Ceritaku Ceritamu Ceritakita

Lulus S1 ngambil S2 atau ngambil Sertifikasi

October 29, 2007 · 73 Comments

Pertanyaan di atas diajukan oleh Handoko, seorang alumni Binus angkatan 1998 dari jurusan ganda Teknik Informatika dan Matematika kepada saya melalui salah satu blog saya. 

Rupanya Handoko membaca beberapa posting saya berupa komentar terhadap sebuah posting di blog Bung Anjar (priandoyo.wordpress.com ) yang membahas masalah sertifikasi CIA, CISA, CISM, CISSP dan CEH…                                                                                         

Sebenarnya tidak ada “patokan halus” (hard and fast rule) untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, adanya adalah “patokan kasar” (rule of thumb).. 

Pertanyaan itu penting dijawab, tidak hanya untuk Handoko seorang, tapi juga untuk seluruh mahasiswa Binus, bahkan untuk semua lulusan Teknik Informatika/ Ilmu Komputer, Sistem Informasi/ Komputerisasi Akuntansi, dan Sistem Komputer di seluruh Indonesia. 

Jawaban singkat saya adalah sebagai berikut, jika belum puas atau masih ada pertanyaan lagi, silahkan tulis komentar di posting ini, atau melalui japri ke saya di tridjokoeta@yahoo.com (Sorry, sebenarnya saya bukan ahli SDM seperti Bung Riri Satria www.ririsatria.net jadi sekali lagi, jawaban saya hanya sekedarnya dan belum tentu benar).. 

Jika anda lulus S1 dari jurusan-jurusan yang saya sebutkan tadi (IF/Ilkom, SI/KA, dan SK) dengan IPK minimal 3.00, sebaiknya anda langsung mencari kerja karena dengan IPK seperti ini mudah bagi anda untuk masuk sebagai fresh graduate (First Year Professional atau FYP) di perusahaan-perusahaan yang diinginkan. Begitu pula jika IPK anda di antara 2.75 sampai 2.99, anda juga bisa langsung mencari kerja, walaupun jumlah perusahaan yang anda masuki sangat terbatas.  Jika anda memutuskan ingin langsung kerja, andapun harus mempelajari beberapa contoh soal Aptitude Test yang banyak dijual di Gramedia (Matraman yang terlengkap, juga PIM). Selain itu, bahasa Inggris anda juga harus memenuhi syarat minimal, misalnya dengan TOEFL score 500 (anda bisa menghubungi LIA Slipi, samping Hotel Ibis, test TOEFL dilaksanakan setiap hari Senin jam 07.00-13.00, pendaftaran paling lambat hari Kamis sebelum test,biaya Rp 100 ribu Listening, Usage, dan Reading, serta Rp 125 ribu jika ditambah dengan Oral test). 

Nah, bila anda bukan termasuk sarjana dengan kategori “sexy” seperti yang saya sebutkan di atas (IPK min 3.00, TOEFL score min 550, Aptitude Test min 450), jangan segera berpikir bahwa masa depan anda sangat kelam, karena anda termasuk dalam 80% dari populasi lulusan IF/Ilkom, SI/KA, dan SK yang ada.  Setidaknya ada 3 jalur “jalan keluar” bagi anda untuk menuju dunia kerja yang diinginkan, yang akan saya terangkan satu demi satu berikut ini : 

Pertama, jika saya sekarang ini baru lulus dengan IPK di bawah 2.75 (2.00-2.74), maka saya akan memutuskan untuk mengambil S2 baik di bidang Teknik Informatika, Ilmu Komputer atau Sistem Informasi seperti yang ada di UI ataupun ITB. Itupun kalau saya punya biaya. Kalau tidak punya biaya, ya coba usahakan mencari utangan kanan kiri dari saudara, tetangga, atau kalau berani cobalah berutang di bank, tentu saja cari yang tingkat bunganya rendah (apa ada ya ?). 

Saat ini (Oktober 2007), biaya yang diperlukan untuk mengambil S2 bidang Teknik Informatika, Ilmu Komputer atau Sistem Informasi mungkin antara Rp 30 juta – Rp 40 juta untuk SPP saja, jika ditambah dengan biaya hidup Rp 1,1 juta per bulan, maka selama 2 tahun total biaya yang anda perlukan untuk mengambil S2 adalah antara Rp 56,4 juta sampai Rp 66,4 juta. Ya katakanlah dibulatkan menjadi Rp 70 juta (apakah angka-angka ini terlihat di website www.cs.ui.ac.id ?). 

Kedua, daripada mengambil S2 agar tampak “sexy” di mata calon employer namun dengan biaya yang mahal (Rp 60 juta – Rp 70 juta) dan waktu yang lama (minimal 2 tahun), maka kalau saya jadi anda saya lebih suka untuk mengambil sertifikasi professional bagi lulusan Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Sistem Informasi/Komputerisasi Akuntansi dan Sistem Komputer. Hal ini sejalan dengan pemikiran pakar IT terkemuka Indonesia misalnya Dr. Jos F.P. Luhukay yang mengatakan bahwa “Sarjana S1 plus sertifikasi lebih disukai bagi employer daripada S1 plus S2”… 

Sertifikasi yang paling simple mungkin adalah MSNE (Microsoft Network Engineer) yang anda bisa ambil online di Jakarta dengan biaya test kalau tidak salah US $ 150 (Rp 1,5 juta). Keuntungannya, biaya cukup murah. Kekurangannya, bisa dibayangkan nggak perasaan anda setelah menjawab soal-soal ujian MSNE dan pencet tombol “confirm” dan beberapa detik kemudian anda dinyatakan gagal ??.. 

Sertifikasi paling simple lainnya adalah CCNA (Certified Cisco Network Analyst ??) yang biaya test online-nya mungkin sama dengan MSNE. Tapi walaupun sertifikasi MSNE dan CCNA ini cukup murah, tapi agar jangan buang-buang uang yaitu ikut test sertifikasi tapi tidak lulus, sebaiknya anda mempersiapkan diri dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan Microsoft certification dan Cisco certification. Buku-buku tersebut bisa anda baca di perpustakaan Binus Anggrek maupun Binus Hang Lekir, atau di Perpustakaan BPPT Jl. M.H. Thamrin 8 Jakpus, Gd. II lantai 4 (tepat di seberang Hotel Sari Pan Pacific).. 

Bedanya dengan sertifikasi yang lain seperti CISA, MSNE dan CCNA ini lebih spesifik ke merk peralatan tertentu (MSNE serba Microsoft, CCNA serba Cisco), sedangkan sertifikasi lainnya seperti CISA tidak terkait dengan merk peralatan/system tertentu. Sertifikasi selanjutnya yang bisa anda coba saya sarankan adalah CIA (Certified Internal Auditor), namun bagi orang yang background-nya bukan Accounting mungkin agak kesulitan mengambil test CIA yang pertama kali, kecuali belajar keras. Salah satu kemudahan sertifikasi CIA adalah bahan test-nya yang dicicil sedikit demi sedikit. 

Tapi jika IT adalah background anda, anda bisa langsung ngambil sertifikasi CISA (Certified Information Systems Auditor – belakangan kata “auditor” lebih diarahkan ke “assurance”). Coba cek informasinya di www.isaca.org. Biayanya kalau tidak salah sekitar US $ 420 (jika anda bukan anggota ISACA) atau US $ 370 (jika anda anggota ISACA). Untuk pendaftaran dini (early bird), biaya tersebut masih dipotong $ 35. Pada saat mengambil ujian sertifikasi yang biasanya bertempat di Jakarta International School (JIS) Tarogong, Cilandak, waktu yang diperlukan adalah 4 jam (09.00 – 13.00) dengan 200 pertanyaan dalam bahasa Inggris (multiple choice, 4 pilihan). Jika anda dapat menjawab 75% dari pertanyaan dengan benar, maka anda sudah selangkah menuju ke sertifikasi CISA. Untuk jelasnya, baca di website tadi. 

Kalau anda lebih cenderung menjadi Information Security Manager, maka sertifikasi yang anda ambil sebaiknya CISM (Certified Informations Security Manager). CISA dan CISM sertifikasinya dilaksanakan oleh ISACA, biaya kedua sertifikasi ini juga sama. 

Ada lagi CISSP (Certified Information Systems Security Professional). Dua atau tiga tahun yang lalu bila anda mau ambil sertifikasi CISSP, anda harus pergi ke Singapore, tapi saya dengar mulai tahun 2007 ini anda bisa ngambil sertifikasi CISSP di Indonesia. Kalau mau, anda bisa langsung nanya ke Dr. Eng Sarwono Sutikno, CISA, CISM, CISSP dari Dept Elektro ITB (email beliau kalau tidak salah ssarwono@yahoo.com ). 

Yang paling unik adalah yang terakhir ini yaitu CEH (Certified Ethical Hacker). Jika anda akan mengambil sertifikasi CEH ini, anda akan menjadi “hacker golongan putih” (sebagai lawan “hacker golongan hitam”). Ada beberapa orang Indonesia yang mendapat sertifikasi CEH ini, tapi biasanya ybs juga punya sertifikasi CISA. 

Untuk sertifikasi CIA, CISA dan CISM, anda bisa mengambil “C*** Preparation Course” yang dilaksanakan oleh Binus International University di Jalan Hang Lekir (websitenya kalau tidak salah jwc.binus.ac.id – jwc singkatan dari The Joseph Wibowo Center, beliau adalah pemilik Binus yang sudah almarhum). 

Ketiga, jika anda tidak mau mengambil salah satu dari dua kemungkinan yang saya sebutkan tadi, anda bisa memilih pilihan berikut. Dengan modal uang sekitar Rp 70 juta, anda bisa ngambil opsi sekolah S2 di luar negeri sambil bekerja. Ada dua pilihan, ke Jerman (lihat www.daau.de ) atau ke Amerika Serikat (lihat www.mum.edu ). Anda cukup mengajukan aplikasi online dilengkapi dengan persyaratan administrative (ijazah, transkrip, TOEFL score, sertifikat bahasa pemrogram seperti Java, dsb). Pada waktunya, anda akan ditest melalui telpon (kalau dari Amrik, biasanya pagi hari sekitar pukul 03.00 pagi di Indonesia – atau pukul 3 pm di Amrik). Anda akan ditest konversasi bahasa Inggris dan kemampuan pemrograman. Dari hasil wawancara melalui telpon ini, mereka akan memutuskan untuk memberikan “pinjaman” uang sekolah kepada anda yang anda harus bayar sambil “bekerja” (kalau di Amrik, “bekerja” tidak disebut “working” tapi “professional training course” atau PTC, ini hanya istilah imigrasi AS saja, so don’t worry so much). 

Ok, apapun pilihan anda, andalah yang menentukan. Sayangnya, informasinya sangat banyak walaupun ini saya juga sudah menulis sangat banyak, 4 pages euy…. 

Salam dari Bekasi,

-Tri Djoko Wahjono 

Categories: Uncategorized

73 responses so far ↓

  • razi // October 31, 2007 at 1:10 am

    very important website
    get paid to visit websites
    http://www.monfacileargent.tk/

  • Edwin // November 1, 2007 at 8:50 am

    ehm, bagi yg mau ambil CISA, DLL , di Binus International (JWC) ada tuh, 4 juta kira2

  • putralovers // November 2, 2007 at 9:06 am

    Pak,kalo menurut saya , lebih baik meneruskan untuk sertifikasi,memang gelar S2 sangat menunjang untuk di Indonesia tetapi yang saya tau,kebanyakan perusahaan IT yang berpusat di luar negeri sana lebih menyukai dengan sertifikasi yang dikeluarkan.sebagai pengalaman saja,saya lulusan SMA tahun 2005/2006 dan sekarang sedang mengikuti sertifikasi NIIT di FTUI dan ada tawaran untuk melanjutkan di UK University untuk melanjutkan program profesionalnya
    -putra-
    http://easystudy.wordpress.com

  • tridjoko // November 2, 2007 at 7:04 pm

    Hallo Razi, thanks for your compliment. Are you currently in Turkey (.tk) ?

    Hallo Edwin, waktu saya ngambil CISA Preparation Review di Binus tahun 2005 dulu saya harusnya bayar Rp 5,5 juta untuk 12 kali pertemuan (seminggu 2 x). Tapi karena saya Binusian (dosen Binus), maka didiscount 15%, kalau nggak salah akhirnya saya bayar Rp 4,85 juta (untung dibayarin sama kantor saya..he..he..). Tapi to tell you the truth, walaupun diajar oleh beberapa orang dengan CISA holder, tapi ikut Preparation di Binus agak nggak worth it karena banyak yang gagal lulus. Kalau boleh memilih sebenarnya saya pengin diajar oleh CISA yang orang bule (ada sebenarnya, perusahaannya Phil Lifferman kalau tidak salah, tapi bayarnya sekitar $ 15,000 untuk satu program - tapi bisa dibagi rata biayanya sama teman-teman yang mau ikut)…

    Hallo Putralovers, apakah anda sekarang ini statusnya masih lulusan SMA ? Berarti nggak bisa ngambil sertifikat CISA dan CISM karena syaratnya harus lulus S1. Tapi kalau MSNE atau CCNA menurut saya tidak harus lulusan S1. Jadi, go ahead with your NIIT program at FTUI and good luck…

  • imam // February 19, 2008 at 4:02 pm

    mas nanya dk, maksudnya bhn ujian yg dicicil gmn y?

    info yg saya dpt, bhn ujiannya dibagi menjadi 4 bahagian, apa yg mas maksudkan, apabila sudah lulus 2 bagian terus 2 bagian lg bs diperjuangkan u term ujian berikutnya

    menurut mas gmana ttg provider yang menawarkan CIA/CISA course on line?

    t’x

  • Tri Djoko // February 19, 2008 at 9:04 pm

    Hallo Mas Imam : setahu saya ujian CIA (Certified Internal Auditor) dibagi ke dalam 4 modul. Modulnya apa saja sebenarnya saya nggak tahu karena nggak pernah ngecek di website dan saya nggak pernah ngambil CIA.

    Artinya, anda bisa ngambil ujian 1 modul saja. Setelah lulus ujian modul 1, misalnya, beberapa bulan lagi bisa ngambil modul 2, modul 3 dan seterusnya. “Kemampuan” atau “kekuatan” anda mengambil berapa modul sekali ujian, itu yang menjadi pertanyaan. Kalau anda merasa “kuat”, ya ngambil 4 modul sekaligus juga nggak apa-apa.

    Kontras dengan ujian CISA dan CISM yang pernah saya alami, sekali ujian ada 200 soal dan tidak dibagi per modul. Dari 200 soal itu, kalau kita benar menjawab 75% soal maka kita disebut “lulus ujian CISA/CISM” atau istilah resminya “your grade is good enough to pass the CISA/CISM test”…

    [Sorry, bila info yang saya berikan di atas kurang akurat. Memang ujian CISA/CISM setiap saat berubah infonya. Makanya, lebih tepat cek langsung di websitenya saja. Ok ?]

  • Agung // February 23, 2008 at 9:18 pm

    wah,
    sekalian konsultasi yah pak.
    saya rupa2nya merasa kurang tertarik dengan bidang IT (lho? stlh smstr 6 msk TI-Mat Binus br nyadar klo ga seneng computer)
    hehehehehehe..!!
    saya lbh tertarik ke bidang menejemen n bisnis.
    (mungkin IT + Math bs saya aplikasikan).
    nah,makany saya rencana ambil master menejemen ato bisnis ke eropa.
    apa itu cukup baik??
    sementara IPK saya saat ini tidak begitu “sexy”.
    (tp stlh saya SP algo pemrog pasti IPK saya “sexy” ;)
    hehehehe..!!
    lalu saya perlu ambil sertifikasi ga yah pak??
    saya sih maonya abis lulus S2 lgs kerja dengan gaji yg “very hot”.
    hehehehe..!!

  • Tri Djoko // February 23, 2008 at 10:35 pm

    Agung : wah…anda ngaku IPK “nggak sexy” tapi kok pengin dapet gaji yang “very hot”….

    Wah….APA KATA DUNIA ??

    Normal-normal saja anda merasa salah jurusan. Saya dulu penginnya ngambil ITB selepas SMA, tapi kenyataan hidup mengharuskan saya kuliah ke IPB. Let’s face it, man. Life has go on. Don’t look back !

    Jadi sabar aja, sambil menunggu let’s the good thing rolls…

    Kalau saya jadi anda, saya akan memperbaiki IPK setinggi mungkin sampai nanti lulus dalam 10 semester (program Ganda soalnya). Buatlah IPK anda se-sexy mungkin…

    Sambil jalan, anda bisa meningkatkan bahasa Inggris. Ambil TOEFL di LIA Slipi. Bisa nggak anda dapat 600 (versi paper) atau 200 (versi online) ? Kalau bisa, ambil TOEFL International di Menara Imperium, bayar USD 150. Cek berapa skor anda..

    Setelah itu ambil GMAT. Mungkin sebelum ngambil GMAT beneran, anda bisa ngambil GMAT Prediction. Apakah ada di LIA Slipi ? I am not sure though.. Setelah nilai Prediction tinggi, baru ngambil GMAT beneran…

    O ya, ngambil TOEFL dan GMAT ini nggak perlu nunggu anda lulus dari Binus. Sambil jalan aja..

    Kalau masih ada waktu. Pelajari soal-soal ujian CISA. Lihat http://www.isaca.org/

    Tapi untuk ngambil ujian CISA, anda harus Sarjana terlebih dahulu. Soalnya bayarnya mahal USD 420 (tanpa jadi anggota ISACA) atau USD 370 (dengan jadi anggota ISACA), tapi jadi anggota ISACA fee tahunannya sekitar USD 45 kalau nggak salah…

    Jadi setelah profil diri anda “dihajar dari berbagai sudut” (minjam istilah Ade Rai), mudah-mudahan gambaran IPK dan kemampuan anda sekarang menjadi sexier…a lot sexier…

    Kalau sudah gitu, jangankan Eropa. Amerika, Australia, Jepang atau bahkan ruang angkasa bisa anda datangi, man !

    Trust me !

  • Agung // February 23, 2008 at 10:55 pm

    hehehe..!!
    sbnrnya spy gaji saya nanti “hot”,
    saya sudah bangun banyak koneksi.
    contohnya sama yang punya UPH.
    hehehehe..!!
    ga perlu sampe 10semester pak.
    cukup saya SP 2kali saja.
    IPK saya sudah “sexy”.
    hehehehe..!!
    itu lah pak,mengapa saya pilih ke eropa.
    saya hanya perlu prepare untuk GMAT.
    soalnya univ yg saya tuju ga pake TOEFL.
    mungkin hanya perlu bljr bhs belanda.
    *(FYI,negara tujuan saya Belgia)*
    hehehehe..!!
    perlu ya pak sertifikasi gt?
    saya pikir,karena saya mungkin akan kerja di bidang management,ga perlu sertifikasi komputer gt.
    hehehe..!!

  • Agung // February 25, 2008 at 3:39 pm

    pak,CISA itu CISCO yah?
    aduh,sbnrnya soal sertifikasi gt saya ga ngerti nih.
    saya pikir nanti paling ambil sertifikasinya microsoft aja.
    hehehe..!!

  • stevenlockhart // February 28, 2008 at 10:55 pm

    Pak,sebelumnya saya (Steven Effendi Halim kelas 04PKT) udah buat blog di stevenlockhart.wordpress.com..di add ya pak..

    Menanggapi komentar dari sdr Agung yg sepertinya punya pemikiran yang sama dgn saya.Saya berencana meneruskan ke S2 di luar negeri,tapi saya tidak berminat utk mengambil jurusan yang sama (IT) mugkin bisa mengambil jurusan lain spt bisnis..(gak bisa ngebayangin S2 IT kayak apa klo S1 aj ud kyk gini)

    Nah apakah itu sesuatu yang aneh?dari IT lari ke bisnis??ada pertimbangan apa saja yg perlu saya perhatikan??

    Lalu saya pernah membaca di suatu forum yg katanya klo ngambil S2 jurusan IT lagi siapa perusahaan yang mau ngegaji..apakah itu betul??

    Oya pak katanya klo kuliah di Jerman tu biaya kuliahnya gratis ya?jd kita cukup bayar biaya hidup aja..

  • Tri Djoko // March 1, 2008 at 10:44 am

    -> Agung : ya deh, lakukan apa saja supaya gaji anda nanti “hot”. Tapi jangan lupa, gaji “hot” tapi pekerjaannya stressfull dan dikejar target…itu bukan gue banget lho !!! Saya lebih suka kerja santai, tapi gaji “negotiable”..artinya kalau gajinya terlalu sedikit, yang punya perusahaan gua pelototin…hi..hi..hi…

    CISA dengan CISCO beda. CISA itu Certified Information Systems Auditor (lihat http://www.isaca.org), yaitu sertifikat untuk Information Systems Auditor. Bedanya CISA itu tidak terkait merk alias bebas merk, kalau CISCO kan secara tidak langsung mereka memperkenalkan merk mereka semua dari switch, router, bridge, dsb..

    Kalau anda ke Eropa ngambil S2 Business, ya mungkin nggak perlu sertifikasi. Soalnya tujuan anda kan di Manajemen, bukan di Profesional..
    Tapi mumpung anda masih muda, sebenarnya lebih baik ngambil Ph.D langsung aja lho, jangan cuman MBA doang karena di Jakarta ini MBA sudah “sepelemparan sandal”. Artinya, kalau anda melempar sandal kemanapun di jalan Syahdan, pasti 90% probabilitanya sandal tersebut akan menimpuk seseorang yang bergelar MBA. Kalau anda punya gelar Ph.D in Business, apalagi spesialisasinya Finance kayak Pak Roy Sembel, wah..bakalan enak jatuhnya lho…(apalagi ditambah dengan sertifikasi CFA level III, CFA = Certified Financial Analyst)..

    Di Bidang kerja tertentu, punya sertifikat lebih disukai daripada punya gelar. Karena punya sertifikat itu “siap pakai”, sedangkan punya gelar itu baru “siap tahu”… (tahu bedanya kan ?)..

    -> Steven : IPK anda di S1 Binus “sexy” nggak ? Kalau nggak sexy-sexy amat, lebih baik anda cuman ambil sertifikasi saja daripada ambil gelar S2 yang memakan banyak waktu, uang, dan pikiran…

    Kalau IPK S1 anda di Binus “sexy” artinya >= 3.50, anda sebaiknya ambil langsung Ph.D di bidang Business. Latar belakang pendidikan IT atau Teknik sekalipun nggak apa-apa untuk ngambil S2 di bidang Business asal syaratnya anda diterima oleh Universitas ybs lho !

    Point-nya adalah, untuk apa sih anda ngambil gelar S2 kalau S1 di Binus saja sudah empot-empotan? Apalagi ngambilnya di luar negeri, yang biasanya orang Indonesia sudah kalah set duluan dibanding orang China, India, Korea, dan Taiwan… Dapat nilai B saja sudah empot-empotan…

    Sekolah di Jerman dulu gratis, sekarang 1 semester harus bayar minimal USD 500 (di Univ Kalsruhe, nggak tahu univ yang lain). Di USA juga ada sekolah gratis sambil bekerja cuman modal USD 5,000 aja. Tapi kembali lagi, kalau mau melanjutkan studi ke LN IPK anda di Binus harus “sexy” dulu. Tanpa itu, hanya mendatangkan sakit di badan, pikiran, dan..kantong !

  • Agung // March 1, 2008 at 4:46 pm

    wah..!! iya donk pak.
    makanya saya ga mao wkt ditawarin ama yg empunya UPH buat bantu tantenya di Singapore.
    kan grup lippo lagi kenceng2nya tuh di Singapore,ampe2 di NUS aj ada Mochtar Riyadi Building.
    hehehe..!!
    soalnya kerja di lippo tuh uda kayak kerja bakti.
    Om saya,yang sangat dekat dgn keluarga Riyadi,emang gajinya selangit.
    tapi jam kerjanya tanpa batas.
    hehehehe..!!

    wah,spertinya saya tertarik dgn CISA.
    nanti mohon dijelasin lagi yah Pak scr langsung.
    hehehehe..!!
    (abis liat webnya aj ud pusing,ga ngerti)

    wah,kalo ampe Ph.D sih saya ga kepikiran pak.
    itu beyond my mind.
    hehehehe..!!
    lagi pula saya jadi bingung mao kerja apa nantinya.
    walopun saya sebenarnya tertarik untuk jd dosen (sebagai kerjaan sampingan).
    hehehehehe..!!
    tp saya akan pertimbangkan.
    (soalnya saya mao cepet2 nikah,Pak)
    hahahaha..!!

    wah,comment buat steven itu,jd kena ke saya juga.
    hehehehehe..!!
    kan IPK ga bisa menggambarkan kemampuan seseorang Pak.
    kalo kayak saya kasusnya gimana?
    toh,ini kuliah aja bener2 pake emosi semata.
    bahkan ampir ga pernah belajar.
    baru smstr 5 kemaren saya dapat motivasi.
    hehehehe..!!

    steven :
    di Jerman emank kebanyakan GRATIS.
    dan yang bayar tuh biasanya univ swasta.
    tp jgn salah.
    kalo mao ke Jerman tuh harus ada deposit,
    kalo gak salah kalo di rupiah tuh kira2 Rp.70juta (pdhl 5thn lalu cukup Rp.30jt).
    kalo ga,yah visa belajarnya ga keluar2.
    lagi pula biaya hidupnya lumayan lho.
    kira2 1000 euro per bln (kira2 Rp13jt).
    tp ini sekedar info saja.
    dan kalo mao ambil S2 komp (software),mending ke amrik.
    (kyk Bapak dosen kita yang tercinta ini)
    hehehehe..!!
    soalnya Jerman tuh (setau gw) lbh bagus hardware,engineering, mekanik,dan elektronik (mekantronik).
    yah,tp di amrik mahal sih.
    yahhh…!!
    pilih lah yang terbaik buat lo.
    ooo..iya!
    klo ambil S2 komp jg gw bingung hrs kerja apa.
    hehehehe..!!
    soalnya kalo baca vacancy di KOMPAS kbykan maonya S2 management ato business.
    hehehehe..!!

  • Tri Djoko // March 1, 2008 at 5:25 pm

    -> Agung : wah..anda udah jawab pertanyaan Steve..

    Kapan2 saya posting kerja sambil belajar di Amerika, baik S2 Computer Science maupun S2 Business..

  • stevenlockhart // March 2, 2008 at 3:14 am

    Agung:
    wah,kalo ampe Ph.D sih saya ga kepikiran pak.
    itu beyond my mind.
    kan IPK ga bisa menggambarkan kemampuan seseorang Pak.

    Wah kita sependapat nih..Saya setuju nih pak menurut saya IPK itu gk menggambarkan kemampuan seseorang..Menurut saya pengalamanlah yg lebih menggambarkan kemampuan.

    Saya aktif di organisasi dan saya kuliah,meskipun jm kuliah lebih bnyk dr jm organisasi tapi saya lebih bnyk mendapat ilmu di organisasi

    Wah pak hubungan Ph.D sm IPK apa ya pak??bukannya klo kuliah S2 itu gk melihat IPK sebelumnya?makanya yg IPKnya rendah diharapkan utk kuliah lagi.

    Sebenernya sih saya tertarik kerja di luar negeri karena diluar kan negaranya jelas lebih aman dr pada disini lalu perusahaannya lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan (Google cthnya).Dan mungkin sekaligus belajar hal2 baru dan melihat dunia..haha

    Klo utk ngambil S2 komp kykny gk dh..spt yg ud saya bilang di atas..

    Klo Australia prospeknya gimana ya pak??
    Wah boleh tuh pak ditunggu postingannya belajar di Amerika..

    Teman saya ada 2 org yg di sana,satu di Arizona sm satu lagi di San Diego..yg mereka keluhkan itu cuma tugasnya yang buanyaaakk..

  • Agung // March 2, 2008 at 7:55 pm

    Steven:
    wah,emank sih pengalaman perlu.
    tapi menurut gw bukan pengalaman di UKM ato HMJ,bro.
    mending lo coba2 kerja part time.
    itu pengalaman yg bnr2 berharga.
    soalnya gw pernah coba magang 2bln jd IT support di building management salah satu mall di tangerang.
    dan dr pengalaman magang itu,ORGANISASI TUH GA GUNA BUAT DUNIA KERJA.
    apa lg kalo nantinya lo mao mendalami dunia bisnis.
    aussie lumayan juga,kalo lo mao kerja di indonesia nantinya.
    tapi lo juga hrs pilih univ yg bnr2 bagus.
    contoh yg bgs: UNSW,curtin,ANU,univ of sydney,univ of melbourne,dll.
    pokoknya yg msh masuk 200 top univ versi THES.
    soalnya di luar itu,
    selain kualitas pendidikannya kurang bagus,
    takutnya ijazahnya ga diakui secara international.

    Pak Tri Djoko :
    Pak,maaf nih saya dan Steve banyak ngomong di topik yang ini.
    maaf sekali.
    hehehe..!!
    Pak,kira2 kalau Ph.D itu berapa lama yah?
    kalo master kan sekarang 1thn jg beres.
    menurut Bapak,abis lulus S2,mending nikah dolo br terusin Ph.D
    atau ambil Ph.D dolo baru nikah??
    hehehehehehehehehehhee….!!!!!!

  • tridjoko // March 2, 2008 at 8:26 pm

    -> Steve : Tentu dong IPK di S1 ada hubungannya dengan “prospek” keberhasilan anda kalau ngambil Master’s dan Ph.D nanti..

    Rule of thumbnya sebagai berikut : Jika anda lulus dengan predikat Honor atau Cum Laude yaitu IPK >= 3.5 maka sebaiknya setelah S1 anda langsung terus ke Ph.D; selainnya jika IPK >= 3.0 tapi < 3.5 lebih baik dari S1 ke S2 saja..; selainnya jika IPK S1 Agung: nikah dulu atau Ph.D dulu ? Saran saya nikah dulu dan punya anak yang banyak, dan jangan pernah memikirkan Ph.D ha..ha..ha..

    Lama program Ph.D kalau di US : 3 thn (very exceptional), 4 tahun (brilliant !), 6 tahun (average), dan 9-10 tahun (late !)..

  • Agung // March 2, 2008 at 8:52 pm

    ooo..!!
    iyah2,Pak.
    saya setuju juga sih,soal IPK itu.
    kalo gitu saya masih masuk golongan yang lanjut ke S2.
    hehehehehe..!!

    punya anak jgn banyak2 Pak.
    Bapak aja cuma 2 anaknya.
    orang tau saya aja cuma 3 anaknya.
    so,anak saya ga bole lebih dari anak orang tua saya.
    hehehe..!!
    aduh,
    kalo ampe 6thn proses Ph.D nya,
    aduh2 lama juga yah.
    hehehehe..!!

  • stevenlockhart // March 3, 2008 at 12:30 am

    Soal guna gak guna mungkin tergantung dari sudut pandang masing2 ya..kok saya malah melihatnya klo kuliah itu yg justru sebenernya gk guna..kuliah itu kita cuma utk melatih cara berpikir kita, makanya org kuliah sm org SMA cara berpikirnya beda..hahaha

    Yah ikut organisasi setdknya lumayan lah drpd jd kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) setdkny belajar ngatur waktu,bertanggung jawab thdp diri sendiri dan org lain,tmbh bnyk temen ( tmbh bnyk koneksi, haha), belajar profesionalisme..

    Apakah kuliah di aussie bagus hanya utk kerja di indo??gimana klo mau kerja di sana juga??cape bgt ud kuliah jauh2+mahal2 balik lagi ke indo

    Hoo jadi pengaruh IPK ke ambil master itu disitu ya??lalu pengaruh gk sama klo kita mau daftar S2??
    Org mau daftar kuliah aj gk diliat nilai SMAnya,yang penting tes,lulus,ya diterima..hehe

    Klo boleh tanya..Ph.D itu kelebihannya apa sih dibandingkan gelar master biasa??maklum masih awam..

  • Agung // March 3, 2008 at 8:57 am

    Steven:
    yah,itu tergantung dengan organisasinya.
    dan tergantung jg abis pulangnya ke mana abis kuliah.
    kalo gw liat2 sih di Binus.
    organisasinya ga worth it,kalo lo mao cari koneksi.
    mari kita berandai2 secara ideal (yang bagus2 aja).
    kalo ikut organisasi (kura2=kuliah rapat),kalo pulang (kupu2=kuliah pulang),kalo anak gaul (kunang2=kuliah nangkring).
    gw rasa singkatan itu ga sekedar singkatan,tp ada makna dari nama2 hewan itu.
    kura2,
    dalam organisasi kita dapat menyelami sosial kehidupan,sama kyk kura2 yang bs berenang dan bersahabat dgn habitat air.
    berjalan pasti,namun lambat,itu lah kalo kita ikut organisasi,kita akan berkembang amun lambat.
    kupu2,
    (dalam arti abis pulang,msh ada kegiatan lain,ga tidur n makan doank di rumah)
    punya warna indah dan berguna bagi bunga,maka itu lah image kita dalam keluarga.
    dapat terbang,itulah lambang dari perkembangan kita dalam koneksi dan skill.
    kunang2,
    (ini jg dalam arti nangkringnya di tempat2 yang positif dan nglakuin hal2 yang positif,termasuk part time)
    buat gw ini paling bagus.
    selain sama kyk kupu2 yang bs terbang.
    kunang2 juga bisa bercahaya,itu menandakan kunang2 bs lebih berguna lagi dan image lbh keren lagi.
    walopun,kupu2 dan kunang2 lebih sulit berkomunikasi,karena habitat udara tidak bersahabat,
    juga lebih mudah kehilangan arah.
    yah,itu cuma pengandaian ciptaan gw.
    semua ada baik n buruknya.
    tergantung kitanya mao sukses di bagian mana.
    pasti liat nilai lah.
    kalo ga salah IPK hrs >= 2,50.
    cuma ga gt pengaruh.
    kerja di aussie?
    tergantung lulus dgn degree apa dan dari univ mana.
    itu aja sih.
    lagian orang aussie rada2 diskriminatif ama orang indo.
    hehehehe..!!

  • tridjoko // March 3, 2008 at 1:31 pm

    -Steven & Agung : Wah..diskusinya jadi rame nih..ha..ha..

    Sebenarnya pointnya adalah, ikut kegiatan mahasiswa seperti HMJ atau UKM itu boleh-boleh saja, tapi juga harus seimbang dengan kemajuan dan prestasi sekolah anda dong !!!

    Contohnya saya, saya dulu terus terang banyak aktif di kemahasiswaan sehingga studi saya terbengkalai dan waktu lulus IPK saya cuman sedikit di atas 2.50. Rasanya nyesel karena lanjut ke S2 aja nggak bisa, karena harus ikut “masa percobaan” selama 1 semester..

    Kalau saya punya anak lagi kuliah, saya juga pasti nasehatin jangan terlalu banyak kegiatan kemahasiswaan. Ya harus seimbang lah dengan kegiatan perkuliahan supaya cepet lulus, dengan nilai bagus, dan tidak membuang-buang biaya dari orang tua. Ya kan ?

    Wah, Steven bilang IPK tidak ngaruh kalau mau melanjutkan ke S2. Salah atuh kang, karena kalau IPK anda tinggi maka credential atau CV anda bakalan “kelihatan” sama universitas yang mau anda masuki. Tapi kalau IPK anda kecil, siapa universitas yang mau nerima anda S2 ? Ini ngomong universitas di luar negeri lho, kalau universitas di Indonesia sih kalau anda punya duwit dan mau bayar, pasti anda akan masuk (kecuali UI tentunya yang masuknya lewat saringan super amat sangat ketat)…

  • Agung // March 3, 2008 at 8:19 pm

    hehehe..!!
    maaf yah Pak,kalo kita serunya di blog Bapak.
    harusnya di blog kita masing2.
    (abis judul blognya “ceritaku ceritamu CERITAKITA” ;)
    hehehehe..!!
    bener Pak,setuju banget sayah.
    IPK itu penting,walopun bukan satu2nya yang terpenting.
    kalo target saya,yg penting di atas 3.00 lah.
    Pak,UI uda komersial sekarang.
    masuk kedokteran yang konon paling susah ke2 setelah IT di ITB saja.
    sekarang bisa ada jalur khusus (tanpa SPMB).
    tinggal bayar 200jt,lgs masuk FK UI.
    malah rumornya, adadosen yang bisa terima amplop biar lulus mata kuliah.
    hehehehe..!!

    Steven:
    mao tambahin soal “penting ga sih kuliah?”
    selain pola pikir.
    emank kalo dari sudut ilmu n materi kuliah,itu gunanya cuma sedikit.
    tapi sekali lagi ini dependable.
    cuma ada 2hal penting yang sangat penting.
    yaitu GELAR dan IMAGE.
    tanpa gelar,kita mao kerja cuma dgn ijazah SMA?
    dengan gelar plg ga gaji lbh gede.
    dan tentu saja bisa nerusin ampe S3.
    dan yg ga kalah penting,IMAGE.
    gw rasa jaman sekarang semakin jarang ortu yg bolehin anak perempuannya nikah ama cowo tanpa gelar sarjana.
    makanya,biar pun ortu kita mungkin setajir Bill Gates,ato bahkan cuma tukang becak,ortu kita pasti bela2in kita buat kuliah ampe lulus.
    (gw ga pernah liat anak pebisnis ato pejabat ato artis tenar ato orang kaya lain yang ga kuliah).
    karena mereka tahu berapa harga sebuah GELAR dan IMAGE.
    hehehehe..!!

  • stevenlockhart // March 3, 2008 at 8:48 pm

    Haha bner tuh Agung..klo kata temen g sih, kita kuliah ini cari 4 hal:
    1. Cari pengalaman
    2. Cari gelar
    3. Cari koneksi
    4. Cari pasangan hidup
    hahaha..gk da ceritanya kuliah cari ilmu,karena sudah bukan rahasia lagi klo dunia kerja dan dunia kuliah itu JAUH berbeda..bhkn kata tmn g yg ud kerja, ilmu di kuliah itu cuma kepake 5% doang..sisanya ya gimana cara u improvisasi.

    Hoo…bgitu toh pak,saya baru tau..
    Bisa kasih penjelasan gk pak maksudnya “masa percobaan” satu semester itu apa??
    emang sih klo saya sebisa mungkin jgn sampe dibawah 3.00 deh..

    Oh iya, gimana tuh dgn soal diskriminasi??sewaktu bapak kuliah di Amerika ada diskriminasi gk pak??

  • Richard // March 4, 2008 at 1:03 pm

    sertifikasi apa seh pak yang bisa bikin ‘gaji’ wat kita naik lebih tinggi? ^^

    denger2 dah kebanyakan orang bergelar CCNA, jadi dah gak hot lagi…hahaha..
    yah gw seh setuju aja dengan pendapat2 di atas, di dunia kerja sekarang, lebih melihat ‘kertas’ daripada equvalensinya dengan ‘otak’ terutama di Indonesia…hahaha

    tapi klo emang kita punya tekad, why not success without ‘gelar’…
    cth
    andrie wongso…

  • tridjoko // March 4, 2008 at 8:13 pm

    -> Steven : “masa percobaan” (pribation) itu mempunyai 2 makna. Pertama, orang ditempatkan dalam status percobaan/bersyarat/probation jika ia diterima di suatu perguruan tinggi di Amerika misalnya, tetapi latar belakangnya kurang mendukung dengan bidang ilmu dimana kita mau ambil Master’s atau Ph.D. Misalnya, saya dulu tidak mempunyai background di Comp.Sci karena saya dari Statistics, tapi mau masuk Comp.Sci makanya ditempatkan dalam “status percobaan” dan hrs mengambil 15 credit hours (Data Structures, Computer Structure and Assembly Language, Computer Programming (LISP), dan Discrete Math). Pengertian kedua, seseorang ditempatkan di dalam “masa percobaan” jika IPK atau GPA (Grade Point Average)-nya di bawah standard, yaitu di bawah 2.00 untuk undergraduate (S1) dan di bawah 3.00 untuk graduate (S2 dan S3). “Masa percobaan” hanya berlaku dalam 1 semester dan jika kita tidak bisa melewati masa itu, sudah pasti akan di-kick out atau di-expell dari kampus !!!

    Mengenai diskriminasi, menurut pengalaman saya diskriminasi itu tidak pernah terang-terangan tapi kita bisa merasakannya. Kalau karena kita orang Asia lalu tidak boleh masuk di suatu restoran misalnya, dan itu dilakukan dengan terang-terangan, maka kita panggil polisi dan orang yang punya restoran itu bisa ditangkap karena melanggar undang-undang. Tapi 3 tahun di Amerika saya tidak mengalami hal diskriminasi seperti itu, tetapi jika berjalan di malam hari saya sering ditereaki sama anak-anak muda yang sambil bawa mobil ngebut. Tapi mungkin mereka mabuk, dan hal ini tidak bisa diartikan sebagai diskriminasi..

    RICHARD :
    Wah, mestinya orang tua anda pasti sangat menyesal karena banyak anak Binus yang kuliah “karena terpaksa” dan belum punya kesadaran bahwa gelar atau ijazah itu penting. Saya ingat di jaman dulu ada cerita, bahwa di kalangan orangtua itu ada 2 pilihan. Jika punya anak pinter, maka sekolahkan sampai mentok misalnya S1, S2 atau S3. Jika punya anak bodo, ya suruh buka toko aja jualan handphone ! Nah, anda termasuk yang mana ?

    Saya pernah denger ceramah motivasi oleh Andrie Wongso, dia dulu sering diundang sama Binus untuk memberikan motivasi waktu ada rapat-rapat pimpinan Binus di Puncak atau di Sukabumi. JANGAN BANDINGKAN SEMUA ORANG DENGAN ANDRIE WONGSO. ANDRIE WONGSO itu motivasi poll banget, ibarat mobil kecepatannya 260 km per jam !!! Kalau anda ibarat mobil kecepatannya cuman 120 km per jam ya nggak mungkin sukses tanpa kuliah dan dapat gelar karena motivasi anda biasa-biasa saja..

    Dengan memperoleh gelar atau ijazah, MINIMAL CALON MERTUA AKAN LEBIH MENGHARGAI KITA. Saya kira hanya sedikit calon mertua yang menghargai orang yang tidak punya gelar atau ijazah, walaupun hartanya tak terhitung !!!

    Sertfikasi apa yang membuat gaji anda naik banyak ? Kalau anda mau mendengarkan saya, anda harus punya 3 sertifikasi yaitu CISA, CISM dan CISSP.

    Tapi itu kalau anda percaya sama saya. Banyak orang telah sukses karena mendengarkan apa yang saya sarankan. Tapi kalau anda nggak percaya sama saya juga gpp, tanya aja orang lain yang lebih anda percaya !

    Ok ?

  • Agung // March 4, 2008 at 10:09 pm

    kalo saya sih percaya 98% ama Bapak.
    (99%nya buat keluarga,dan 100%nya buat TUHAN).
    hehehehe..!!
    cuma soal sertifikasi gt,saya maonya sih cari yg murah n kemungkinan lulus dalam sekali test lebih besar.
    (maklum soal kyk gini saya mao pake uang sndiri).
    ada gak tuh Pak sertifikasi yang murah dan mudah testnya (yg tentunya cocok dgn cita2 saya)??
    hehehehehe..!!
    ternyata si richard kurang realistis hidupnya.

    richard:
    gw cuma saran yah.
    andrie wongso tuh cuma satu dari jutaan org yg nasibnya baik.
    lagian andrie wongso dan kita tuh jamannya beda.
    jaman skrg cm andalkan bakat dan tekat,ga guna.
    orang liat gelar.
    terusin ibarat buatan Pak Tri Djoko,
    andrie wongso mobil 260km/jam dgn jalanan sepi,kita cm 120km/jam itu pun macet di mana2.
    hehehehehe..!!
    makanya uda gw tulis di atas,
    anak konglomerat aja kuliah.
    bahkan Prince Harry n Prince William aja kuliah.
    padahal tanpa kuliah aja mereka uda pasti dpt warisan ratusan juta pound dr royal kingdom,
    ditambah ud punya gelar PRINCE dr kerajaan dr mereka lahir.
    tapi mereka malah merasa butuh gelar BACHELOR di belakang namanya.
    malah mereka lbh extrim,ga cukup dgn Prince dan Bachelor.
    mereka malah masuk militer.
    hahahahaha..!!
    so,mereka aj msh pentingin gelar akademis.
    gmn kita bs ngrasa begitu sombong dan bilang “gw bs sukses tanpa gelar sarjana”?
    dan mslh calon mertua,ud dibahas 2x di atas,jd ga perlu dibahas lg.
    hrsnya kita bersyukur bisa kul.
    anak tukang becak aj kuliah.
    tp ga perlu extrim2 amat bersyukurnya.
    hehehehe..!!

  • tridjoko // March 5, 2008 at 8:49 am

    -> Agung : Sertifikat yang paling murah dan sekali test lulus adalah….SERTIFIKAT NIKAH !!!

    He..he..anda tinggal pergi ke kantor urusan agama, mengajukan permohonan disertai persyaratan administrasi, dan mengucapkan kata-kata yang sudah dibisikkan sama penghulu…dan sahlah pernikahan anda dengan pasangan anda..ha..ha..!!

    SEMUA SERTIFIKASI SULIT LULUSNYA dan justru itu yang membuat sertifikasi itu jadi KEREN. Sertifikasi CCNA-pun atau MSNE-pun yang kira-kira bayar USD 150 (Rp 1,4 juta) tidak mudah lho. Banyak teman saya yang mencoba mengambil sertifikasi itu dan langsung gagal dan sampai sekarang nggak nyoba lagi..kapok !!

    Sertifikasi CISA-pun rata-rata harus diambil 2-4 kali baru lulus. Saya punya 2 teman orang BPPT yang sekali ngambil ujian CISA langsung lulus, tapi keduanya lulusan Amerika, dari universitas yang top lagi, satu dari Texas A&M dan satu dari Purdue. Temen saya yang lulusan Belanda 2 kali ngambil CISA dan belum lulus. Teman lainnya lulusan Jepang ngambil 2 kali baru lulus..

    Kembali ke Andrie Wongso, beliau itu hanya memberi motivasi “Bahwa saya yang cuman kayak gini, SD nggak lulus, toh dengan kerja keras (dan “luck” ;) akhirnya berhasil men-set up beberapa perusahaan seperti kartu Harvest, Young & Trendy dsb”. TAPI PERNYATAAN ITU JANGAN DIBALIK, yaitu “Sukses itu tidak perlu sekolah, apalagi tidak perlu gelar”…(p –> q tidak sama dengan q –> p kalau istilah matematikanya sih…)…

    Saya kira Andrie Wongso sendiripun pasti tidak setuju pernyataan bahwa tidak perlu sekolah untuk sukses. Ada implikasi dari pernyataan Andrie Wongso di atas bahwa, “Jangan tiru saya, sekolahlah yang baik, kalau bisa setinggi-tingginya. Ditambah dengan motivasi yang saya ajari, dengan kerja keras, pikiran terbuka, mau menerima saran dari orang lain, mudah-mudahan anda akan sukses dalam hidup, sukses dalam bisnis, dan sukses dalam karir anda”..

    Kalau nggak percaya dengan yang saya katakan barusan, coba kita panggil Pak Andrie Wongso untuk berbicara lagi di Kampus Binus (tentunya, Binus yang mbayarin, jangan saya !! Muahaaall euy !!)..

    ha..ha..ha..

  • Resa // March 6, 2008 at 12:43 am

    heheh bener tuch ngambil sertifikasi banyak yang berkali2 apalagi CCIE-nya Cisco.. yang penting sich niat belajar.. gw aja lucky bisa ngambil CEH sekali tembak jebol… :D pengen nyobain CISA and next destination CISSP … :D (mimpi kali yee)

  • Agung // March 6, 2008 at 1:07 pm

    salah Pak,
    justru sertifikat nikah itu juga susah.
    bayangin,hrs pny gelar S2 (syarat dr ortu saya).
    harus pny rumah n mobil pribadi dengan penghasilan di atas Rp10jt sbulan.
    belom lagi di Gereja Katholik Roma,kalo mao nikah ada kursus perkawinan dan lain2.
    resepsinya aja bisa abis Rp 50jtan.
    hehehehehe..!!!!

  • Agung // March 9, 2008 at 2:02 pm

    Resa :
    kalo CEH itu tentang apa yah?
    susah ga?

  • richardwilliam // March 13, 2008 at 2:40 pm

    wah sip2 jadi tergugah ^^ thx pak
    Agung : setuju!! sertifikat nikah itu mahal Pak..and prosesna juga lama lagi..hehehehe
    oiy rata2 masa “berlaku” sertifikasi itu berapa lama yah Pak? maseh newbie ttg ginian seh ^^

  • Ir_WIN // March 26, 2008 at 2:18 pm

    Halo Pak salam..

    Saya senasib dengan Bapak untuk nilai S1 sekitar 2,5 :( untuk lulusan SI Komputer.
    Wah kebanyakan cari cewex dulunya di s1. Sadar2 nya pas dah semester 8 an. WKKWKWK.

    Saya sekarang yang sudah ada pengalaman kerja di Swasta hampir 2 taun dan ingin meneruskan s2 or sertifikat.

    Dan target saya setelah memperbaiki IPK yg tidak sexy akan masuk ke PNS.
    ( Utk PNS Min IPK nya sekitar berapa ya ?)

    Untuk S2 or Sertifikat yg tepat untuk saya apa ya..? Ambil S1 Komputer lulus nya ada sudah empot-empotan… gimana Klo ambil lagi S2 Komputer ya..

    Untuk PNS apa masih dilihat S1 nya atau S2 nya saja Pak?

    Masih bingung mau ambil yang mana..?
    Apa kawin dulu aja ya,, WKWKWKWKWK

    SALAM utk teman2 S1
    SUKSES Bro!

  • arip1982 // March 27, 2008 at 3:39 pm

    Salam kenal pak,
    saya adalah mahasiswa binus jur SI, saat ini masih di smes 8 , wah keliahatan dari sems yang ditempuh akan berfikir seharusnya sudah skripsi, kenyataannya blum waktunya, karena saya masuk kelas reguler malam yang terbatas jumlah SKS-nya untuk dapat diambil tiap semesternya…..

    Saya tertarik dengan topik yang bapak ambil setelah S1 melanjutkan kuliah atau ambil sertifikasi???

    Saat ini saya masih kerja sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah,
    1 ) menurut bapak apa yang harus saya lakukan? ambil sertifikasi untuk pengalaman atau ambil kuliah S2,

    2) dan jika saya melanjutkan ke kuliah S2, jurusan apa yang kira-kira berhubungan dengan latar belakang ilmu saya di jurusan SI??

    3)jika saya ambil/mencari beasiswa ke LN kira-kira ke negara mana??

    Ir_Win, knp tertarik jd PNS ??, jika km masuk jadi PNS akan masuk ke golongan pangkat III/a, dengan gaji pokok kalo gak salah sekitar Rp. 1,2-1.4 jt an,-

    S1 dan S2 , pengaruh kepangkatan masuk, jika S1 akan masuk menjadi PNS pangkat gol III/a dan S2 akan menjadi pangkat PNS gol III/b, latar belakang pendidikan akan mempengaruhi juga dengan pangkat maksimal yang akan ditempuh.

    Perbedaan gaji pokok antar pangkat gol III/a dan III/b tidak beda jauh kok..

  • tridjoko // March 28, 2008 at 5:20 pm

    –> Resa : wah..beneran nih anda sekali nembak sertifikasi CEH langsung jebol ? Kalau anda sudah punya sertifikasi CISSP dan CISM lalu nembak CEH langsung jebol, saya sih nggak heran. Tapi nembak CEH langsung jebol, wah anda cocok untuk kerja di salah satu dari “Big Four” nih (PwC, E&Y,KPMG,Deloitte)…

    –> Agung : CEH tuh “Certified Ethical Hacker” jadi hacker “aliran putih” semacam gitu lah ! Ingat buku novel Kho Ping Ho kan ? Kan ada “pendekar aliran putih” yang selalu berbuat baik, dan ada “pendekar aliran hitam” yang selalu berbuat jahat. Jadi CEH ini hacker, tapi untuk maksud-maksud yang berguna bagi orang lain (salah satu tugasnya adalah “memberantas hacker aliran hitam yang sukanya merusak ini dan itu”)…

  • tridjoko // March 28, 2008 at 5:30 pm

    –> Irwin : Salam juga Win !

    Wah, usahakan S1-mu cepet selesai ya nak, tuh orangtuamu sudah nunggu supaya anda cepet lulus (begitu juga, camer - calon mertua - sudah nunggu tuh)…

    Wah, nilai jelek karena kebanyakan “cari cewek” ? Aha, mata kuliah apa itu “Cari Cewek”, wah pasti sks-nya besar ya….ha..ha..ha..

    Belum telat untuk memperbaiki IPK-mu yang sekarang baru sekitar 2,50. Sayang anda tidak menyebutkan dimana anda kuliah Ilmu Komputernya (coba saya tebak : UI, IPB, UGM ?), sehingga saya sulit memberikan masukan yang “cespleng”…

    Syarat masuk PNS minimum IPK adalah 2,75 ! Tapi ingat, jika semua saingan anda IPK-nya 3,25 - 3,70 untuk masuk PNS, hitung sendiri berapa peringkat atau peluang anda untuk tembus…

    Saran saya ada dua :
    1) Tingkatkan IPK S1 hingga 2,75 kalau bisa, lalu coba masuk PNS 2) Jika dengan IPK 2,75 anda belum bisa masuk PNS –> lupakan saja dan go on with your life, masuklah swasta, lalu ambil sertifikasi (CISA atau CISM lebih tepat). Kalau anda masih punya dana, langsung melanjutkan ke S2 Ilmu Komputer juga boleh. Kalau S2 Ilmu Komputer terlalu ngeri, boleh ambil yang lebih mudah dari S2 Ilmu Komputer, yaitu S2 Sistem Informasi (kuliahnya lebih mudah, tapi penghargaan perusahaan/kantor pemerintah, sama saja). Nah, lulus S2 kan harus minimal IPK 3,00 –> setelah itu anda bisa masuk PNS dan kans anda akan jauh lebih besar dengan ijazah S2 di tangan untuk masuk PNS karena berdasarkan pengamatan saya, calon yang mau masuk jadi PNS itu lebih dari 50% sudah dengan ijazah S2 !!! Believe it or not !!!

    Kalau anda nikah dulu, dan isteri anda pengertian dan tidak terlalu nuntut anda kerja setengah mati cari duwit –> pasti kans anda untuk melanjutkan S2 tinggi. Else –> del *.*

    He..he..he…

  • tridjoko // March 28, 2008 at 5:35 pm

    –> Arip : Salam kenal juga Rip !

    Wah, anda nggak lulus-lulus S1 Binus jurusan SI menurut saya bukan karena anda bodoh, tapi karena sudah keburu masuk kerja jadi PNS. Mestinya anda tetap kejar itu gelar S1 Binus secepatnya, biar kamu sendiri, pacar kamu, orangtua kamu, dan calon mertua kamu senang..

    Ngambil sertifikasi CISA atau CISM syaratnya adalah anda sudah sarjana (lulus S1), selain itu ngambil sih bolah-boleh saja cuman sertifikatnya yang nggak bakalan diberi sama ISACA (organisasi yang mengeluarkan kedua sertifikat tersebut).

    Jadi saran saya, selesaikan S1 dulu. Lalu apa tujuan anda, jangka pendek atau jangka panjang ? Kalau jangka pendek, ambil sertifikasi CISA atau CISM. Kalau jangka panjang, ambil S2. Tapi karena saat ini “kedua kaki” anda sudah “terikat” ke PNS, kayaknya ngambil S2 lebih bagus karena nanti akan berpengaruh sebagai golongan gaji anda di PNS. Sedangkan kalau anda lulus CISA atau CISM sekalipun, sebagai PNS nggak bakalan ngaruh apa-apa..

    Itu pendapat saya lo !

  • aldi // March 29, 2008 at 12:11 am

    terima kasih pak atas masukkannya pak…
    maaf pak arip1982 itu nama alamat blog saya arip1982.wordpress.com, maklum masih newbie dalam dunia blogging

    emang sih klo CISA atau CISM di dunia PNS sih gak ngaruh pak :) he he he… kecuali mau eksis di dunia perusahaan/swasta :)

    arip1982.wordpress.com

  • tridjoko // March 29, 2008 at 12:06 pm

    –> Aldi : Arip eh Aldi, kalau anda sudah PNS dan nantinya akan dapat gelar S1, gelar sertifikasi CISA dan CISM tidak akan ngaruh di karir pegawai negerimu, paling copy sertifikatnya akan disimpan di Biro SDM. That’s all (how stupid, is it ?)

    Tapi CISA dan CISM bisa anda gunakan untuk “ngasong” (moonlighting) cari pekerjaan di luar sehingga mendapatkan tambahan penghasilan (baca blog lama saya : pengembarasenja.blogspot.com). Di kantor saya, teman-teman yang sudah lulus sertifikasi CISA dan CISM jadi “enak jatuhnya” : mobil baru masih bau Jepang, gadget seperti laptop dan hp terbaru sudah pemandangan sehari-hari, dan bisa kesana kemari dibayarin orang…

  • Agung // March 29, 2008 at 12:22 pm

    wow…!!!
    pembicaraan tingkat tinggi.
    hehehehe..!!
    duh,kayaknya kalo dalam “kasus hidup saya” sertifikasi bukan infestasi yang baik deh Pak.
    mending lgs hajar S2 aja n cari kerja di luar sana.
    mudah2an pulang bawa banyak duit n buka usaha di sini.
    yah,minimal terusin usaha Papa saya.
    dengan jadi dosen sebagai sambilan.
    hehehehehe..!!

  • tridjoko // March 29, 2008 at 4:28 pm

    –> Agung : belum tentu, saya barusan dapat pemberitahuan dari ISACA bahwa biaya ujian CISA adalah USD 530 (non member) dan USD 375 (member). Kalau nanti waktu lulus jurusan ganda Binus anda punya duwit segitu, dan nganggur, kenapa nggak coba ujian CISA ? Minimal anda akan tahu CISA itu binatang apa…ha..ha..

    Langsung S2 di luar negeri dan akhirnya kerja di luar negeri juga rencana yang baik, tapi ingat ngambil S2 di luar negeri “credentials” anda (IPK,nilai Toefl, nilai GMAT/GRE) harus “sexy”, kalau nggak bagaimana yang di luar sana bisa nerima anda ?

    Setelah banyak duwit, pulang ke Indonesia, buka warung, dan menjadi dosen sebagai sambilan : wow…sounds like a good plan !

  • Aldi // March 29, 2008 at 4:48 pm

    Sertifikasi CISA dan CISM tidak mempunyai pengaruh apa-apa di lingkungan pemerintahan / PNS, Dan kenyataannya PNS sulit buat mengandalkan gaji dari negara. Setidaknya jika bisa kerja sambilan diluar selama tidak mengganggu tanggung jawab utama sebagai PNS dan bekerja dari usaha dan keahlian, keterampilan, dan citra PNS mudah2an lebih terangkat karena kemampuan dan keahliannya :) bukan dari KKN

  • Agung // March 29, 2008 at 7:57 pm

    SEP…!!!
    IPK saya bentar lagi sexy Pak.
    lihat saja nanti…!!!
    hahahahahahaha..!!!
    soal TOEFL,kalo adek saya yang jauh bgt lebih OON dr saya soal englishny aja bisa dapet 465,
    yah,nilai saya kurang lebih +100 dari dia deh.
    hahahahahahaha…!!!

    ga sembarang warung Pak,
    saya mao buka warung ethanol dan minyak jarak.
    yah kalo saya dapet warisan dari kakek,saya mao beli tanah buat nanem jarak dan jagung.
    jaraknya buat bikin minyak jarak gantinya solar.
    dan jagungnya diolah dan disuling jadi ethanol gantinya bensin.
    sambil terusin usaha Papa di bidang industri alat berat.
    dan jadi dosen di UPH.
    hahahahahaahhahahaaa….!!!!
    hidpu emank sll indah kalo di rencana.
    kenyataannya,saya cuma bisa berserah ama yang MAHA KUASA..!!
    hahahaha..!!

  • tridjoko // March 29, 2008 at 8:25 pm

    –> Aldi : wah…anda sudah di “brain drain” dengan P4 ya ? Ha..ha..ngomongnya sudah kayak pejabat…

    –> Agung : menentukan warung bisnis yang berhubungan dengan teknologi itu susah-susah gampang. Mestinya anda ngomong dengan orang yang ahlinya, macam Pak Tri Djoko ini. Teknologi itu harus dilihat prospeknya atau roadmapnya ke depan (10-25 tahun ke depan) seperti apa ?

    Menurut saya ethanol dan minyak jarak bakal feasible jika harga minyak > USD 90 per barrel. Kalau harga minyak jatuh < USD 90 per barrel, otomatis bisnis ethanol dan minyak jaraknya bakal rugi. Saya baca di koran, pemerintah belum memberi insentif semestinya semacam “tax holiday” kepada pengusaha biofuel (ethanol + minyak jarak), jadi mereka yang sudah jadi pengusahapun sudah banyak ngeluh kepada pemerintah karena sudah kebayang merugi…

    Kalau mau, lebih baik anda bisnis FUEL CELL yang mulai banyak terdapat di mobil-mobil hybrid masa depan macam Toyota Prius yang di Amerika sudah laris kayak kacang goreng. Karena fuel cell itu energi bersih dan ramah lingkungan, mirip biofuel tapi lebih pasti masa depannya dan “tidak banyak politik”..

    Yah, man proposes God disposes. Manusia boleh merencanakan tapi Tuhan jua yang menentukan.

    As long as you’ve already have a plan, that sounds good…

  • Agung // March 30, 2008 at 8:21 am

    nah,
    makanya saya berani ngomong di blog Bapak ini.
    karena feeling saya,saya akan dapet pencerahan dari Bapak.
    hahahahahaha…!!
    ternyata bener juga.
    soal biofuel emank belom dapet dukungan pemerintah sekarang2 ini.
    tapi saya pikir,”warung” saya nanti mungkin akan saya jual ke singapur ato malaysia,kalo misalnya orang2 pertamina ga seneng dengan biofuel.
    menurut saya sih,seharusnya harga biofuel ga perlu tergantung ama harga minyak dunia.
    kita lihat dari harga prosesnya aja.
    jelas,pemrosesan minyak bumi sampe jadi solar ato bensin lebih mahal dari pada buah jarak jadi minyak jarak ato jagung jadi ethanol.
    mungkin teknologi yang efisien pemrosesan yang mungkin akan saya jadikan tender nanti.
    fuel cell juga ide yang bagus.
    cuma saya belom tau dalem2nya soal teknologi itu.
    hehehehehehe..!!
    satu lagi Pak.
    PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MANUSIA.
    buat gantiin PLTU yang pake BBM.
    selain ramah lingkungan,bisa mengurangi pengangguran,dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
    kira2 kalo 5000 orang goes sepeda statis bisa ga yah nghasilin listrik 50Mega watt???
    hahahaha..!!
    itu yang belom saya pikirin teknologinya.
    yang jelas kalo soal pemasaran dan managementnya saya uda rancang.
    (*makanya Pak IPK saya ga se-sexy tmn2 saya,saya kbykan mikir yang aneh2 sih. hahahaha..!!*)

  • tridjoko // March 30, 2008 at 1:38 pm

    –> Agung : saya banyak bergaul dengan orang yang menggiatkan industri biofuel atau biodiesel, makanya dikit banyak saya tahu apa yang mereka pikirkan. Sebagus-bagusnya teknologi, dan sebagus-bagusnya teknologi proses yang dilalui, pada akhirnya ongkos produksi juga (dan juga pasar) yang menentukan..

    Makanya, engineer itu selalu kalah sama accountant. Coba baca “Lee Iacocca : An Autobiography”, Lee itu adalah Direktur Teknik Ford yang punya ide-ide cemerlang, tetapi malah dipecat sama yang punya Ford karena idenya “mahal” alias perlu dana banyak. Setelah dia jadi CEO Chrysler, maka instinknya sebagai engineer hidup lagi dan dia mulai meluncurkan mobil MiniVan yang laku keras di pasaran Amerika..

    Saya kira di Binus, para engineer juga sudah kalah sama accountant (sorry to say). Artinya in the end, business is much more important than technical matters..

    Pembangkit Listrik Tenaga Manusia (PLTM) ? Wah, sounds a good idea. Brarti, kita kembali ke jaman Fred Flinstone dong ! Ya ba da ba doooo…!

    Kalau 5000 orang mengayuh sepeda buat menghasilkan listrik itu saya kira listrik yang dihasilkan baru 5 Megawatt. Celakanya, begitu listrik nyala –> ke 5000 orang tadi sudah pingsan !!!! He..he..jadi buat apa listrik nyala…

    Kalau saya pribadi melihat banyaknya penduduk Indonesia, paling efisien adalah PLTN (tenaga nuklir). Mengenai bahayanya memang harus dipikirkan keras-keras, tapi Korea dan China sudah menggunakan PLTN dan listrik mereka terang benderang dan dengan harga yang relatif murah..

    Kalau ada protes dari penggiat lingkungan, ya emang sekali lagi : engineer kalah sama environmentalist !

    Kalau udah mau lulus, mikir yang enggak-enggak harus segera dihilangkan supaya IPK-mu jadi “sexy”…

  • Agung // March 31, 2008 at 8:56 am

    yah,itu baru ide Pak.
    kita ga tau masa depan biofuel 5 ampe 10 thn ke depan.
    saya harap sih cerah2 saja ide saya.
    hehehehe..!!
    saya emank akan lebih pikirin sistem management dan keuangannya (pemasaran,penjualan,dan biaya produksi).
    asal tuh minyak bisa bikin mobil jalan normal tanpa ngrusak mesin,langsung hajar.
    hehehehehe..!!
    makanya nanti saya nuntut ilmu dari orang2 erpa dolo.
    baru pas pulang.
    hehehehehehe..!!!

    yah,abis dr pada banyak yang ga makan Pak.
    mending saya gaji buat goes sepeda statis yang bs nghasilin listrik.
    hehehehehehehe..!!!
    mungkin perlu ada penelitian untuk efisiensi produksi energi dari per satuan sepeda statis.
    yah,tapi itu cuma ide2 gila saya.
    abis di indo kalo ga gila,pasti jadi sableng.
    kalo ga sableng,yah gendeng.
    hahahahaha…!!

  • tridjoko // March 31, 2008 at 9:26 pm

    –> Agung : ya Gung, kayaknya anda sudah rada-rada sekarang…soalnya kebanyakan mbaca blog yang nggak ada juntrungannya ha..ha…

    Saya dulu pernah nemu buku bagus di toko buku Korea, kalau nggak salah judulnya “Prepare your project portfolio” harganya sekitar W 35,000 (Rp 240.000). Tapi mau saya beli, lupa lagi tempatnya. Padahal buku itu pasti cerita tentang bagaimana men-start sebuah project yang probabilitas berhasilnya lumayan besar…

  • Agung // March 31, 2008 at 10:26 pm

    rada2 mah uda dari dolo Pak.
    hahahahahahahaa….!!!!
    yah,soal ide mah banyak banget di otak.
    cuma susah keluarinnya.
    dan juga ga compatible ama situasi dan kndisi di indo.
    hehehehe..!!
    justru blog ini bikin saya jadi sadar seberapa “rada2″nya saya.
    dan bikin saya sedikit waras.
    hehehehehehehe..!!

  • tridjoko // April 1, 2008 at 7:34 pm

    –> Agung : Wah…kalau anda sudah merasa “sedikit waras” itu tandanya anda sudah harus segera periksa ke dokter…ha..ha..ha…

    Makanya jadi dosen terus kayaknya saya jadi “rada-rada”, makanya ini saya sering jalan ke luar kota biar sedikit “waras”…

    Emang, tidak hanya mesin motor, tapi otakpun perlu sering-sering di-”tune-up” dan “ganti oli” hi..hi..hi…

  • Agung // April 1, 2008 at 10:18 pm

    hehehehehehe..!!
    yah,makanya saya sering2 ke UPH sekarang2 ini.
    selain cuci mata dan otak,saya juga dapat byk ilmu lho.
    hehehehehehe..!!
    sekarang lagi di Madiun yah Pak?
    wah,pulang ke hometown dong yah?!
    hehehehehe..!!

  • tridjoko // April 2, 2008 at 9:47 pm

    –> Agung : nyuci mata di UPH ? Are you kidding ?

    Saya pernah barang 1-2 jam menanti isteri saya yang ikut seminar di UPH, selama itu saya mengamati para mahasiswa-mahasiswinya. Kayaknya anak2 UPH lebih tajir2 dari anak Binus in general. Tapi face-wise, I should admit that Binusian have much more advantage (no offence to UPHers…)..

  • Agung // April 3, 2008 at 7:26 am

    but it depends,Sir.
    tergantung Bapak nongkrong di mana di UPHnya.
    yang bagus tuh anak2 FISIP ama tourism Pak.
    hehehehe..!!
    bisa dibayangkan,saya kalo ke UPH.
    nongkrong di gazebonya.
    di mana cewe cakep + pohon2 hijau itu uda kayak surga (di mana di BINUS sangat gersang,dan pohonnya dikit).
    trus makan niku udon di food junction.
    wah,indah tenan Pak.
    terus jalan2 ke gym,soccer field,dan perpusnya.
    mantap deh pokoknya.
    hehehehehehehehe..!!

  • tridjoko // April 3, 2008 at 10:19 pm

    –> Agung : Saya nongkrong waktu itu di mobil saya di tempat parkir. Yang saya amati mahasiswi yang lagi ngambil mobil..

    UPH lebih hijau ? Memang rumput tetangga lebih hijau sih..ha..ha..

    Dulu di Binus ada pegawai yang tugasnya merawat tanaman, namanya Haji Mahdi, orang sekitar kampus. Tapi ia sudah pensiun dan tidak ada lagi yang bisa merawat dan menggandakan tanaman akibatnya kampus Binuspun semakin gersang…

    Tapi kalau mau berharap, saya pengin kampus Binus banyak hutannya macam di UI Depok, dan macam kampus saya dulu di Indiana…

  • Agung // April 3, 2008 at 10:46 pm

    yah…!!!
    justru yg bagus2 tuh ada di food junction,
    di sekitar gedung D.
    ama di gym.
    rumput tetangga emank selalu terlihat lebih hijau,daripada rumput sendiri.
    hehehehehehehehe..!!
    iyah Pak,
    menurut saya yah Pak.
    univ tuh emank bagusnya di pinggiran kota.
    di mana ga gt padat dan byk space buat pohon2.
    yah,tapi karena Binus dapetnya di situ,
    yah,gpp sih.
    toh,uda byk mahasiswa yang bertahan dan bisa lulus dgn baik.
    semoga saya pun demikian.
    hehehehehehe..!!

  • tridjoko // April 4, 2008 at 10:50 am

    –> Agung : Whaaaaaatttt ? Anda melihat-lihat mahasiswi di Gym ? Ya ampun, saya nggak sadar anda segitu “parah”nya ?

    Saya jadi ingat beberapa film Prambors jaman dulu yang setiap Sabtu selalu diputar ulang di TV Malaysia dan Singapore yang banyak view-nya waktu ketiga tokoh Warkop lirak-lirik cewek di Gym…

    He..he..he…apakah anda anggota Warkop yang baru Gung ?

    Iya, saya rasa Binus juga terlalu gersang, sementara ini memikirkan gedung dulu, sedangkan taman barangkali nanti ada yang memikir Gung…

  • Agung // April 4, 2008 at 10:58 am

    yahhh…!!!!
    maaf atuh Pak,kalo gitu mah.
    hahahhahahahahahha….!!!!
    ga se”parah” itu lah.
    kan cuma cuci mata,bukan bikin otak kotor.
    hahahahahahahaha….!!!!
    saya malah ga tau tuh soal film warkop yang itu.

    wah,soal penghijauan kampus,
    menurut saya uda ga mungkin Pak.
    uda terlalu padat,dan lahan Binus tuh ga “bulat”.
    jadi sangat sulit.
    yah,selama masih ada pemandangan lain yang lebih hijau dari pohon oak di inggris sana.
    masih OK lah buat saya.
    hehehehehehehe….!!!!!

  • tridjoko // April 4, 2008 at 3:50 pm

    –> Agung : satu-satunya jalan adalah dengan “teknik montase” seperti di TV itu, misalnya gambar seorang penyiar yang di belakangnya ada jalan raya dengan mobil berseliweran, padahal sebenarnya di belakang penyiar itu kan cuman layar kain berwarna biru saja (hal detail tentang hal ini, silahkan nanya ke mahasiswa DKV)…

    Jadi, di belakang dan samping kampus Anggrek itu bisa dipasangin layar kain tinggi dan digambar pohon-pohon berupa hutan, sehingga kalau difoto dari jauh kampus Anggrek seolah-olah seperti di tengah hutan…ha..ha..ha..

    Minimal mimpi saya kampus Binus berada di tengah hutan tercapai..ha..ha..

  • Agung // April 4, 2008 at 4:40 pm

    ternyata Bapak juga “pecinta penghijauan” juga yah?
    hehehehehe..!!
    waktu Binus mao beli lahan di BSD,saya uda seneng2 aja.
    soalnya kan BSD deket dr rumah saya,dan BSD msh lebih adem drpd Kemanggisan.
    “wah,Binus buka kampus di BSD”,pikir saya.
    eh,malah jadinya Binus School.
    yah,kalo pake layar segede gt.
    malah jadinya panas.
    cuma sugesti aja adem di mata,karena liat byk pohon ijo2.
    tapi aslinya msh ada emporium,multiplus, i-point,ditambah M-11 dan M-24 mondar mandir.
    hehehehehehehehehe…!!!

  • Tri Djoko // April 4, 2008 at 10:19 pm

    –> Agung : emang Binus senengnya ekspansi vertikal. Jadi yang dipikirin ama Binus nggak selalu harus Binus University-nya dulu…

    Salah satu cara “menghijaukan kampus Binus” lainnya adalah menjadi simpatisan partai Pemilu 2009 yang warnya ijo dan setiap dosen dan mahasiswa harus mengenakan kaos ijo…

    Jadi, ijo deh kampus Binusku !!!

    he..he..he..

  • Agung // April 4, 2008 at 10:32 pm

    kalo itu sih penghijauan dengan makna denotasi.
    hehehehehe..!!
    padahal yah,kalo ampe buka di BSD,
    peluang pasarnya lebih besar.
    karena Univ di Tangerang n BSD cuma ada UPH dan SGU yg dua2nya mahal2.
    dan ampe saat ini UMN,UNTAR,dan Atmajaya belom selesai proses bikin kampusnya.
    sedangkan kalo sekolah,
    di daerah Tangerang dan Serpong tuh byk sekolah2 bonafit yang reputasinya ga diragukan lagi kyk Santa Ursula BSD,Santa Laurensia,SMUK Penabur GS,Tarakanita,Saint John,dan masih banyak lagi.
    yah,mungkin ada pertimbangan lain dr pihak Binus.

  • Tri Djoko // April 4, 2008 at 10:49 pm

    –> Agung : kalau menurut asas lokalitas, Binus biasanya membangun kampus dekat dengan kampus yang lama. Sebagai contoh, awalnya ada kampus Syahdan, nah Binus membangun kampus yang dekat dekat Syahdan, yaitu Kampus Kijang. Bila perlu kampus lagi, tinggal cari tanah yang dekat dengan Kampus Syahdan, maka dibangun kampus Anggrek.

    Dengan algoritma yang sama, pasti berani taruhan Binus kalau membangun kampus baru akan dekat-dekat saja dengan kampus Syahdan-Kijang-Anggrek. Berarti masih dilalui M11 atau M23 atau B91..

    My best bet is in front of SMA 78 ?

    How’s about that ?

    Kalau BSD kayaknya captive marketnya kecil karena jauh dari mana-mana (tidak terletak to the center of the earth, kata Rick Wakeman..ha..ha..)..

    Biarlah Binus School saja yang dibangun di BSD..

  • Agung // April 4, 2008 at 10:57 pm

    yah,mungkin juga sih.
    emank kalo dipikir2,kalo bikin kampus baru yang jauh,operasionalnya pun akan repot.
    wah,kalo kampus baru berikutnya,
    saya uda dapet bocoran dari orang yang sangat terpercaya di kelas 06PAW (i bet you know him).
    hehehehehe..!!
    katanya kampus baru akan didirikan di tempat yg sekarang jd tempat parkir darurat Binus.
    yah,msh dilewatin M11 dan M24.
    tapi msh ada pertimbangan antara bikin kampus ato dorm ato malah both.
    itu sih info yang saya dapat Pak.
    hehehehehe..!!

  • tridjoko // April 4, 2008 at 11:03 pm

    –> Agung : yes, I know who you are talking about (wah..kayak nyebut Lord Voldermort aja nggak berani)..hi..hi..

    Wah, kalau di tempat parkir sementara Binus bakal dijadikan kampus atau dorm, terus dikemanakan tuh parkiran mobil-mobil ?

    Saya sih mau saran bikin kampus aja, soalnya dorm udah banyak dibuat sama penduduk setempat, dari belakang SMA 78 sampai dekat rumah S. Djodi sampai Rawabelong, semuanya sudah penuh dengan rumah kost…

    Belum yang di jalan S, T, U, V, W semuanya penuh dengan rumah-rumah kost ber-internet…

    Apakah “you know I am talking about” juga nyebut mau membangun kampus depan SMA 78 ?

  • Agung // April 5, 2008 at 7:27 am

    makanya di belakang kampus anggrek itu,gazebo2nya dihancurkan,mau dibuat gedung parkir.
    mungkin Binus mao merais rejeki lain dr dorm.
    karena kalo dilihat,tingkta keamanan rumah2 kos itu kurang baik.
    mungkin karena itu Binus mengambil inisiatif buat bikin dorm.
    tapi kan belom tentu jadi.
    kata “dia” sih yg uda pasti bikin kampus lagi di situ.
    hehehehehehe..!!
    wah,”dia” ga bilang soal yang di dpn SMA 78 Pak.
    emank di situ tanahnya uda dibeli Binus?

  • Agung // May 8, 2008 at 7:23 pm

    Pak,saya mao tanya soal sertifikasi SAP.
    apa itu bgs dan berguna Pak??

  • tridjoko // May 8, 2008 at 11:50 pm

    –> Agung : mengenai SAP, menurut pendapat saya yang diperlukan adalah terjun dan terlibat langsung dalam pembuatan suatu modul (mis. Accounting) dalam rangka SAP development. Satu module biasanya makan waktu 1-2 tahun..

    Itu jauh lebih berguna daripada selembar sertifikasi SAP yang belum tentu dibutuhkan oleh real world…

  • Agung // May 9, 2008 at 7:19 am

    oooo…!!!
    soalnya yg di promosikan binus center kan sptnya SAP keren banget.
    saya kurang ngerti juga SAP tuh belajar apa aja,ato gunanya di mana.
    hehehehehehe..!!

  • tridjoko // May 9, 2008 at 10:58 am

    –> Agung : SAP itu salah satu dari software yang digunakan untuk ERP (Enterprise Resource Planning). ERP adalah “totalitas komputasi” untuk seluruh fungsi di suatu perusahaan, misalnya : Accounting, HRD, Production, dan sebagainya tergantung perusahaannya besar atau kecil…

    Jadi apa yang terjadi kalau anda dapat sertifikat SAP tapi nggak pernah terlibat langsung (baca : coding) dalam pengembangan satu modul dalam ERP. Pasti kacau dan nggak nyambung kan ?

    Feeling saya, sertifikat CCNA, MSNE mungkin lebih berguna daripada SAP…

  • Agung // May 10, 2008 at 2:56 pm

    mmm…!!
    iya jg sih.
    kalo hidup tanpa sertifikat gt2an,gpp kali Pak yah?!
    sbnrnya kalo saya pribadi mungkin lbh “bakat” dan suka ke CISA.
    tp mnurut cerita Bapak,CISA angker banget.
    hehehehehehehehehehe…!!
    ada lg CHRP (Certified Human Resource Professional) di tawarin dari atmajaya.
    Pak,ada lagi ga sertifikasi yg mirip2 CISA gt??
    yg condong ke aplikasi IT di management,business,dan industry??!

  • tridjoko // May 10, 2008 at 4:27 pm

    –> Agung :

    Orang hidup itu ditakdirkan mempunyai banyak sertifikat…he..he..he.. : sertifikat lahir (akte), sertifikat nikah, sertifikat tanah, ….lha masak nggak punya sertifikat profesi ?

    Punyailah sertifikat yang “laku dijual”. Kalau bagi saya sendiri, dari YANG TERPENTING sampai yang nggak begitu penting RANKING SERTIFIKAT adalah :
    1. CISA (dasar soalnya); 2. CISM (soulmatenya CISA); 3. CISSP (lebih serem dari CISM, sebenarnya mirip); 4. CIA (dasar seperti CISA tapi saya spt akuntan kalau punyai ini); 5. CFA Level 1 (dasar dari financial) 6. CFA level 2 (intermediate stl level 1); 7. CFA level 3 (gileee men, anda sama dengan Roy Sembel kalau punya ini, sumpah !!!!); 8. CPM (dasar bagi project management); 9. CEH (sereeeem banget, tapi kerjaannya menghadapi ilmunya hacker aliran hitam); 10. Sertifikat kematian (tanpa yang ini, anda nggak bisa dikubur !!!!)..

    Sertifikat “tawaran dari toko lainnya”…saya nggak ambil soalnya nggak gitu penting… Selain itu, who cares ?

    Kalau anda punya sertifikat-sertifikat yang saya sebutin ini….rumah Pondok Indah, apalagi yang pinggir lapangan golf….gampang dibeli !!

    Dan juga masih ada kembaliannya (ini yang penting !!!!)…

    Atau, anda masih beli rumah model kuno di Benteng sono !!! (itu yang jauh lebih penting)…

    Ha..ha..ha..

  • Agung // May 10, 2008 at 9:08 pm

    wah,CPM kyknya seru tuh Pak.
    klo CPM itu tentang apa aj Pak??
    mahal gak Pak?? dan apa hrs lulus S1??
    hehehehehehehehe…!!

    abis,saya pesimis nih ama skil saya utk bs dptin salah satu dr sertifikat2 itu.
    hehehehehehehehe…!!

    oooo…!! gt yah Pak?!?!
    saya mah kalo beli di Pondok Indah juga,mending saya sewain buat orang bule ato disewain buat shooting sinetron.
    hehehehehehehehhehe…!!
    tinggal mah enakan di Tangerang (Benteng)..!!
    hehehehehhehe…!!

  • tridjoko // May 10, 2008 at 9:44 pm

    –> Agung :

    CPM = Certified Project Management. Saya belum pernah explore dimana ngambilnya, berapa bayarnya, sulit atau tidak ngedapetnya dan sebagainya…

    Tapi CPM banyak digunakan di Construction Management (Teknik Sipil, Arsitek), atau di pabrik-pabrik hi-tech macam Pabrik Kapal PT. PAL Surabaya atau pabrik kereta api PT. INKA di Madiun. Kalau proyek pengembangan software, mungkin perlu kalau ada proyek yang sedemikian besar seperti yang ditulis oleh Frederick Brooks Jr. “The Mythical Man-Month” waktu mereka membuat Operating System IBM S/360…

    Kalau saya punya rumah di Pondok Indah, mending saya tinggali sendiri. Lumayan, tetanggaan ama Dhani dan Maia Achmad, Inul, dan selebritis-selebritis lain. Dan nanti mahasiswa Binus akan saya undang buat “party” di rumah saya. Cool kan ?

    Kalau saya punya duwit lebih, saya mau beli “rumah kayu” di Jepara atau Lampung, “rumah joglo” di Yogya atau Solo, dan “rumah bali” di Karangasem..

    Mimpi itu indah, man !

  • Agung // May 11, 2008 at 12:11 pm

    wah sptnya bole jg tuh CPM.
    tapi saya perlu info lbh lanjut nih.
    heheheheheheehhehehe…!!!

    nanti kalo bikin party2,jgn lupa ajak saya yah Pak..!!!
    panggil DJ donk?!?!?!
    hahahahahahahaha…!!
    yah,ditinggali jg bole lah.
    biar bs numpang ngtop.
    sapa tau kalo ada “skandal” dgn tetangga kita itu yg artis,
    wartawan infotaiment dtg ke rmh kita buat wawancara.
    dan kita bs amplify our self.
    sapa tau bs jd artis ato selebs juga.
    hehehehehehehehehehe….!!!!!!

Leave a Comment