Mengapa kampus Anggrek berbentuk Mal ?

Pada suatu hari sebulan yang lalu kira-kira, adik sepupu saya mengirim sms ke saya, “Mas, Binus itu bagus nggak Markomnya ? Saya mau masukkan anak ke Binus nih..”. Sayapun terperangah tidak percaya, adik sepupu yang kemarin masih gadis kecil yang saya kirimin mangga yang saya gambari dan tulisi macem-macem itu (mangga dari kebun sendiri) ternyata sudah mempunyai anak laki sulung yang akan memasuki Markom Binus. Setelah itu, mungkin puluhan sms dipertukarkan antara kami berdua, bertanya macam-macam dari keamanan kampus, kebersihan kampus, “kebersihan” kampus, kekuatan jurusan, kekuatan dosen, filosofi dibangunnya kampus ini, dan sebagainya. Saya sampai capek membalasnya, serasa jari saya jadi keriting….tapi yah, semua pertanyaan terjawab dengan baik menurut saya sih. Akhirnya pertanyaan terakhir cukup menohok saya, “Emang dibandingkan dengan sebuah kampus terkenal di Cikarang, lebih murahan mana Binus dengan kampus itu, soalnya anak saya dapat keringanan sekian juta kalau jadi memasuki kampus di Cikarang itu….” More

B.N.P.D.

Waktu kampus Anggrek Binus akhirnya benar-benar beroperasi di bulan Juni 1999, beberapa kuliah atau kelas mahasiswa sudah dipindahkan ke kampus Anggrek, di tengah-tengah suasana Indonesia yang belum sepenuhnya kondusif karena terjadinya Reformasi di bulan Mei 1998. Pihak Yayasan Binus pun dengan susah payah bisa menyelesaikan pembangunan kampus Anggrek, karena dengan kurs 1 USD = Rp 15.000 tentunya sangat bertambah sulit untuk membeli kaca, karet, keramik, semen, dan semuanya yang tiba-tiba bertambah mahal. Tapi Juni 1999 itu, kalau tidak salah, kampus megah yang sebenarnya lebih mirip sebuah Mall itupun berdiri. Lain kali saya akan bercerita mengapa kampus Anggrek kok dibuat seperti halnya sebuah Mall di tulisan lainnya…

Sebagai salah satu staf di Binus waktu itu, pada sebuah rapat Rektorat yang berlangsung Sabtu pagi di Gedung H Lantai 2, saya ditugaskan untuk membuat Poster “Dilarang Memakai Sandal” di seluruh kampus yang ada di Binus : kampus Syahdan, kampus Kijang, dan kampus Anggrek. Sabtu depannya, saya bawa beberapa contoh Poster itu, dan di dalam rapat selanjutnya disepakati bahwa definisi “sandal” adalah “alas kaki yang tidak punya pengait di belakang (di sisi urat Achilles)”. Jadi keputusan rapat itu, mahasiswa yang, menggunakan alas kaki terbuka dan di belakang tidak ada pengaitnya, berarti dia menggunakan sandal, dan berhak untuk ditindak dan dipulangkan kalau perlu. Sikap sedikit “represif” ini tidak hanya kepada mahasiswa pemakai sandal, tetapi juga mahasiswa yang “merokok” di lingkungan kampus, dan mahasiswa yang “berjudi” di lingkungan kampus. Celakanya, rapat menugaskan kepada setiap Kajur, Sekjur, dan Dekan untuk menangkap mahasiswa pelanggar ke-3 ketentuan itu : memakai sandal, merokok, dan berjudi. Mungkin teman-teman lainnya tidak ada yang mengeluh, tetapi saya benar-benar mengeluh walaupun tidak sampai saya utarakan di depan rapat. Mengeluh karena sudah punya 3 jabatan rangkap : 2 jabatan yang saya pegang sekarang, dan sekarang sebagai Satpam penangkap mahasiswa bersandal….! More