwa cewek Italiano itu tidak benar-benar cantik….:)

Iya to ?

3 Comments (+add yours?)

  1. Will Gunawan
    Jun 17, 2011 @ 14:07:54

    Wow 😀 very exciting experience pastinya ya, pak? 😀

    Will,
    Iya Will…bener-bener berkesan…mungkin salah satu kesan buruk yang saya alami selama studi di Amerika…

    Reply

  2. endah (binus MTI)
    Jun 17, 2011 @ 15:03:51

    Cantik yang hakiki

    Karena cantik itu hal baik yang tampak dari dalam diri seseorang atau disebut iner beauty. Kecantikan fisik itu tidak kekal tapi cantik hati selama orang menjaganya akan abadi dan efeknya dapat menyenangkan, nyaman orang-orang disekitarnya.

    Sangat setuju sekali saya mbak Endah….

    Reply

  3. Alris
    Jul 13, 2011 @ 07:44:46

    Kalo bikin asrama kaya di Amrik sana, laki & perempuan tinggal bersama, di Indonesia bisa berabe. Ntar banyak mahasiswi yang punya baby, hehehe…
    Apalagi kalo cewek dianggap lebih aman mengunjungi kamar cowok, wah…makin parah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: