Bab Epilog 3 – Maaaaaaaaas…!

Hari-hari sekarang ini, panggilan dengan suara keras dan panjang :

“Maaaaaaaaaass !”

sering saya dengar. Tidak hanya dari isteri saya, tetapi juga dari saudara-saudara saya dari keluarga besar. Rupanya pernah kejadian 2 kali pingsan itu dianggap sebagai “vonis” yang “cukup berat” karena artinya saya akan bisa pingsan ke-3, ke-4, ke-5 dan seterusnya. Entah atau benar persepsi ini tidak peduli, yang jelas korbannya adalah saya…

Panggilan keras dan panjang itu memang di satu sisi menandakan betapa sayangnya mereka terhadap saya, dalam pengertian yang positif. Bisa dibilang setiap 30 menit, dimanapun saya berada, panggilan “Maaaaaaaas !” tadi akan saya dengar. Walaupun memanggilnya tidak pakai mikropon merk Toa atau mikropon merk Schule (begini ya nulisnya ?), tetapi harus diakui itu panggilan amat..amat…amat keras suaranya. “It can weak the dead”, begitu istilahnya. Kalau saya lagi di pelataran depan, di kebun bunga, di kamar tamu, atau di kamar setrikaan tentu panggilan seperti itu tidak mengganggu, dan biasanya saya tinggal ngejawab, “Yaaaaaaaaa….” tidak kalah keras dan panjangnya. Tetapi bila panggilan tersebut dilakukan ketika saya lagi di kamar mandi, apalagi kalau sedang BAB, atau ketika saya sembahyang…wah tentu saja hal itu mengganggu. Kalau dipanggil di kamar mandi pasti jawaban saya akan berbunyi “Eeehk…Yaaaaaaa…” sedangkan kalau sedang sembahyang – dan ini yang paling sulit – saya mesti berpikir ini di rakaat awal atau di rakaat akhir. Kalau di rakaat awal kadang saya membatalkan sembahyang dan menjawab “Yaaaaaa……” tetapi kalau lagi di rakaat akhir saya biasanya akan mengucapkan ayat-ayat Al Qur’an dengan keras – seperti yang disarankan oleh guru agama Islam sewaktu saya SD dulu – supaya yang memanggil tahu bahwa saya sedang sembahyang….

Memang kalau seseorang sedang sakit, apalagi sakit yang menurut orang-orang termasuk “penyakit berat” seperti jantung ini, pihak keluarga dan keluarga besar akan menjadi waspada (cautious) kalau-kalau saya sedang jatuh pingsan dan tidak karena itu tidak bisa menjawab panggilan. Kata isteri saya, dia paling takut kalau-kalau saya terkena stroke akibat sakit jantung saya. Padahal, sakit jantung itu menurut saya termasuk “penyakit ringan”…terbukti dengan operasi by-pass (CABG) ataupun operasi penggantian klep maka dalam jangka waktu beberapa bulan si pasien tentu sudah baikan dan cenderung ke arah sehat. Memang orang yang sakit jantung juga bisa sih terkena stroke – termasuk yang saya lihat pada beberapa pasien waktu di rumah sakit dulu – namun hal ini hanya terjadi pada pasien yang dari sononya sudah menderita tekanan darah tinggi, jadi stroke pun senang mampir. Tetapi untungnya, rumah sakit saya dulu yaitu Rumah Sakit Jantung Harapan Kita banyak terdapat dokter pinter-pinter yang selain bisa menangani penyakit jantung, juga bisa menangani penyakit stroke atau penyakit pembuluh darah lainnya…

Dari segi kejiwaan, orang yang sedang terkena sakit termasuk sakit jantung, cenderung untuk merasa dirinya sehat. Bahkan, pasien jantung seperti halnya orang yang menderita tuna daksa (disable), mempunyai perasaan yang sangat sensitif. Persis perasaannya Cullen si manusia Vampire di film “Eclipse”. Merasa diri sehat tentu bukan dalam pengertian negatif, karena kalau merasa diri sehat dalam pengertian positif artinya si pasien telah menjalani segenap program rehabilitasi pasca operasi bedah jantung, sehingga dirinya bisa disejajarkan lagi dengan orang sehat. Bayangkan, pasien jantung seperti saya harus menjalani 24 kali pertemuan rehabilitasi di rumah sakit masing-masing selama  1 jam yang terdiri dari senam pemanasan 10 menit, treadmill 30 menit, latihan beban 10 menit, dan 10 menit pendinginan. Menurut pengalaman saya pribadi, treadmill selama 30 menit itu sudah membuat pasien capek, keringat bercucuran, detak jantung mendekati batas atas (walaupun masih jauh di bawah MHBR – maximum heart beat rate), dan kaki serasa lumpuh. Karena treadmill 30 menit itu bagi pasien yang kekuatannya biasa hanya sampai dengan kecepatan 5.0 km/jam saja treadmillnya. Namun untuk pasien yang merasa dirinya sehat dan kuat (termasuk beberapa pasien sepuh), 30 menit treadmill dijalani dengan kecepatan full sampai 6.0 km/jam. Kalau kecepatan treadmill sudah setinggi ini, mau gak mau si pasien harus melepas tangan dari “handle bar” dan seolah berlari-lari kecil di atas mesin treadmill.

Pengalaman saya pribadi mengikuti program rehabilitasi dengan menggunakan treadmill, saya jadi ingat pembalap motor “MotoGP” Valentino Rossi yang pernah jatuh dari motor dalam kecepatan tinggi, dan juga Michael Schumacher pembalap F1 yang pernah kecelakaan menghantam tembok berupa tumpukan ban di sirkuit Silverstone, Inggris. Keduanya terluka parah dan harus menghuni rumah sakit untuk beberapa saat untuk menyembuhkan hasil operasi tulang (bila ada). Namun setelah 8 minggu beristirahat di rumah sakit disambung dengan mengikuti program rehabilitasi, baik Rossi maupun Schumacher kembali lagi dengan gagah ke sirkuit buat balapan seri selanjutnya…

Kenapa hal ini bisa ?  Treadmill, jawabnya.

Oleh karena itu kalau anda mengerti apa itu treadmill dan bagaimana “the magic walking machine” ini bisa menyembuhkan pasien yang terluka atau sakit, maka setelah beberapa saat (minggu) kemudian anda harus punya persepsi positif yaitu jangan anggap si pasien yang telah menjalani program rehabilitasi yang ketat (rigorous) ini akan tetap lemah. Oh tidak, mereka itu (termasuk saya juga) adalah pribadi yang kuat dan siap melakukan apa saja yang hanya bisa dilakukan oleh orang sehat, seperti berlari, jogging, naik sepeda, panjat gunung, ataupun main surfing di pantai yang ombaknya besar…

Oleh karena itu juga, jangan lagi panggil saya “Maaaaaaaaaaaas…!”

Nyebelin, tahu !

2 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Jul 01, 2011 @ 07:27:59

    Hahahahaha…
    Yang suka panggil maaaas baca ini nggak ya…

    Temanku sekantor yang juga pernah di operasi bypass mengeluh..”Kenapa ya bu, saya diomelin terus sama isteri, apa-apa nggak boleh. Lha saya kan juga orang normal..”

    Padahal saya yakin, isterinya (saya kenal), mengomel karena mencintainya….

    Bu Edratna,
    Gak pernah tuh….hehehe

    Memang yang paling nyebelin bagi kita yang sakit jantung ini, setelah operasi jantungpun, masih ada orang dekat, saudara, teman kantor, tetangga yang menganggap kita belum normal. Padahal setelah beberapa tahap tertentu setelah operasi bedah jantung baik itu by-pass (CABG) atau Bentall procedure, si pasien juga cenderung membaik kesehatannya dan secara pelan-pelan ia akan menuju sehat 100%. Penginnya si pasien, tentu ia ingin diperlukan sebagai orang normal, senormal-normalnya…malah kalau perlu, orang lain lupa kalau si pasien itu pernah dioperasi bedah jantung. Itu yang sekarang terjadi dengan saya…

    Kalau ini gak boleh, itu gak boleh, sebenarnya saya maklum juga di awal-awal bulan setelah operasi bedah jantung. Saya mengerti karena kalau ada apa-apa, mereka (pasangan, saudara, teman, tetangga) juga yang kelabakan membawa kembali kita ke UGD…

    Ya singkat kata, attention is needed…too much attention is disgusting !

    Reply

  2. Alris
    Jul 13, 2011 @ 07:57:25

    Saya pernah baca salah satu posting di blog, jalan kaki sejam di pagi hari akan membuat anda segar melakukan kegiatan sepanjang hari. Benar juga setelah baca posting Pak Tri ini. Kalo gitu sering jalan kaki pagi-pagi, yuk…!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: