B.N.P.D.

Waktu kampus Anggrek Binus akhirnya benar-benar beroperasi di bulan Juni 1999, beberapa kuliah atau kelas mahasiswa sudah dipindahkan ke kampus Anggrek, di tengah-tengah suasana Indonesia yang belum sepenuhnya kondusif karena terjadinya Reformasi di bulan Mei 1998. Pihak Yayasan Binus pun dengan susah payah bisa menyelesaikan pembangunan kampus Anggrek, karena dengan kurs 1 USD = Rp 15.000 tentunya sangat bertambah sulit untuk membeli kaca, karet, keramik, semen, dan semuanya yang tiba-tiba bertambah mahal. Tapi Juni 1999 itu, kalau tidak salah, kampus megah yang sebenarnya lebih mirip sebuah Mall itupun berdiri. Lain kali saya akan bercerita mengapa kampus Anggrek kok dibuat seperti halnya sebuah Mall di tulisan lainnya…

Sebagai salah satu staf di Binus waktu itu, pada sebuah rapat Rektorat yang berlangsung Sabtu pagi di Gedung H Lantai 2, saya ditugaskan untuk membuat Poster “Dilarang Memakai Sandal” di seluruh kampus yang ada di Binus : kampus Syahdan, kampus Kijang, dan kampus Anggrek. Sabtu depannya, saya bawa beberapa contoh Poster itu, dan di dalam rapat selanjutnya disepakati bahwa definisi “sandal” adalah “alas kaki yang tidak punya pengait di belakang (di sisi urat Achilles)”. Jadi keputusan rapat itu, mahasiswa yang, menggunakan alas kaki terbuka dan di belakang tidak ada pengaitnya, berarti dia menggunakan sandal, dan berhak untuk ditindak dan dipulangkan kalau perlu. Sikap sedikit “represif” ini tidak hanya kepada mahasiswa pemakai sandal, tetapi juga mahasiswa yang “merokok” di lingkungan kampus, dan mahasiswa yang “berjudi” di lingkungan kampus. Celakanya, rapat menugaskan kepada setiap Kajur, Sekjur, dan Dekan untuk menangkap mahasiswa pelanggar ke-3 ketentuan itu : memakai sandal, merokok, dan berjudi. Mungkin teman-teman lainnya tidak ada yang mengeluh, tetapi saya benar-benar mengeluh walaupun tidak sampai saya utarakan di depan rapat. Mengeluh karena sudah punya 3 jabatan rangkap : 2 jabatan yang saya pegang sekarang, dan sekarang sebagai Satpam penangkap mahasiswa bersandal….!

Di dalam rapat itu juga dibahas bahwa Satpam yang ada sekarang tidak ditugaskan untuk menangkap mahasiswa pelanggar ketiga ketentuan tadi yaitu : dilarang memakai sandal, dilarang merokok, dan dilarang berjudi, karena Satpam sekarang sudah repot berurusan dengan masalah keamanan – yang setelah tahun 1998 pun masih rawan di sekitar kampus. Akhirnya, di rapat itu saya sampaikan, bahwa mengingat pengalaman saya semasa kuliah di Indiana ada “polisi kampus” yang disebut IUPD (Indiana University Police Department), bagaimana kalau di Binus juga dibuat semacam BNPD (Bina Nusantara Police Department) ? BNPD adalah Satpam khusus di Binus, yang bekerjasama dengan Kepolisian Sektor Palmerah, sehingga kalau ada mahasiswa pengganggu di kampus dapat segera ditangkap (confiscated) dan bilamana perlu dijatuhi hukuman. Hukuman itu bisa hukuman administratif yaitu diskor selama 1 semester, atau kalau pelanggarannya lebih berat ya diproses sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.

Rapat tidak memberi jawaban, karena memang kalau BNPD sudah ada waktu itu, tentu kampus tidak akan bisa membiayai karena kondisi keuangan belum sepenuhnya pulih setelah membangun kampus Anggrek dengan kurs US Dollar yang selangit itu. Tapi, saya sebagai salah seorang staf kampus yang ditugasi oleh rapat Rektorat, lumayan aktif berjalan kesana-kemari mencari-cari mahasiswa yang merokok, bersandal atau berjudi di area kampus. Tapi mahasiswa juga tidak kalah pintar, di luar kampus banyak kost mahasiswa yang menyediakan sepatu bilamana perlu sewaktu-waktu dibutuhkan oleh mahasiswa lain. Karena biasanya mahasiswa bersandal yang tertangkap di area kampus, akan segera pergi ke luar kampus sebentar, dan tidak sampai lima menit diapun sudah cengar-cengir memasuki kampus lagi…..kali ini dengan….bersepatu !!!!

2 Comments (+add yours?)

  1. rudy
    Mar 06, 2012 @ 20:37:38

    Saya jadi pikir pak, pada saat itu tempat penyewaan sepatu pasti laku.

    Rudy,
    Sejak saat dulu ketika larangan memakai sandal itu diberlakukan, penyewaan sepatu sudah laku kok.
    Bahkan sekarang di Koperasi Binus di Lantai Ground Kampus Anggrek, juga dijual sepatu cowok dan sepatu cewek. Mungkin banyak juga peminatnya….hahahaha…

    Reply

  2. David Liusman
    Mar 07, 2012 @ 23:18:38

    Apakah protekom yang biasa kita sebut itu sudah merupakan B.N.P.D pak ? 😀 hehehe…

    David,
    Kalo dari segi fungsinya, artinya dengan adanya Protekom sudah dapat menciptakan “law and order” di kampus-kampus kita, memang Protekom itu sudah seperti B.N.P.D. yang saya bayangkan.

    Cuman perlu dicatat, Protekom adalah perusahaan keamanan yang menjadi rekanan Binus yang pertama demi mewujudkan B.N.P.D. ini. Perusahaan keamanan kedua, ketiga, dan seterusnya tidak ada hubungannya dengan Protekom. Tapi untuk “menghormati” Protekom, sampai hari ini semua civitas academica kampus masih menyebut B.N.P.D. kita itu sebagai “Protekom”….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: