Lulus S1 ngambil S2 atau ngambil Sertifikasi

Pertanyaan di atas diajukan oleh Handoko, seorang alumni Binus angkatan 1998 dari jurusan ganda Teknik Informatika dan Matematika kepada saya melalui salah satu blog saya. 

Rupanya Handoko membaca beberapa posting saya berupa komentar terhadap sebuah posting di blog Bung Anjar (priandoyo.wordpress.com ) yang membahas masalah sertifikasi CIA, CISA, CISM, CISSP dan CEH…                                                                                         

Sebenarnya tidak ada “patokan halus” (hard and fast rule) untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, adanya adalah “patokan kasar” (rule of thumb).. 

Pertanyaan itu penting dijawab, tidak hanya untuk Handoko seorang, tapi juga untuk seluruh mahasiswa Binus, bahkan untuk semua lulusan Teknik Informatika/ Ilmu Komputer, Sistem Informasi/ Komputerisasi Akuntansi, dan Sistem Komputer di seluruh Indonesia. 

Jawaban singkat saya adalah sebagai berikut, jika belum puas atau masih ada pertanyaan lagi, silahkan tulis komentar di posting ini, atau melalui japri ke saya di tridjokoeta@yahoo.com (Sorry, sebenarnya saya bukan ahli SDM seperti Bung Riri Satria www.ririsatria.net jadi sekali lagi, jawaban saya hanya sekedarnya dan belum tentu benar).. 

Jika anda lulus S1 dari jurusan-jurusan yang saya sebutkan tadi (IF/Ilkom, SI/KA, dan SK) dengan IPK minimal 3.00, sebaiknya anda langsung mencari kerja karena dengan IPK seperti ini mudah bagi anda untuk masuk sebagai fresh graduate (First Year Professional atau FYP) di perusahaan-perusahaan yang diinginkan. Begitu pula jika IPK anda di antara 2.75 sampai 2.99, anda juga bisa langsung mencari kerja, walaupun jumlah perusahaan yang anda masuki sangat terbatas.  Jika anda memutuskan ingin langsung kerja, andapun harus mempelajari beberapa contoh soal Aptitude Test yang banyak dijual di Gramedia (Matraman yang terlengkap, juga PIM). Selain itu, bahasa Inggris anda juga harus memenuhi syarat minimal, misalnya dengan TOEFL score 500 (anda bisa menghubungi LIA Slipi, samping Hotel Ibis, test TOEFL dilaksanakan setiap hari Senin jam 07.00-13.00, pendaftaran paling lambat hari Kamis sebelum test,biaya Rp 100 ribu Listening, Usage, dan Reading, serta Rp 125 ribu jika ditambah dengan Oral test). 

Nah, bila anda bukan termasuk sarjana dengan kategori “sexy” seperti yang saya sebutkan di atas (IPK min 3.00, TOEFL score min 550, Aptitude Test min 450), jangan segera berpikir bahwa masa depan anda sangat kelam, karena anda termasuk dalam 80% dari populasi lulusan IF/Ilkom, SI/KA, dan SK yang ada.  Setidaknya ada 3 jalur “jalan keluar” bagi anda untuk menuju dunia kerja yang diinginkan, yang akan saya terangkan satu demi satu berikut ini : 

Pertama, jika saya sekarang ini baru lulus dengan IPK di bawah 2.75 (2.00-2.74), maka saya akan memutuskan untuk mengambil S2 baik di bidang Teknik Informatika, Ilmu Komputer atau Sistem Informasi seperti yang ada di UI ataupun ITB. Itupun kalau saya punya biaya. Kalau tidak punya biaya, ya coba usahakan mencari utangan kanan kiri dari saudara, tetangga, atau kalau berani cobalah berutang di bank, tentu saja cari yang tingkat bunganya rendah (apa ada ya ?). 

Saat ini (Oktober 2007), biaya yang diperlukan untuk mengambil S2 bidang Teknik Informatika, Ilmu Komputer atau Sistem Informasi mungkin antara Rp 30 juta – Rp 40 juta untuk SPP saja, jika ditambah dengan biaya hidup Rp 1,1 juta per bulan, maka selama 2 tahun total biaya yang anda perlukan untuk mengambil S2 adalah antara Rp 56,4 juta sampai Rp 66,4 juta. Ya katakanlah dibulatkan menjadi Rp 70 juta (apakah angka-angka ini terlihat di website www.cs.ui.ac.id ?). 

Kedua, daripada mengambil S2 agar tampak “sexy” di mata calon employer namun dengan biaya yang mahal (Rp 60 juta – Rp 70 juta) dan waktu yang lama (minimal 2 tahun), maka kalau saya jadi anda saya lebih suka untuk mengambil sertifikasi professional bagi lulusan Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Sistem Informasi/Komputerisasi Akuntansi dan Sistem Komputer. Hal ini sejalan dengan pemikiran pakar IT terkemuka Indonesia misalnya Dr. Jos F.P. Luhukay yang mengatakan bahwa “Sarjana S1 plus sertifikasi lebih disukai bagi employer daripada S1 plus S2”… 

Sertifikasi yang paling simple mungkin adalah MSNE (Microsoft Network Engineer) yang anda bisa ambil online di Jakarta dengan biaya test kalau tidak salah US $ 150 (Rp 1,5 juta). Keuntungannya, biaya cukup murah. Kekurangannya, bisa dibayangkan nggak perasaan anda setelah menjawab soal-soal ujian MSNE dan pencet tombol “confirm” dan beberapa detik kemudian anda dinyatakan gagal ??.. 

Sertifikasi paling simple lainnya adalah CCNA (Certified Cisco Network Analyst ??) yang biaya test online-nya mungkin sama dengan MSNE. Tapi walaupun sertifikasi MSNE dan CCNA ini cukup murah, tapi agar jangan buang-buang uang yaitu ikut test sertifikasi tapi tidak lulus, sebaiknya anda mempersiapkan diri dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan Microsoft certification dan Cisco certification. Buku-buku tersebut bisa anda baca di perpustakaan Binus Anggrek maupun Binus Hang Lekir, atau di Perpustakaan BPPT Jl. M.H. Thamrin 8 Jakpus, Gd. II lantai 4 (tepat di seberang Hotel Sari Pan Pacific).. 

Bedanya dengan sertifikasi yang lain seperti CISA, MSNE dan CCNA ini lebih spesifik ke merk peralatan tertentu (MSNE serba Microsoft, CCNA serba Cisco), sedangkan sertifikasi lainnya seperti CISA tidak terkait dengan merk peralatan/system tertentu. Sertifikasi selanjutnya yang bisa anda coba saya sarankan adalah CIA (Certified Internal Auditor), namun bagi orang yang background-nya bukan Accounting mungkin agak kesulitan mengambil test CIA yang pertama kali, kecuali belajar keras. Salah satu kemudahan sertifikasi CIA adalah bahan test-nya yang dicicil sedikit demi sedikit. 

Tapi jika IT adalah background anda, anda bisa langsung ngambil sertifikasi CISA (Certified Information Systems Auditor – belakangan kata “auditor” lebih diarahkan ke “assurance”). Coba cek informasinya di www.isaca.org. Biayanya kalau tidak salah sekitar US $ 420 (jika anda bukan anggota ISACA) atau US $ 370 (jika anda anggota ISACA). Untuk pendaftaran dini (early bird), biaya tersebut masih dipotong $ 35. Pada saat mengambil ujian sertifikasi yang biasanya bertempat di Jakarta International School (JIS) Tarogong, Cilandak, waktu yang diperlukan adalah 4 jam (09.00 – 13.00) dengan 200 pertanyaan dalam bahasa Inggris (multiple choice, 4 pilihan). Jika anda dapat menjawab 75% dari pertanyaan dengan benar, maka anda sudah selangkah menuju ke sertifikasi CISA. Untuk jelasnya, baca di website tadi. 

Kalau anda lebih cenderung menjadi Information Security Manager, maka sertifikasi yang anda ambil sebaiknya CISM (Certified Informations Security Manager). CISA dan CISM sertifikasinya dilaksanakan oleh ISACA, biaya kedua sertifikasi ini juga sama. 

Ada lagi CISSP (Certified Information Systems Security Professional). Dua atau tiga tahun yang lalu bila anda mau ambil sertifikasi CISSP, anda harus pergi ke Singapore, tapi saya dengar mulai tahun 2007 ini anda bisa ngambil sertifikasi CISSP di Indonesia. Kalau mau, anda bisa langsung nanya ke Dr. Eng Sarwono Sutikno, CISA, CISM, CISSP dari Dept Elektro ITB (email beliau kalau tidak salah ssarwono@yahoo.com ). 

Yang paling unik adalah yang terakhir ini yaitu CEH (Certified Ethical Hacker). Jika anda akan mengambil sertifikasi CEH ini, anda akan menjadi “hacker golongan putih” (sebagai lawan “hacker golongan hitam”). Ada beberapa orang Indonesia yang mendapat sertifikasi CEH ini, tapi biasanya ybs juga punya sertifikasi CISA. 

Untuk sertifikasi CIA, CISA dan CISM, anda bisa mengambil “C*** Preparation Course” yang dilaksanakan oleh Binus International University di Jalan Hang Lekir (websitenya kalau tidak salah jwc.binus.ac.id – jwc singkatan dari The Joseph Wibowo Center, beliau adalah pemilik Binus yang sudah almarhum). 

Ketiga, jika anda tidak mau mengambil salah satu dari dua kemungkinan yang saya sebutkan tadi, anda bisa memilih pilihan berikut. Dengan modal uang sekitar Rp 70 juta, anda bisa ngambil opsi sekolah S2 di luar negeri sambil bekerja. Ada dua pilihan, ke Jerman (lihat www.daau.de ) atau ke Amerika Serikat (lihat www.mum.edu ). Anda cukup mengajukan aplikasi online dilengkapi dengan persyaratan administrative (ijazah, transkrip, TOEFL score, sertifikat bahasa pemrogram seperti Java, dsb). Pada waktunya, anda akan ditest melalui telpon (kalau dari Amrik, biasanya pagi hari sekitar pukul 03.00 pagi di Indonesia – atau pukul 3 pm di Amrik). Anda akan ditest konversasi bahasa Inggris dan kemampuan pemrograman. Dari hasil wawancara melalui telpon ini, mereka akan memutuskan untuk memberikan “pinjaman” uang sekolah kepada anda yang anda harus bayar sambil “bekerja” (kalau di Amrik, “bekerja” tidak disebut “working” tapi “professional training course” atau PTC, ini hanya istilah imigrasi AS saja, so don’t worry so much). 

Ok, apapun pilihan anda, andalah yang menentukan. Sayangnya, informasinya sangat banyak walaupun ini saya juga sudah menulis sangat banyak, 4 pages euy…. 

Salam dari Bekasi,

-Tri Djoko Wahjono 

120 Comments (+add yours?)

  1. razi
    Oct 31, 2007 @ 01:10:30

    very important website
    get paid to visit websites
    http://www.monfacileargent.tk/

    Reply

  2. Edwin
    Nov 01, 2007 @ 08:50:21

    ehm, bagi yg mau ambil CISA, DLL , di Binus International (JWC) ada tuh, 4 juta kira2

    Reply

  3. putralovers
    Nov 02, 2007 @ 09:06:25

    Pak,kalo menurut saya , lebih baik meneruskan untuk sertifikasi,memang gelar S2 sangat menunjang untuk di Indonesia tetapi yang saya tau,kebanyakan perusahaan IT yang berpusat di luar negeri sana lebih menyukai dengan sertifikasi yang dikeluarkan.sebagai pengalaman saja,saya lulusan SMA tahun 2005/2006 dan sekarang sedang mengikuti sertifikasi NIIT di FTUI dan ada tawaran untuk melanjutkan di UK University untuk melanjutkan program profesionalnya
    -putra-
    http://easystudy.wordpress.com

    Reply

  4. tridjoko
    Nov 02, 2007 @ 19:04:06

    Hallo Razi, thanks for your compliment. Are you currently in Turkey (.tk) ?

    Hallo Edwin, waktu saya ngambil CISA Preparation Review di Binus tahun 2005 dulu saya harusnya bayar Rp 5,5 juta untuk 12 kali pertemuan (seminggu 2 x). Tapi karena saya Binusian (dosen Binus), maka didiscount 15%, kalau nggak salah akhirnya saya bayar Rp 4,85 juta (untung dibayarin sama kantor saya..he..he..). Tapi to tell you the truth, walaupun diajar oleh beberapa orang dengan CISA holder, tapi ikut Preparation di Binus agak nggak worth it karena banyak yang gagal lulus. Kalau boleh memilih sebenarnya saya pengin diajar oleh CISA yang orang bule (ada sebenarnya, perusahaannya Phil Lifferman kalau tidak salah, tapi bayarnya sekitar $ 15,000 untuk satu program – tapi bisa dibagi rata biayanya sama teman-teman yang mau ikut)…

    Hallo Putralovers, apakah anda sekarang ini statusnya masih lulusan SMA ? Berarti nggak bisa ngambil sertifikat CISA dan CISM karena syaratnya harus lulus S1. Tapi kalau MSNE atau CCNA menurut saya tidak harus lulusan S1. Jadi, go ahead with your NIIT program at FTUI and good luck…

    Reply

  5. imam
    Feb 19, 2008 @ 16:02:57

    mas nanya dk, maksudnya bhn ujian yg dicicil gmn y?

    info yg saya dpt, bhn ujiannya dibagi menjadi 4 bahagian, apa yg mas maksudkan, apabila sudah lulus 2 bagian terus 2 bagian lg bs diperjuangkan u term ujian berikutnya

    menurut mas gmana ttg provider yang menawarkan CIA/CISA course on line?

    t’x

    Reply

  6. Tri Djoko
    Feb 19, 2008 @ 21:04:23

    Hallo Mas Imam : setahu saya ujian CIA (Certified Internal Auditor) dibagi ke dalam 4 modul. Modulnya apa saja sebenarnya saya nggak tahu karena nggak pernah ngecek di website dan saya nggak pernah ngambil CIA.

    Artinya, anda bisa ngambil ujian 1 modul saja. Setelah lulus ujian modul 1, misalnya, beberapa bulan lagi bisa ngambil modul 2, modul 3 dan seterusnya. “Kemampuan” atau “kekuatan” anda mengambil berapa modul sekali ujian, itu yang menjadi pertanyaan. Kalau anda merasa “kuat”, ya ngambil 4 modul sekaligus juga nggak apa-apa.

    Kontras dengan ujian CISA dan CISM yang pernah saya alami, sekali ujian ada 200 soal dan tidak dibagi per modul. Dari 200 soal itu, kalau kita benar menjawab 75% soal maka kita disebut “lulus ujian CISA/CISM” atau istilah resminya “your grade is good enough to pass the CISA/CISM test”…

    [Sorry, bila info yang saya berikan di atas kurang akurat. Memang ujian CISA/CISM setiap saat berubah infonya. Makanya, lebih tepat cek langsung di websitenya saja. Ok ?]

    Reply

  7. Agung
    Feb 23, 2008 @ 21:18:05

    wah,
    sekalian konsultasi yah pak.
    saya rupa2nya merasa kurang tertarik dengan bidang IT (lho? stlh smstr 6 msk TI-Mat Binus br nyadar klo ga seneng computer)
    hehehehehehe..!!
    saya lbh tertarik ke bidang menejemen n bisnis.
    (mungkin IT + Math bs saya aplikasikan).
    nah,makany saya rencana ambil master menejemen ato bisnis ke eropa.
    apa itu cukup baik??
    sementara IPK saya saat ini tidak begitu “sexy”.
    (tp stlh saya SP algo pemrog pasti IPK saya “sexy”)
    hehehehe..!!
    lalu saya perlu ambil sertifikasi ga yah pak??
    saya sih maonya abis lulus S2 lgs kerja dengan gaji yg “very hot”.
    hehehehe..!!

    Reply

  8. Tri Djoko
    Feb 23, 2008 @ 22:35:27

    Agung : wah…anda ngaku IPK “nggak sexy” tapi kok pengin dapet gaji yang “very hot”….

    Wah….APA KATA DUNIA ??

    Normal-normal saja anda merasa salah jurusan. Saya dulu penginnya ngambil ITB selepas SMA, tapi kenyataan hidup mengharuskan saya kuliah ke IPB. Let’s face it, man. Life has go on. Don’t look back !

    Jadi sabar aja, sambil menunggu let’s the good thing rolls…

    Kalau saya jadi anda, saya akan memperbaiki IPK setinggi mungkin sampai nanti lulus dalam 10 semester (program Ganda soalnya). Buatlah IPK anda se-sexy mungkin…

    Sambil jalan, anda bisa meningkatkan bahasa Inggris. Ambil TOEFL di LIA Slipi. Bisa nggak anda dapat 600 (versi paper) atau 200 (versi online) ? Kalau bisa, ambil TOEFL International di Menara Imperium, bayar USD 150. Cek berapa skor anda..

    Setelah itu ambil GMAT. Mungkin sebelum ngambil GMAT beneran, anda bisa ngambil GMAT Prediction. Apakah ada di LIA Slipi ? I am not sure though.. Setelah nilai Prediction tinggi, baru ngambil GMAT beneran…

    O ya, ngambil TOEFL dan GMAT ini nggak perlu nunggu anda lulus dari Binus. Sambil jalan aja..

    Kalau masih ada waktu. Pelajari soal-soal ujian CISA. Lihat http://www.isaca.org/

    Tapi untuk ngambil ujian CISA, anda harus Sarjana terlebih dahulu. Soalnya bayarnya mahal USD 420 (tanpa jadi anggota ISACA) atau USD 370 (dengan jadi anggota ISACA), tapi jadi anggota ISACA fee tahunannya sekitar USD 45 kalau nggak salah…

    Jadi setelah profil diri anda “dihajar dari berbagai sudut” (minjam istilah Ade Rai), mudah-mudahan gambaran IPK dan kemampuan anda sekarang menjadi sexier…a lot sexier…

    Kalau sudah gitu, jangankan Eropa. Amerika, Australia, Jepang atau bahkan ruang angkasa bisa anda datangi, man !

    Trust me !

    Reply

  9. Agung
    Feb 23, 2008 @ 22:55:36

    hehehe..!!
    sbnrnya spy gaji saya nanti “hot”,
    saya sudah bangun banyak koneksi.
    contohnya sama yang punya UPH.
    hehehehe..!!
    ga perlu sampe 10semester pak.
    cukup saya SP 2kali saja.
    IPK saya sudah “sexy”.
    hehehehe..!!
    itu lah pak,mengapa saya pilih ke eropa.
    saya hanya perlu prepare untuk GMAT.
    soalnya univ yg saya tuju ga pake TOEFL.
    mungkin hanya perlu bljr bhs belanda.
    *(FYI,negara tujuan saya Belgia)*
    hehehehe..!!
    perlu ya pak sertifikasi gt?
    saya pikir,karena saya mungkin akan kerja di bidang management,ga perlu sertifikasi komputer gt.
    hehehe..!!

    Reply

  10. Agung
    Feb 25, 2008 @ 15:39:06

    pak,CISA itu CISCO yah?
    aduh,sbnrnya soal sertifikasi gt saya ga ngerti nih.
    saya pikir nanti paling ambil sertifikasinya microsoft aja.
    hehehe..!!

    Reply

  11. stevenlockhart
    Feb 28, 2008 @ 22:55:15

    Pak,sebelumnya saya (Steven Effendi Halim kelas 04PKT) udah buat blog di stevenlockhart.wordpress.com..di add ya pak..

    Menanggapi komentar dari sdr Agung yg sepertinya punya pemikiran yang sama dgn saya.Saya berencana meneruskan ke S2 di luar negeri,tapi saya tidak berminat utk mengambil jurusan yang sama (IT) mugkin bisa mengambil jurusan lain spt bisnis..(gak bisa ngebayangin S2 IT kayak apa klo S1 aj ud kyk gini)

    Nah apakah itu sesuatu yang aneh?dari IT lari ke bisnis??ada pertimbangan apa saja yg perlu saya perhatikan??

    Lalu saya pernah membaca di suatu forum yg katanya klo ngambil S2 jurusan IT lagi siapa perusahaan yang mau ngegaji..apakah itu betul??

    Oya pak katanya klo kuliah di Jerman tu biaya kuliahnya gratis ya?jd kita cukup bayar biaya hidup aja..

    Reply

  12. Tri Djoko
    Mar 01, 2008 @ 10:44:52

    -> Agung : ya deh, lakukan apa saja supaya gaji anda nanti “hot”. Tapi jangan lupa, gaji “hot” tapi pekerjaannya stressfull dan dikejar target…itu bukan gue banget lho !!! Saya lebih suka kerja santai, tapi gaji “negotiable”..artinya kalau gajinya terlalu sedikit, yang punya perusahaan gua pelototin…hi..hi..hi…

    CISA dengan CISCO beda. CISA itu Certified Information Systems Auditor (lihat http://www.isaca.org), yaitu sertifikat untuk Information Systems Auditor. Bedanya CISA itu tidak terkait merk alias bebas merk, kalau CISCO kan secara tidak langsung mereka memperkenalkan merk mereka semua dari switch, router, bridge, dsb..

    Kalau anda ke Eropa ngambil S2 Business, ya mungkin nggak perlu sertifikasi. Soalnya tujuan anda kan di Manajemen, bukan di Profesional..
    Tapi mumpung anda masih muda, sebenarnya lebih baik ngambil Ph.D langsung aja lho, jangan cuman MBA doang karena di Jakarta ini MBA sudah “sepelemparan sandal”. Artinya, kalau anda melempar sandal kemanapun di jalan Syahdan, pasti 90% probabilitanya sandal tersebut akan menimpuk seseorang yang bergelar MBA. Kalau anda punya gelar Ph.D in Business, apalagi spesialisasinya Finance kayak Pak Roy Sembel, wah..bakalan enak jatuhnya lho…(apalagi ditambah dengan sertifikasi CFA level III, CFA = Certified Financial Analyst)..

    Di Bidang kerja tertentu, punya sertifikat lebih disukai daripada punya gelar. Karena punya sertifikat itu “siap pakai”, sedangkan punya gelar itu baru “siap tahu”… (tahu bedanya kan ?)..

    -> Steven : IPK anda di S1 Binus “sexy” nggak ? Kalau nggak sexy-sexy amat, lebih baik anda cuman ambil sertifikasi saja daripada ambil gelar S2 yang memakan banyak waktu, uang, dan pikiran…

    Kalau IPK S1 anda di Binus “sexy” artinya >= 3.50, anda sebaiknya ambil langsung Ph.D di bidang Business. Latar belakang pendidikan IT atau Teknik sekalipun nggak apa-apa untuk ngambil S2 di bidang Business asal syaratnya anda diterima oleh Universitas ybs lho !

    Point-nya adalah, untuk apa sih anda ngambil gelar S2 kalau S1 di Binus saja sudah empot-empotan? Apalagi ngambilnya di luar negeri, yang biasanya orang Indonesia sudah kalah set duluan dibanding orang China, India, Korea, dan Taiwan… Dapat nilai B saja sudah empot-empotan…

    Sekolah di Jerman dulu gratis, sekarang 1 semester harus bayar minimal USD 500 (di Univ Kalsruhe, nggak tahu univ yang lain). Di USA juga ada sekolah gratis sambil bekerja cuman modal USD 5,000 aja. Tapi kembali lagi, kalau mau melanjutkan studi ke LN IPK anda di Binus harus “sexy” dulu. Tanpa itu, hanya mendatangkan sakit di badan, pikiran, dan..kantong !

    Reply

  13. Agung
    Mar 01, 2008 @ 16:46:06

    wah..!! iya donk pak.
    makanya saya ga mao wkt ditawarin ama yg empunya UPH buat bantu tantenya di Singapore.
    kan grup lippo lagi kenceng2nya tuh di Singapore,ampe2 di NUS aj ada Mochtar Riyadi Building.
    hehehe..!!
    soalnya kerja di lippo tuh uda kayak kerja bakti.
    Om saya,yang sangat dekat dgn keluarga Riyadi,emang gajinya selangit.
    tapi jam kerjanya tanpa batas.
    hehehehe..!!

    wah,spertinya saya tertarik dgn CISA.
    nanti mohon dijelasin lagi yah Pak scr langsung.
    hehehehe..!!
    (abis liat webnya aj ud pusing,ga ngerti)

    wah,kalo ampe Ph.D sih saya ga kepikiran pak.
    itu beyond my mind.
    hehehehe..!!
    lagi pula saya jadi bingung mao kerja apa nantinya.
    walopun saya sebenarnya tertarik untuk jd dosen (sebagai kerjaan sampingan).
    hehehehehe..!!
    tp saya akan pertimbangkan.
    (soalnya saya mao cepet2 nikah,Pak)
    hahahaha..!!

    wah,comment buat steven itu,jd kena ke saya juga.
    hehehehehe..!!
    kan IPK ga bisa menggambarkan kemampuan seseorang Pak.
    kalo kayak saya kasusnya gimana?
    toh,ini kuliah aja bener2 pake emosi semata.
    bahkan ampir ga pernah belajar.
    baru smstr 5 kemaren saya dapat motivasi.
    hehehehe..!!

    steven :
    di Jerman emank kebanyakan GRATIS.
    dan yang bayar tuh biasanya univ swasta.
    tp jgn salah.
    kalo mao ke Jerman tuh harus ada deposit,
    kalo gak salah kalo di rupiah tuh kira2 Rp.70juta (pdhl 5thn lalu cukup Rp.30jt).
    kalo ga,yah visa belajarnya ga keluar2.
    lagi pula biaya hidupnya lumayan lho.
    kira2 1000 euro per bln (kira2 Rp13jt).
    tp ini sekedar info saja.
    dan kalo mao ambil S2 komp (software),mending ke amrik.
    (kyk Bapak dosen kita yang tercinta ini)
    hehehehe..!!
    soalnya Jerman tuh (setau gw) lbh bagus hardware,engineering, mekanik,dan elektronik (mekantronik).
    yah,tp di amrik mahal sih.
    yahhh…!!
    pilih lah yang terbaik buat lo.
    ooo..iya!
    klo ambil S2 komp jg gw bingung hrs kerja apa.
    hehehehe..!!
    soalnya kalo baca vacancy di KOMPAS kbykan maonya S2 management ato business.
    hehehehe..!!

    Reply

  14. Tri Djoko
    Mar 01, 2008 @ 17:25:05

    -> Agung : wah..anda udah jawab pertanyaan Steve..

    Kapan2 saya posting kerja sambil belajar di Amerika, baik S2 Computer Science maupun S2 Business..

    Reply

  15. stevenlockhart
    Mar 02, 2008 @ 03:14:21

    Agung:
    wah,kalo ampe Ph.D sih saya ga kepikiran pak.
    itu beyond my mind.
    kan IPK ga bisa menggambarkan kemampuan seseorang Pak.

    Wah kita sependapat nih..Saya setuju nih pak menurut saya IPK itu gk menggambarkan kemampuan seseorang..Menurut saya pengalamanlah yg lebih menggambarkan kemampuan.

    Saya aktif di organisasi dan saya kuliah,meskipun jm kuliah lebih bnyk dr jm organisasi tapi saya lebih bnyk mendapat ilmu di organisasi

    Wah pak hubungan Ph.D sm IPK apa ya pak??bukannya klo kuliah S2 itu gk melihat IPK sebelumnya?makanya yg IPKnya rendah diharapkan utk kuliah lagi.

    Sebenernya sih saya tertarik kerja di luar negeri karena diluar kan negaranya jelas lebih aman dr pada disini lalu perusahaannya lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan (Google cthnya).Dan mungkin sekaligus belajar hal2 baru dan melihat dunia..haha

    Klo utk ngambil S2 komp kykny gk dh..spt yg ud saya bilang di atas..

    Klo Australia prospeknya gimana ya pak??
    Wah boleh tuh pak ditunggu postingannya belajar di Amerika..

    Teman saya ada 2 org yg di sana,satu di Arizona sm satu lagi di San Diego..yg mereka keluhkan itu cuma tugasnya yang buanyaaakk..

    Reply

  16. Agung
    Mar 02, 2008 @ 19:55:05

    Steven:
    wah,emank sih pengalaman perlu.
    tapi menurut gw bukan pengalaman di UKM ato HMJ,bro.
    mending lo coba2 kerja part time.
    itu pengalaman yg bnr2 berharga.
    soalnya gw pernah coba magang 2bln jd IT support di building management salah satu mall di tangerang.
    dan dr pengalaman magang itu,ORGANISASI TUH GA GUNA BUAT DUNIA KERJA.
    apa lg kalo nantinya lo mao mendalami dunia bisnis.
    aussie lumayan juga,kalo lo mao kerja di indonesia nantinya.
    tapi lo juga hrs pilih univ yg bnr2 bagus.
    contoh yg bgs: UNSW,curtin,ANU,univ of sydney,univ of melbourne,dll.
    pokoknya yg msh masuk 200 top univ versi THES.
    soalnya di luar itu,
    selain kualitas pendidikannya kurang bagus,
    takutnya ijazahnya ga diakui secara international.

    Pak Tri Djoko :
    Pak,maaf nih saya dan Steve banyak ngomong di topik yang ini.
    maaf sekali.
    hehehe..!!
    Pak,kira2 kalau Ph.D itu berapa lama yah?
    kalo master kan sekarang 1thn jg beres.
    menurut Bapak,abis lulus S2,mending nikah dolo br terusin Ph.D
    atau ambil Ph.D dolo baru nikah??
    hehehehehehehehehehhee….!!!!!!

    Reply

  17. tridjoko
    Mar 02, 2008 @ 20:26:48

    -> Steve : Tentu dong IPK di S1 ada hubungannya dengan “prospek” keberhasilan anda kalau ngambil Master’s dan Ph.D nanti..

    Rule of thumbnya sebagai berikut : Jika anda lulus dengan predikat Honor atau Cum Laude yaitu IPK >= 3.5 maka sebaiknya setelah S1 anda langsung terus ke Ph.D; selainnya jika IPK >= 3.0 tapi < 3.5 lebih baik dari S1 ke S2 saja..; selainnya jika IPK S1 Agung: nikah dulu atau Ph.D dulu ? Saran saya nikah dulu dan punya anak yang banyak, dan jangan pernah memikirkan Ph.D ha..ha..ha..

    Lama program Ph.D kalau di US : 3 thn (very exceptional), 4 tahun (brilliant !), 6 tahun (average), dan 9-10 tahun (late !)..

    Reply

  18. Agung
    Mar 02, 2008 @ 20:52:33

    ooo..!!
    iyah2,Pak.
    saya setuju juga sih,soal IPK itu.
    kalo gitu saya masih masuk golongan yang lanjut ke S2.
    hehehehehe..!!

    punya anak jgn banyak2 Pak.
    Bapak aja cuma 2 anaknya.
    orang tau saya aja cuma 3 anaknya.
    so,anak saya ga bole lebih dari anak orang tua saya.
    hehehe..!!
    aduh,
    kalo ampe 6thn proses Ph.D nya,
    aduh2 lama juga yah.
    hehehehe..!!

    Reply

  19. stevenlockhart
    Mar 03, 2008 @ 00:30:07

    Soal guna gak guna mungkin tergantung dari sudut pandang masing2 ya..kok saya malah melihatnya klo kuliah itu yg justru sebenernya gk guna..kuliah itu kita cuma utk melatih cara berpikir kita, makanya org kuliah sm org SMA cara berpikirnya beda..hahaha

    Yah ikut organisasi setdknya lumayan lah drpd jd kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) setdkny belajar ngatur waktu,bertanggung jawab thdp diri sendiri dan org lain,tmbh bnyk temen ( tmbh bnyk koneksi, haha), belajar profesionalisme..

    Apakah kuliah di aussie bagus hanya utk kerja di indo??gimana klo mau kerja di sana juga??cape bgt ud kuliah jauh2+mahal2 balik lagi ke indo

    Hoo jadi pengaruh IPK ke ambil master itu disitu ya??lalu pengaruh gk sama klo kita mau daftar S2??
    Org mau daftar kuliah aj gk diliat nilai SMAnya,yang penting tes,lulus,ya diterima..hehe

    Klo boleh tanya..Ph.D itu kelebihannya apa sih dibandingkan gelar master biasa??maklum masih awam..

    Reply

  20. Agung
    Mar 03, 2008 @ 08:57:41

    Steven:
    yah,itu tergantung dengan organisasinya.
    dan tergantung jg abis pulangnya ke mana abis kuliah.
    kalo gw liat2 sih di Binus.
    organisasinya ga worth it,kalo lo mao cari koneksi.
    mari kita berandai2 secara ideal (yang bagus2 aja).
    kalo ikut organisasi (kura2=kuliah rapat),kalo pulang (kupu2=kuliah pulang),kalo anak gaul (kunang2=kuliah nangkring).
    gw rasa singkatan itu ga sekedar singkatan,tp ada makna dari nama2 hewan itu.
    kura2,
    dalam organisasi kita dapat menyelami sosial kehidupan,sama kyk kura2 yang bs berenang dan bersahabat dgn habitat air.
    berjalan pasti,namun lambat,itu lah kalo kita ikut organisasi,kita akan berkembang amun lambat.
    kupu2,
    (dalam arti abis pulang,msh ada kegiatan lain,ga tidur n makan doank di rumah)
    punya warna indah dan berguna bagi bunga,maka itu lah image kita dalam keluarga.
    dapat terbang,itulah lambang dari perkembangan kita dalam koneksi dan skill.
    kunang2,
    (ini jg dalam arti nangkringnya di tempat2 yang positif dan nglakuin hal2 yang positif,termasuk part time)
    buat gw ini paling bagus.
    selain sama kyk kupu2 yang bs terbang.
    kunang2 juga bisa bercahaya,itu menandakan kunang2 bs lebih berguna lagi dan image lbh keren lagi.
    walopun,kupu2 dan kunang2 lebih sulit berkomunikasi,karena habitat udara tidak bersahabat,
    juga lebih mudah kehilangan arah.
    yah,itu cuma pengandaian ciptaan gw.
    semua ada baik n buruknya.
    tergantung kitanya mao sukses di bagian mana.
    pasti liat nilai lah.
    kalo ga salah IPK hrs >= 2,50.
    cuma ga gt pengaruh.
    kerja di aussie?
    tergantung lulus dgn degree apa dan dari univ mana.
    itu aja sih.
    lagian orang aussie rada2 diskriminatif ama orang indo.
    hehehehe..!!

    Reply

  21. tridjoko
    Mar 03, 2008 @ 13:31:57

    -Steven & Agung : Wah..diskusinya jadi rame nih..ha..ha..

    Sebenarnya pointnya adalah, ikut kegiatan mahasiswa seperti HMJ atau UKM itu boleh-boleh saja, tapi juga harus seimbang dengan kemajuan dan prestasi sekolah anda dong !!!

    Contohnya saya, saya dulu terus terang banyak aktif di kemahasiswaan sehingga studi saya terbengkalai dan waktu lulus IPK saya cuman sedikit di atas 2.50. Rasanya nyesel karena lanjut ke S2 aja nggak bisa, karena harus ikut “masa percobaan” selama 1 semester..

    Kalau saya punya anak lagi kuliah, saya juga pasti nasehatin jangan terlalu banyak kegiatan kemahasiswaan. Ya harus seimbang lah dengan kegiatan perkuliahan supaya cepet lulus, dengan nilai bagus, dan tidak membuang-buang biaya dari orang tua. Ya kan ?

    Wah, Steven bilang IPK tidak ngaruh kalau mau melanjutkan ke S2. Salah atuh kang, karena kalau IPK anda tinggi maka credential atau CV anda bakalan “kelihatan” sama universitas yang mau anda masuki. Tapi kalau IPK anda kecil, siapa universitas yang mau nerima anda S2 ? Ini ngomong universitas di luar negeri lho, kalau universitas di Indonesia sih kalau anda punya duwit dan mau bayar, pasti anda akan masuk (kecuali UI tentunya yang masuknya lewat saringan super amat sangat ketat)…

    Reply

  22. Agung
    Mar 03, 2008 @ 20:19:59

    hehehe..!!
    maaf yah Pak,kalo kita serunya di blog Bapak.
    harusnya di blog kita masing2.
    (abis judul blognya “ceritaku ceritamu CERITAKITA”)
    hehehehe..!!
    bener Pak,setuju banget sayah.
    IPK itu penting,walopun bukan satu2nya yang terpenting.
    kalo target saya,yg penting di atas 3.00 lah.
    Pak,UI uda komersial sekarang.
    masuk kedokteran yang konon paling susah ke2 setelah IT di ITB saja.
    sekarang bisa ada jalur khusus (tanpa SPMB).
    tinggal bayar 200jt,lgs masuk FK UI.
    malah rumornya, adadosen yang bisa terima amplop biar lulus mata kuliah.
    hehehehe..!!

    Steven:
    mao tambahin soal “penting ga sih kuliah?”
    selain pola pikir.
    emank kalo dari sudut ilmu n materi kuliah,itu gunanya cuma sedikit.
    tapi sekali lagi ini dependable.
    cuma ada 2hal penting yang sangat penting.
    yaitu GELAR dan IMAGE.
    tanpa gelar,kita mao kerja cuma dgn ijazah SMA?
    dengan gelar plg ga gaji lbh gede.
    dan tentu saja bisa nerusin ampe S3.
    dan yg ga kalah penting,IMAGE.
    gw rasa jaman sekarang semakin jarang ortu yg bolehin anak perempuannya nikah ama cowo tanpa gelar sarjana.
    makanya,biar pun ortu kita mungkin setajir Bill Gates,ato bahkan cuma tukang becak,ortu kita pasti bela2in kita buat kuliah ampe lulus.
    (gw ga pernah liat anak pebisnis ato pejabat ato artis tenar ato orang kaya lain yang ga kuliah).
    karena mereka tahu berapa harga sebuah GELAR dan IMAGE.
    hehehehe..!!

    Reply

  23. stevenlockhart
    Mar 03, 2008 @ 20:48:15

    Haha bner tuh Agung..klo kata temen g sih, kita kuliah ini cari 4 hal:
    1. Cari pengalaman
    2. Cari gelar
    3. Cari koneksi
    4. Cari pasangan hidup
    hahaha..gk da ceritanya kuliah cari ilmu,karena sudah bukan rahasia lagi klo dunia kerja dan dunia kuliah itu JAUH berbeda..bhkn kata tmn g yg ud kerja, ilmu di kuliah itu cuma kepake 5% doang..sisanya ya gimana cara u improvisasi.

    Hoo…bgitu toh pak,saya baru tau..
    Bisa kasih penjelasan gk pak maksudnya “masa percobaan” satu semester itu apa??
    emang sih klo saya sebisa mungkin jgn sampe dibawah 3.00 deh..

    Oh iya, gimana tuh dgn soal diskriminasi??sewaktu bapak kuliah di Amerika ada diskriminasi gk pak??

    Reply

  24. Richard
    Mar 04, 2008 @ 13:03:29

    sertifikasi apa seh pak yang bisa bikin ‘gaji’ wat kita naik lebih tinggi? ^^

    denger2 dah kebanyakan orang bergelar CCNA, jadi dah gak hot lagi…hahaha..
    yah gw seh setuju aja dengan pendapat2 di atas, di dunia kerja sekarang, lebih melihat ‘kertas’ daripada equvalensinya dengan ‘otak’ terutama di Indonesia…hahaha

    tapi klo emang kita punya tekad, why not success without ‘gelar’…
    cth
    andrie wongso…

    Reply

  25. tridjoko
    Mar 04, 2008 @ 20:13:52

    -> Steven : “masa percobaan” (pribation) itu mempunyai 2 makna. Pertama, orang ditempatkan dalam status percobaan/bersyarat/probation jika ia diterima di suatu perguruan tinggi di Amerika misalnya, tetapi latar belakangnya kurang mendukung dengan bidang ilmu dimana kita mau ambil Master’s atau Ph.D. Misalnya, saya dulu tidak mempunyai background di Comp.Sci karena saya dari Statistics, tapi mau masuk Comp.Sci makanya ditempatkan dalam “status percobaan” dan hrs mengambil 15 credit hours (Data Structures, Computer Structure and Assembly Language, Computer Programming (LISP), dan Discrete Math). Pengertian kedua, seseorang ditempatkan di dalam “masa percobaan” jika IPK atau GPA (Grade Point Average)-nya di bawah standard, yaitu di bawah 2.00 untuk undergraduate (S1) dan di bawah 3.00 untuk graduate (S2 dan S3). “Masa percobaan” hanya berlaku dalam 1 semester dan jika kita tidak bisa melewati masa itu, sudah pasti akan di-kick out atau di-expell dari kampus !!!

    Mengenai diskriminasi, menurut pengalaman saya diskriminasi itu tidak pernah terang-terangan tapi kita bisa merasakannya. Kalau karena kita orang Asia lalu tidak boleh masuk di suatu restoran misalnya, dan itu dilakukan dengan terang-terangan, maka kita panggil polisi dan orang yang punya restoran itu bisa ditangkap karena melanggar undang-undang. Tapi 3 tahun di Amerika saya tidak mengalami hal diskriminasi seperti itu, tetapi jika berjalan di malam hari saya sering ditereaki sama anak-anak muda yang sambil bawa mobil ngebut. Tapi mungkin mereka mabuk, dan hal ini tidak bisa diartikan sebagai diskriminasi..

    RICHARD :
    Wah, mestinya orang tua anda pasti sangat menyesal karena banyak anak Binus yang kuliah “karena terpaksa” dan belum punya kesadaran bahwa gelar atau ijazah itu penting. Saya ingat di jaman dulu ada cerita, bahwa di kalangan orangtua itu ada 2 pilihan. Jika punya anak pinter, maka sekolahkan sampai mentok misalnya S1, S2 atau S3. Jika punya anak bodo, ya suruh buka toko aja jualan handphone ! Nah, anda termasuk yang mana ?

    Saya pernah denger ceramah motivasi oleh Andrie Wongso, dia dulu sering diundang sama Binus untuk memberikan motivasi waktu ada rapat-rapat pimpinan Binus di Puncak atau di Sukabumi. JANGAN BANDINGKAN SEMUA ORANG DENGAN ANDRIE WONGSO. ANDRIE WONGSO itu motivasi poll banget, ibarat mobil kecepatannya 260 km per jam !!! Kalau anda ibarat mobil kecepatannya cuman 120 km per jam ya nggak mungkin sukses tanpa kuliah dan dapat gelar karena motivasi anda biasa-biasa saja..

    Dengan memperoleh gelar atau ijazah, MINIMAL CALON MERTUA AKAN LEBIH MENGHARGAI KITA. Saya kira hanya sedikit calon mertua yang menghargai orang yang tidak punya gelar atau ijazah, walaupun hartanya tak terhitung !!!

    Sertfikasi apa yang membuat gaji anda naik banyak ? Kalau anda mau mendengarkan saya, anda harus punya 3 sertifikasi yaitu CISA, CISM dan CISSP.

    Tapi itu kalau anda percaya sama saya. Banyak orang telah sukses karena mendengarkan apa yang saya sarankan. Tapi kalau anda nggak percaya sama saya juga gpp, tanya aja orang lain yang lebih anda percaya !

    Ok ?

    Reply

  26. Agung
    Mar 04, 2008 @ 22:09:02

    kalo saya sih percaya 98% ama Bapak.
    (99%nya buat keluarga,dan 100%nya buat TUHAN).
    hehehehe..!!
    cuma soal sertifikasi gt,saya maonya sih cari yg murah n kemungkinan lulus dalam sekali test lebih besar.
    (maklum soal kyk gini saya mao pake uang sndiri).
    ada gak tuh Pak sertifikasi yang murah dan mudah testnya (yg tentunya cocok dgn cita2 saya)??
    hehehehehe..!!
    ternyata si richard kurang realistis hidupnya.

    richard:
    gw cuma saran yah.
    andrie wongso tuh cuma satu dari jutaan org yg nasibnya baik.
    lagian andrie wongso dan kita tuh jamannya beda.
    jaman skrg cm andalkan bakat dan tekat,ga guna.
    orang liat gelar.
    terusin ibarat buatan Pak Tri Djoko,
    andrie wongso mobil 260km/jam dgn jalanan sepi,kita cm 120km/jam itu pun macet di mana2.
    hehehehehe..!!
    makanya uda gw tulis di atas,
    anak konglomerat aja kuliah.
    bahkan Prince Harry n Prince William aja kuliah.
    padahal tanpa kuliah aja mereka uda pasti dpt warisan ratusan juta pound dr royal kingdom,
    ditambah ud punya gelar PRINCE dr kerajaan dr mereka lahir.
    tapi mereka malah merasa butuh gelar BACHELOR di belakang namanya.
    malah mereka lbh extrim,ga cukup dgn Prince dan Bachelor.
    mereka malah masuk militer.
    hahahahaha..!!
    so,mereka aj msh pentingin gelar akademis.
    gmn kita bs ngrasa begitu sombong dan bilang “gw bs sukses tanpa gelar sarjana”?
    dan mslh calon mertua,ud dibahas 2x di atas,jd ga perlu dibahas lg.
    hrsnya kita bersyukur bisa kul.
    anak tukang becak aj kuliah.
    tp ga perlu extrim2 amat bersyukurnya.
    hehehehe..!!

    Reply

  27. tridjoko
    Mar 05, 2008 @ 08:49:41

    -> Agung : Sertifikat yang paling murah dan sekali test lulus adalah….SERTIFIKAT NIKAH !!!

    He..he..anda tinggal pergi ke kantor urusan agama, mengajukan permohonan disertai persyaratan administrasi, dan mengucapkan kata-kata yang sudah dibisikkan sama penghulu…dan sahlah pernikahan anda dengan pasangan anda..ha..ha..!!

    SEMUA SERTIFIKASI SULIT LULUSNYA dan justru itu yang membuat sertifikasi itu jadi KEREN. Sertifikasi CCNA-pun atau MSNE-pun yang kira-kira bayar USD 150 (Rp 1,4 juta) tidak mudah lho. Banyak teman saya yang mencoba mengambil sertifikasi itu dan langsung gagal dan sampai sekarang nggak nyoba lagi..kapok !!

    Sertifikasi CISA-pun rata-rata harus diambil 2-4 kali baru lulus. Saya punya 2 teman orang BPPT yang sekali ngambil ujian CISA langsung lulus, tapi keduanya lulusan Amerika, dari universitas yang top lagi, satu dari Texas A&M dan satu dari Purdue. Temen saya yang lulusan Belanda 2 kali ngambil CISA dan belum lulus. Teman lainnya lulusan Jepang ngambil 2 kali baru lulus..

    Kembali ke Andrie Wongso, beliau itu hanya memberi motivasi “Bahwa saya yang cuman kayak gini, SD nggak lulus, toh dengan kerja keras (dan “luck”) akhirnya berhasil men-set up beberapa perusahaan seperti kartu Harvest, Young & Trendy dsb”. TAPI PERNYATAAN ITU JANGAN DIBALIK, yaitu “Sukses itu tidak perlu sekolah, apalagi tidak perlu gelar”…(p –> q tidak sama dengan q –> p kalau istilah matematikanya sih…)…

    Saya kira Andrie Wongso sendiripun pasti tidak setuju pernyataan bahwa tidak perlu sekolah untuk sukses. Ada implikasi dari pernyataan Andrie Wongso di atas bahwa, “Jangan tiru saya, sekolahlah yang baik, kalau bisa setinggi-tingginya. Ditambah dengan motivasi yang saya ajari, dengan kerja keras, pikiran terbuka, mau menerima saran dari orang lain, mudah-mudahan anda akan sukses dalam hidup, sukses dalam bisnis, dan sukses dalam karir anda”..

    Kalau nggak percaya dengan yang saya katakan barusan, coba kita panggil Pak Andrie Wongso untuk berbicara lagi di Kampus Binus (tentunya, Binus yang mbayarin, jangan saya !! Muahaaall euy !!)..

    ha..ha..ha..

    Reply

  28. Resa
    Mar 06, 2008 @ 00:43:18

    heheh bener tuch ngambil sertifikasi banyak yang berkali2 apalagi CCIE-nya Cisco.. yang penting sich niat belajar.. gw aja lucky bisa ngambil CEH sekali tembak jebol… :D pengen nyobain CISA and next destination CISSP … :D (mimpi kali yee)

    Reply

  29. Agung
    Mar 06, 2008 @ 13:07:54

    salah Pak,
    justru sertifikat nikah itu juga susah.
    bayangin,hrs pny gelar S2 (syarat dr ortu saya).
    harus pny rumah n mobil pribadi dengan penghasilan di atas Rp10jt sbulan.
    belom lagi di Gereja Katholik Roma,kalo mao nikah ada kursus perkawinan dan lain2.
    resepsinya aja bisa abis Rp 50jtan.
    hehehehehe..!!!!

    Reply

  30. Agung
    Mar 09, 2008 @ 14:02:56

    Resa :
    kalo CEH itu tentang apa yah?
    susah ga?

    Reply

  31. richardwilliam
    Mar 13, 2008 @ 14:40:46

    wah sip2 jadi tergugah ^^ thx pak
    Agung : setuju!! sertifikat nikah itu mahal Pak..and prosesna juga lama lagi..hehehehe
    oiy rata2 masa “berlaku” sertifikasi itu berapa lama yah Pak? maseh newbie ttg ginian seh ^^

    Reply

  32. Ir_WIN
    Mar 26, 2008 @ 14:18:25

    Halo Pak salam..

    Saya senasib dengan Bapak untuk nilai S1 sekitar 2,5 :( untuk lulusan SI Komputer.
    Wah kebanyakan cari cewex dulunya di s1. Sadar2 nya pas dah semester 8 an. WKKWKWK.

    Saya sekarang yang sudah ada pengalaman kerja di Swasta hampir 2 taun dan ingin meneruskan s2 or sertifikat.

    Dan target saya setelah memperbaiki IPK yg tidak sexy akan masuk ke PNS.
    ( Utk PNS Min IPK nya sekitar berapa ya ?)

    Untuk S2 or Sertifikat yg tepat untuk saya apa ya..? Ambil S1 Komputer lulus nya ada sudah empot-empotan… gimana Klo ambil lagi S2 Komputer ya..

    Untuk PNS apa masih dilihat S1 nya atau S2 nya saja Pak?

    Masih bingung mau ambil yang mana..?
    Apa kawin dulu aja ya,, WKWKWKWKWK

    SALAM utk teman2 S1
    SUKSES Bro!

    Reply

  33. arip1982
    Mar 27, 2008 @ 15:39:52

    Salam kenal pak,
    saya adalah mahasiswa binus jur SI, saat ini masih di smes 8 , wah keliahatan dari sems yang ditempuh akan berfikir seharusnya sudah skripsi, kenyataannya blum waktunya, karena saya masuk kelas reguler malam yang terbatas jumlah SKS-nya untuk dapat diambil tiap semesternya…..

    Saya tertarik dengan topik yang bapak ambil setelah S1 melanjutkan kuliah atau ambil sertifikasi???

    Saat ini saya masih kerja sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah,
    1 ) menurut bapak apa yang harus saya lakukan? ambil sertifikasi untuk pengalaman atau ambil kuliah S2,

    2) dan jika saya melanjutkan ke kuliah S2, jurusan apa yang kira-kira berhubungan dengan latar belakang ilmu saya di jurusan SI??

    3)jika saya ambil/mencari beasiswa ke LN kira-kira ke negara mana??

    Ir_Win, knp tertarik jd PNS ??, jika km masuk jadi PNS akan masuk ke golongan pangkat III/a, dengan gaji pokok kalo gak salah sekitar Rp. 1,2-1.4 jt an,-

    S1 dan S2 , pengaruh kepangkatan masuk, jika S1 akan masuk menjadi PNS pangkat gol III/a dan S2 akan menjadi pangkat PNS gol III/b, latar belakang pendidikan akan mempengaruhi juga dengan pangkat maksimal yang akan ditempuh.

    Perbedaan gaji pokok antar pangkat gol III/a dan III/b tidak beda jauh kok..

    Reply

  34. tridjoko
    Mar 28, 2008 @ 17:20:14

    –> Resa : wah..beneran nih anda sekali nembak sertifikasi CEH langsung jebol ? Kalau anda sudah punya sertifikasi CISSP dan CISM lalu nembak CEH langsung jebol, saya sih nggak heran. Tapi nembak CEH langsung jebol, wah anda cocok untuk kerja di salah satu dari “Big Four” nih (PwC, E&Y,KPMG,Deloitte)…

    –> Agung : CEH tuh “Certified Ethical Hacker” jadi hacker “aliran putih” semacam gitu lah ! Ingat buku novel Kho Ping Ho kan ? Kan ada “pendekar aliran putih” yang selalu berbuat baik, dan ada “pendekar aliran hitam” yang selalu berbuat jahat. Jadi CEH ini hacker, tapi untuk maksud-maksud yang berguna bagi orang lain (salah satu tugasnya adalah “memberantas hacker aliran hitam yang sukanya merusak ini dan itu”)…

    Reply

  35. tridjoko
    Mar 28, 2008 @ 17:30:49

    –> Irwin : Salam juga Win !

    Wah, usahakan S1-mu cepet selesai ya nak, tuh orangtuamu sudah nunggu supaya anda cepet lulus (begitu juga, camer – calon mertua – sudah nunggu tuh)…

    Wah, nilai jelek karena kebanyakan “cari cewek” ? Aha, mata kuliah apa itu “Cari Cewek”, wah pasti sks-nya besar ya….ha..ha..ha..

    Belum telat untuk memperbaiki IPK-mu yang sekarang baru sekitar 2,50. Sayang anda tidak menyebutkan dimana anda kuliah Ilmu Komputernya (coba saya tebak : UI, IPB, UGM ?), sehingga saya sulit memberikan masukan yang “cespleng”…

    Syarat masuk PNS minimum IPK adalah 2,75 ! Tapi ingat, jika semua saingan anda IPK-nya 3,25 – 3,70 untuk masuk PNS, hitung sendiri berapa peringkat atau peluang anda untuk tembus…

    Saran saya ada dua :
    1) Tingkatkan IPK S1 hingga 2,75 kalau bisa, lalu coba masuk PNS 2) Jika dengan IPK 2,75 anda belum bisa masuk PNS –> lupakan saja dan go on with your life, masuklah swasta, lalu ambil sertifikasi (CISA atau CISM lebih tepat). Kalau anda masih punya dana, langsung melanjutkan ke S2 Ilmu Komputer juga boleh. Kalau S2 Ilmu Komputer terlalu ngeri, boleh ambil yang lebih mudah dari S2 Ilmu Komputer, yaitu S2 Sistem Informasi (kuliahnya lebih mudah, tapi penghargaan perusahaan/kantor pemerintah, sama saja). Nah, lulus S2 kan harus minimal IPK 3,00 –> setelah itu anda bisa masuk PNS dan kans anda akan jauh lebih besar dengan ijazah S2 di tangan untuk masuk PNS karena berdasarkan pengamatan saya, calon yang mau masuk jadi PNS itu lebih dari 50% sudah dengan ijazah S2 !!! Believe it or not !!!

    Kalau anda nikah dulu, dan isteri anda pengertian dan tidak terlalu nuntut anda kerja setengah mati cari duwit –> pasti kans anda untuk melanjutkan S2 tinggi. Else –> del *.*

    He..he..he…

    Reply

  36. tridjoko
    Mar 28, 2008 @ 17:35:47

    –> Arip : Salam kenal juga Rip !

    Wah, anda nggak lulus-lulus S1 Binus jurusan SI menurut saya bukan karena anda bodoh, tapi karena sudah keburu masuk kerja jadi PNS. Mestinya anda tetap kejar itu gelar S1 Binus secepatnya, biar kamu sendiri, pacar kamu, orangtua kamu, dan calon mertua kamu senang..

    Ngambil sertifikasi CISA atau CISM syaratnya adalah anda sudah sarjana (lulus S1), selain itu ngambil sih bolah-boleh saja cuman sertifikatnya yang nggak bakalan diberi sama ISACA (organisasi yang mengeluarkan kedua sertifikat tersebut).

    Jadi saran saya, selesaikan S1 dulu. Lalu apa tujuan anda, jangka pendek atau jangka panjang ? Kalau jangka pendek, ambil sertifikasi CISA atau CISM. Kalau jangka panjang, ambil S2. Tapi karena saat ini “kedua kaki” anda sudah “terikat” ke PNS, kayaknya ngambil S2 lebih bagus karena nanti akan berpengaruh sebagai golongan gaji anda di PNS. Sedangkan kalau anda lulus CISA atau CISM sekalipun, sebagai PNS nggak bakalan ngaruh apa-apa..

    Itu pendapat saya lo !

    Reply

  37. aldi
    Mar 29, 2008 @ 00:11:05

    terima kasih pak atas masukkannya pak…
    maaf pak arip1982 itu nama alamat blog saya arip1982.wordpress.com, maklum masih newbie dalam dunia blogging

    emang sih klo CISA atau CISM di dunia PNS sih gak ngaruh pak :) he he he… kecuali mau eksis di dunia perusahaan/swasta :)

    arip1982.wordpress.com

    Reply

  38. tridjoko
    Mar 29, 2008 @ 12:06:44

    –> Aldi : Arip eh Aldi, kalau anda sudah PNS dan nantinya akan dapat gelar S1, gelar sertifikasi CISA dan CISM tidak akan ngaruh di karir pegawai negerimu, paling copy sertifikatnya akan disimpan di Biro SDM. That’s all (how stupid, is it ?)

    Tapi CISA dan CISM bisa anda gunakan untuk “ngasong” (moonlighting) cari pekerjaan di luar sehingga mendapatkan tambahan penghasilan (baca blog lama saya : pengembarasenja.blogspot.com). Di kantor saya, teman-teman yang sudah lulus sertifikasi CISA dan CISM jadi “enak jatuhnya” : mobil baru masih bau Jepang, gadget seperti laptop dan hp terbaru sudah pemandangan sehari-hari, dan bisa kesana kemari dibayarin orang…

    Reply

  39. Agung
    Mar 29, 2008 @ 12:22:59

    wow…!!!
    pembicaraan tingkat tinggi.
    hehehehe..!!
    duh,kayaknya kalo dalam “kasus hidup saya” sertifikasi bukan infestasi yang baik deh Pak.
    mending lgs hajar S2 aja n cari kerja di luar sana.
    mudah2an pulang bawa banyak duit n buka usaha di sini.
    yah,minimal terusin usaha Papa saya.
    dengan jadi dosen sebagai sambilan.
    hehehehehe..!!

    Reply

  40. tridjoko
    Mar 29, 2008 @ 16:28:29

    –> Agung : belum tentu, saya barusan dapat pemberitahuan dari ISACA bahwa biaya ujian CISA adalah USD 530 (non member) dan USD 375 (member). Kalau nanti waktu lulus jurusan ganda Binus anda punya duwit segitu, dan nganggur, kenapa nggak coba ujian CISA ? Minimal anda akan tahu CISA itu binatang apa…ha..ha..

    Langsung S2 di luar negeri dan akhirnya kerja di luar negeri juga rencana yang baik, tapi ingat ngambil S2 di luar negeri “credentials” anda (IPK,nilai Toefl, nilai GMAT/GRE) harus “sexy”, kalau nggak bagaimana yang di luar sana bisa nerima anda ?

    Setelah banyak duwit, pulang ke Indonesia, buka warung, dan menjadi dosen sebagai sambilan : wow…sounds like a good plan !

    Reply

  41. Aldi
    Mar 29, 2008 @ 16:48:55

    Sertifikasi CISA dan CISM tidak mempunyai pengaruh apa-apa di lingkungan pemerintahan / PNS, Dan kenyataannya PNS sulit buat mengandalkan gaji dari negara. Setidaknya jika bisa kerja sambilan diluar selama tidak mengganggu tanggung jawab utama sebagai PNS dan bekerja dari usaha dan keahlian, keterampilan, dan citra PNS mudah2an lebih terangkat karena kemampuan dan keahliannya :) bukan dari KKN

    Reply

  42. Agung
    Mar 29, 2008 @ 19:57:22

    SEP…!!!
    IPK saya bentar lagi sexy Pak.
    lihat saja nanti…!!!
    hahahahahahaha..!!!
    soal TOEFL,kalo adek saya yang jauh bgt lebih OON dr saya soal englishny aja bisa dapet 465,
    yah,nilai saya kurang lebih +100 dari dia deh.
    hahahahahahaha…!!!

    ga sembarang warung Pak,
    saya mao buka warung ethanol dan minyak jarak.
    yah kalo saya dapet warisan dari kakek,saya mao beli tanah buat nanem jarak dan jagung.
    jaraknya buat bikin minyak jarak gantinya solar.
    dan jagungnya diolah dan disuling jadi ethanol gantinya bensin.
    sambil terusin usaha Papa di bidang industri alat berat.
    dan jadi dosen di UPH.
    hahahahahaahhahahaaa….!!!!
    hidpu emank sll indah kalo di rencana.
    kenyataannya,saya cuma bisa berserah ama yang MAHA KUASA..!!
    hahahaha..!!

    Reply

  43. tridjoko
    Mar 29, 2008 @ 20:25:51

    –> Aldi : wah…anda sudah di “brain drain” dengan P4 ya ? Ha..ha..ngomongnya sudah kayak pejabat…

    –> Agung : menentukan warung bisnis yang berhubungan dengan teknologi itu susah-susah gampang. Mestinya anda ngomong dengan orang yang ahlinya, macam Pak Tri Djoko ini. Teknologi itu harus dilihat prospeknya atau roadmapnya ke depan (10-25 tahun ke depan) seperti apa ?

    Menurut saya ethanol dan minyak jarak bakal feasible jika harga minyak > USD 90 per barrel. Kalau harga minyak jatuh < USD 90 per barrel, otomatis bisnis ethanol dan minyak jaraknya bakal rugi. Saya baca di koran, pemerintah belum memberi insentif semestinya semacam “tax holiday” kepada pengusaha biofuel (ethanol + minyak jarak), jadi mereka yang sudah jadi pengusahapun sudah banyak ngeluh kepada pemerintah karena sudah kebayang merugi…

    Kalau mau, lebih baik anda bisnis FUEL CELL yang mulai banyak terdapat di mobil-mobil hybrid masa depan macam Toyota Prius yang di Amerika sudah laris kayak kacang goreng. Karena fuel cell itu energi bersih dan ramah lingkungan, mirip biofuel tapi lebih pasti masa depannya dan “tidak banyak politik”..

    Yah, man proposes God disposes. Manusia boleh merencanakan tapi Tuhan jua yang menentukan.

    As long as you’ve already have a plan, that sounds good…

    Reply

  44. Agung
    Mar 30, 2008 @ 08:21:12

    nah,
    makanya saya berani ngomong di blog Bapak ini.
    karena feeling saya,saya akan dapet pencerahan dari Bapak.
    hahahahahaha…!!
    ternyata bener juga.
    soal biofuel emank belom dapet dukungan pemerintah sekarang2 ini.
    tapi saya pikir,”warung” saya nanti mungkin akan saya jual ke singapur ato malaysia,kalo misalnya orang2 pertamina ga seneng dengan biofuel.
    menurut saya sih,seharusnya harga biofuel ga perlu tergantung ama harga minyak dunia.
    kita lihat dari harga prosesnya aja.
    jelas,pemrosesan minyak bumi sampe jadi solar ato bensin lebih mahal dari pada buah jarak jadi minyak jarak ato jagung jadi ethanol.
    mungkin teknologi yang efisien pemrosesan yang mungkin akan saya jadikan tender nanti.
    fuel cell juga ide yang bagus.
    cuma saya belom tau dalem2nya soal teknologi itu.
    hehehehehehe..!!
    satu lagi Pak.
    PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MANUSIA.
    buat gantiin PLTU yang pake BBM.
    selain ramah lingkungan,bisa mengurangi pengangguran,dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
    kira2 kalo 5000 orang goes sepeda statis bisa ga yah nghasilin listrik 50Mega watt???
    hahahaha..!!
    itu yang belom saya pikirin teknologinya.
    yang jelas kalo soal pemasaran dan managementnya saya uda rancang.
    (*makanya Pak IPK saya ga se-sexy tmn2 saya,saya kbykan mikir yang aneh2 sih. hahahaha..!!*)

    Reply

  45. tridjoko
    Mar 30, 2008 @ 13:38:26

    –> Agung : saya banyak bergaul dengan orang yang menggiatkan industri biofuel atau biodiesel, makanya dikit banyak saya tahu apa yang mereka pikirkan. Sebagus-bagusnya teknologi, dan sebagus-bagusnya teknologi proses yang dilalui, pada akhirnya ongkos produksi juga (dan juga pasar) yang menentukan..

    Makanya, engineer itu selalu kalah sama accountant. Coba baca “Lee Iacocca : An Autobiography”, Lee itu adalah Direktur Teknik Ford yang punya ide-ide cemerlang, tetapi malah dipecat sama yang punya Ford karena idenya “mahal” alias perlu dana banyak. Setelah dia jadi CEO Chrysler, maka instinknya sebagai engineer hidup lagi dan dia mulai meluncurkan mobil MiniVan yang laku keras di pasaran Amerika..

    Saya kira di Binus, para engineer juga sudah kalah sama accountant (sorry to say). Artinya in the end, business is much more important than technical matters..

    Pembangkit Listrik Tenaga Manusia (PLTM) ? Wah, sounds a good idea. Brarti, kita kembali ke jaman Fred Flinstone dong ! Ya ba da ba doooo…!

    Kalau 5000 orang mengayuh sepeda buat menghasilkan listrik itu saya kira listrik yang dihasilkan baru 5 Megawatt. Celakanya, begitu listrik nyala –> ke 5000 orang tadi sudah pingsan !!!! He..he..jadi buat apa listrik nyala…

    Kalau saya pribadi melihat banyaknya penduduk Indonesia, paling efisien adalah PLTN (tenaga nuklir). Mengenai bahayanya memang harus dipikirkan keras-keras, tapi Korea dan China sudah menggunakan PLTN dan listrik mereka terang benderang dan dengan harga yang relatif murah..

    Kalau ada protes dari penggiat lingkungan, ya emang sekali lagi : engineer kalah sama environmentalist !

    Kalau udah mau lulus, mikir yang enggak-enggak harus segera dihilangkan supaya IPK-mu jadi “sexy”…

    Reply

  46. Agung
    Mar 31, 2008 @ 08:56:09

    yah,itu baru ide Pak.
    kita ga tau masa depan biofuel 5 ampe 10 thn ke depan.
    saya harap sih cerah2 saja ide saya.
    hehehehe..!!
    saya emank akan lebih pikirin sistem management dan keuangannya (pemasaran,penjualan,dan biaya produksi).
    asal tuh minyak bisa bikin mobil jalan normal tanpa ngrusak mesin,langsung hajar.
    hehehehehe..!!
    makanya nanti saya nuntut ilmu dari orang2 erpa dolo.
    baru pas pulang.
    hehehehehehe..!!!

    yah,abis dr pada banyak yang ga makan Pak.
    mending saya gaji buat goes sepeda statis yang bs nghasilin listrik.
    hehehehehehehe..!!!
    mungkin perlu ada penelitian untuk efisiensi produksi energi dari per satuan sepeda statis.
    yah,tapi itu cuma ide2 gila saya.
    abis di indo kalo ga gila,pasti jadi sableng.
    kalo ga sableng,yah gendeng.
    hahahahaha…!!

    Reply

  47. tridjoko
    Mar 31, 2008 @ 21:26:30

    –> Agung : ya Gung, kayaknya anda sudah rada-rada sekarang…soalnya kebanyakan mbaca blog yang nggak ada juntrungannya ha..ha…

    Saya dulu pernah nemu buku bagus di toko buku Korea, kalau nggak salah judulnya “Prepare your project portfolio” harganya sekitar W 35,000 (Rp 240.000). Tapi mau saya beli, lupa lagi tempatnya. Padahal buku itu pasti cerita tentang bagaimana men-start sebuah project yang probabilitas berhasilnya lumayan besar…

    Reply

  48. Agung
    Mar 31, 2008 @ 22:26:34

    rada2 mah uda dari dolo Pak.
    hahahahahahahaa….!!!!
    yah,soal ide mah banyak banget di otak.
    cuma susah keluarinnya.
    dan juga ga compatible ama situasi dan kndisi di indo.
    hehehehe..!!
    justru blog ini bikin saya jadi sadar seberapa “rada2″nya saya.
    dan bikin saya sedikit waras.
    hehehehehehehe..!!

    Reply

  49. tridjoko
    Apr 01, 2008 @ 19:34:33

    –> Agung : Wah…kalau anda sudah merasa “sedikit waras” itu tandanya anda sudah harus segera periksa ke dokter…ha..ha..ha…

    Makanya jadi dosen terus kayaknya saya jadi “rada-rada”, makanya ini saya sering jalan ke luar kota biar sedikit “waras”…

    Emang, tidak hanya mesin motor, tapi otakpun perlu sering-sering di-“tune-up” dan “ganti oli” hi..hi..hi…

    Reply

  50. Agung
    Apr 01, 2008 @ 22:18:57

    hehehehehehe..!!
    yah,makanya saya sering2 ke UPH sekarang2 ini.
    selain cuci mata dan otak,saya juga dapat byk ilmu lho.
    hehehehehehe..!!
    sekarang lagi di Madiun yah Pak?
    wah,pulang ke hometown dong yah?!
    hehehehehe..!!

    Reply

  51. tridjoko
    Apr 02, 2008 @ 21:47:58

    –> Agung : nyuci mata di UPH ? Are you kidding ?

    Saya pernah barang 1-2 jam menanti isteri saya yang ikut seminar di UPH, selama itu saya mengamati para mahasiswa-mahasiswinya. Kayaknya anak2 UPH lebih tajir2 dari anak Binus in general. Tapi face-wise, I should admit that Binusian have much more advantage (no offence to UPHers…)..

    Reply

  52. Agung
    Apr 03, 2008 @ 07:26:54

    but it depends,Sir.
    tergantung Bapak nongkrong di mana di UPHnya.
    yang bagus tuh anak2 FISIP ama tourism Pak.
    hehehehe..!!
    bisa dibayangkan,saya kalo ke UPH.
    nongkrong di gazebonya.
    di mana cewe cakep + pohon2 hijau itu uda kayak surga (di mana di BINUS sangat gersang,dan pohonnya dikit).
    trus makan niku udon di food junction.
    wah,indah tenan Pak.
    terus jalan2 ke gym,soccer field,dan perpusnya.
    mantap deh pokoknya.
    hehehehehehehehe..!!

    Reply

  53. tridjoko
    Apr 03, 2008 @ 22:19:58

    –> Agung : Saya nongkrong waktu itu di mobil saya di tempat parkir. Yang saya amati mahasiswi yang lagi ngambil mobil..

    UPH lebih hijau ? Memang rumput tetangga lebih hijau sih..ha..ha..

    Dulu di Binus ada pegawai yang tugasnya merawat tanaman, namanya Haji Mahdi, orang sekitar kampus. Tapi ia sudah pensiun dan tidak ada lagi yang bisa merawat dan menggandakan tanaman akibatnya kampus Binuspun semakin gersang…

    Tapi kalau mau berharap, saya pengin kampus Binus banyak hutannya macam di UI Depok, dan macam kampus saya dulu di Indiana…

    Reply

  54. Agung
    Apr 03, 2008 @ 22:46:31

    yah…!!!
    justru yg bagus2 tuh ada di food junction,
    di sekitar gedung D.
    ama di gym.
    rumput tetangga emank selalu terlihat lebih hijau,daripada rumput sendiri.
    hehehehehehehehe..!!
    iyah Pak,
    menurut saya yah Pak.
    univ tuh emank bagusnya di pinggiran kota.
    di mana ga gt padat dan byk space buat pohon2.
    yah,tapi karena Binus dapetnya di situ,
    yah,gpp sih.
    toh,uda byk mahasiswa yang bertahan dan bisa lulus dgn baik.
    semoga saya pun demikian.
    hehehehehehe..!!

    Reply

  55. tridjoko
    Apr 04, 2008 @ 10:50:06

    –> Agung : Whaaaaaatttt ? Anda melihat-lihat mahasiswi di Gym ? Ya ampun, saya nggak sadar anda segitu “parah”nya ?

    Saya jadi ingat beberapa film Prambors jaman dulu yang setiap Sabtu selalu diputar ulang di TV Malaysia dan Singapore yang banyak view-nya waktu ketiga tokoh Warkop lirak-lirik cewek di Gym…

    He..he..he…apakah anda anggota Warkop yang baru Gung ?

    Iya, saya rasa Binus juga terlalu gersang, sementara ini memikirkan gedung dulu, sedangkan taman barangkali nanti ada yang memikir Gung…

    Reply

  56. Agung
    Apr 04, 2008 @ 10:58:39

    yahhh…!!!!
    maaf atuh Pak,kalo gitu mah.
    hahahhahahahahahha….!!!!
    ga se”parah” itu lah.
    kan cuma cuci mata,bukan bikin otak kotor.
    hahahahahahahaha….!!!!
    saya malah ga tau tuh soal film warkop yang itu.

    wah,soal penghijauan kampus,
    menurut saya uda ga mungkin Pak.
    uda terlalu padat,dan lahan Binus tuh ga “bulat”.
    jadi sangat sulit.
    yah,selama masih ada pemandangan lain yang lebih hijau dari pohon oak di inggris sana.
    masih OK lah buat saya.
    hehehehehehehe….!!!!!

    Reply

  57. tridjoko
    Apr 04, 2008 @ 15:50:31

    –> Agung : satu-satunya jalan adalah dengan “teknik montase” seperti di TV itu, misalnya gambar seorang penyiar yang di belakangnya ada jalan raya dengan mobil berseliweran, padahal sebenarnya di belakang penyiar itu kan cuman layar kain berwarna biru saja (hal detail tentang hal ini, silahkan nanya ke mahasiswa DKV)…

    Jadi, di belakang dan samping kampus Anggrek itu bisa dipasangin layar kain tinggi dan digambar pohon-pohon berupa hutan, sehingga kalau difoto dari jauh kampus Anggrek seolah-olah seperti di tengah hutan…ha..ha..ha..

    Minimal mimpi saya kampus Binus berada di tengah hutan tercapai..ha..ha..

    Reply

  58. Agung
    Apr 04, 2008 @ 16:40:11

    ternyata Bapak juga “pecinta penghijauan” juga yah?
    hehehehehe..!!
    waktu Binus mao beli lahan di BSD,saya uda seneng2 aja.
    soalnya kan BSD deket dr rumah saya,dan BSD msh lebih adem drpd Kemanggisan.
    “wah,Binus buka kampus di BSD”,pikir saya.
    eh,malah jadinya Binus School.
    yah,kalo pake layar segede gt.
    malah jadinya panas.
    cuma sugesti aja adem di mata,karena liat byk pohon ijo2.
    tapi aslinya msh ada emporium,multiplus, i-point,ditambah M-11 dan M-24 mondar mandir.
    hehehehehehehehehe…!!!

    Reply

  59. Tri Djoko
    Apr 04, 2008 @ 22:19:34

    –> Agung : emang Binus senengnya ekspansi vertikal. Jadi yang dipikirin ama Binus nggak selalu harus Binus University-nya dulu…

    Salah satu cara “menghijaukan kampus Binus” lainnya adalah menjadi simpatisan partai Pemilu 2009 yang warnya ijo dan setiap dosen dan mahasiswa harus mengenakan kaos ijo…

    Jadi, ijo deh kampus Binusku !!!

    he..he..he..

    Reply

  60. Agung
    Apr 04, 2008 @ 22:32:21

    kalo itu sih penghijauan dengan makna denotasi.
    hehehehehe..!!
    padahal yah,kalo ampe buka di BSD,
    peluang pasarnya lebih besar.
    karena Univ di Tangerang n BSD cuma ada UPH dan SGU yg dua2nya mahal2.
    dan ampe saat ini UMN,UNTAR,dan Atmajaya belom selesai proses bikin kampusnya.
    sedangkan kalo sekolah,
    di daerah Tangerang dan Serpong tuh byk sekolah2 bonafit yang reputasinya ga diragukan lagi kyk Santa Ursula BSD,Santa Laurensia,SMUK Penabur GS,Tarakanita,Saint John,dan masih banyak lagi.
    yah,mungkin ada pertimbangan lain dr pihak Binus.

    Reply

  61. Tri Djoko
    Apr 04, 2008 @ 22:49:46

    –> Agung : kalau menurut asas lokalitas, Binus biasanya membangun kampus dekat dengan kampus yang lama. Sebagai contoh, awalnya ada kampus Syahdan, nah Binus membangun kampus yang dekat dekat Syahdan, yaitu Kampus Kijang. Bila perlu kampus lagi, tinggal cari tanah yang dekat dengan Kampus Syahdan, maka dibangun kampus Anggrek.

    Dengan algoritma yang sama, pasti berani taruhan Binus kalau membangun kampus baru akan dekat-dekat saja dengan kampus Syahdan-Kijang-Anggrek. Berarti masih dilalui M11 atau M23 atau B91..

    My best bet is in front of SMA 78 ?

    How’s about that ?

    Kalau BSD kayaknya captive marketnya kecil karena jauh dari mana-mana (tidak terletak to the center of the earth, kata Rick Wakeman..ha..ha..)..

    Biarlah Binus School saja yang dibangun di BSD..

    Reply

  62. Agung
    Apr 04, 2008 @ 22:57:55

    yah,mungkin juga sih.
    emank kalo dipikir2,kalo bikin kampus baru yang jauh,operasionalnya pun akan repot.
    wah,kalo kampus baru berikutnya,
    saya uda dapet bocoran dari orang yang sangat terpercaya di kelas 06PAW (i bet you know him).
    hehehehehe..!!
    katanya kampus baru akan didirikan di tempat yg sekarang jd tempat parkir darurat Binus.
    yah,msh dilewatin M11 dan M24.
    tapi msh ada pertimbangan antara bikin kampus ato dorm ato malah both.
    itu sih info yang saya dapat Pak.
    hehehehehe..!!

    Reply

  63. tridjoko
    Apr 04, 2008 @ 23:03:10

    –> Agung : yes, I know who you are talking about (wah..kayak nyebut Lord Voldermort aja nggak berani)..hi..hi..

    Wah, kalau di tempat parkir sementara Binus bakal dijadikan kampus atau dorm, terus dikemanakan tuh parkiran mobil-mobil ?

    Saya sih mau saran bikin kampus aja, soalnya dorm udah banyak dibuat sama penduduk setempat, dari belakang SMA 78 sampai dekat rumah S. Djodi sampai Rawabelong, semuanya sudah penuh dengan rumah kost…

    Belum yang di jalan S, T, U, V, W semuanya penuh dengan rumah-rumah kost ber-internet…

    Apakah “you know I am talking about” juga nyebut mau membangun kampus depan SMA 78 ?

    Reply

  64. Agung
    Apr 05, 2008 @ 07:27:55

    makanya di belakang kampus anggrek itu,gazebo2nya dihancurkan,mau dibuat gedung parkir.
    mungkin Binus mao merais rejeki lain dr dorm.
    karena kalo dilihat,tingkta keamanan rumah2 kos itu kurang baik.
    mungkin karena itu Binus mengambil inisiatif buat bikin dorm.
    tapi kan belom tentu jadi.
    kata “dia” sih yg uda pasti bikin kampus lagi di situ.
    hehehehehehe..!!
    wah,”dia” ga bilang soal yang di dpn SMA 78 Pak.
    emank di situ tanahnya uda dibeli Binus?

    Reply

  65. Agung
    May 08, 2008 @ 19:23:00

    Pak,saya mao tanya soal sertifikasi SAP.
    apa itu bgs dan berguna Pak??

    Reply

  66. tridjoko
    May 08, 2008 @ 23:50:27

    –> Agung : mengenai SAP, menurut pendapat saya yang diperlukan adalah terjun dan terlibat langsung dalam pembuatan suatu modul (mis. Accounting) dalam rangka SAP development. Satu module biasanya makan waktu 1-2 tahun..

    Itu jauh lebih berguna daripada selembar sertifikasi SAP yang belum tentu dibutuhkan oleh real world…

    Reply

  67. Agung
    May 09, 2008 @ 07:19:30

    oooo…!!!
    soalnya yg di promosikan binus center kan sptnya SAP keren banget.
    saya kurang ngerti juga SAP tuh belajar apa aja,ato gunanya di mana.
    hehehehehehe..!!

    Reply

  68. tridjoko
    May 09, 2008 @ 10:58:16

    –> Agung : SAP itu salah satu dari software yang digunakan untuk ERP (Enterprise Resource Planning). ERP adalah “totalitas komputasi” untuk seluruh fungsi di suatu perusahaan, misalnya : Accounting, HRD, Production, dan sebagainya tergantung perusahaannya besar atau kecil…

    Jadi apa yang terjadi kalau anda dapat sertifikat SAP tapi nggak pernah terlibat langsung (baca : coding) dalam pengembangan satu modul dalam ERP. Pasti kacau dan nggak nyambung kan ?

    Feeling saya, sertifikat CCNA, MSNE mungkin lebih berguna daripada SAP…

    Reply

  69. Agung
    May 10, 2008 @ 14:56:01

    mmm…!!
    iya jg sih.
    kalo hidup tanpa sertifikat gt2an,gpp kali Pak yah?!
    sbnrnya kalo saya pribadi mungkin lbh “bakat” dan suka ke CISA.
    tp mnurut cerita Bapak,CISA angker banget.
    hehehehehehehehehehe…!!
    ada lg CHRP (Certified Human Resource Professional) di tawarin dari atmajaya.
    Pak,ada lagi ga sertifikasi yg mirip2 CISA gt??
    yg condong ke aplikasi IT di management,business,dan industry??!

    Reply

  70. tridjoko
    May 10, 2008 @ 16:27:12

    –> Agung :

    Orang hidup itu ditakdirkan mempunyai banyak sertifikat…he..he..he.. : sertifikat lahir (akte), sertifikat nikah, sertifikat tanah, ….lha masak nggak punya sertifikat profesi ?

    Punyailah sertifikat yang “laku dijual”. Kalau bagi saya sendiri, dari YANG TERPENTING sampai yang nggak begitu penting RANKING SERTIFIKAT adalah :
    1. CISA (dasar soalnya); 2. CISM (soulmatenya CISA); 3. CISSP (lebih serem dari CISM, sebenarnya mirip); 4. CIA (dasar seperti CISA tapi saya spt akuntan kalau punyai ini); 5. CFA Level 1 (dasar dari financial) 6. CFA level 2 (intermediate stl level 1); 7. CFA level 3 (gileee men, anda sama dengan Roy Sembel kalau punya ini, sumpah !!!!); 8. CPM (dasar bagi project management); 9. CEH (sereeeem banget, tapi kerjaannya menghadapi ilmunya hacker aliran hitam); 10. Sertifikat kematian (tanpa yang ini, anda nggak bisa dikubur !!!!)..

    Sertifikat “tawaran dari toko lainnya”…saya nggak ambil soalnya nggak gitu penting… Selain itu, who cares ?

    Kalau anda punya sertifikat-sertifikat yang saya sebutin ini….rumah Pondok Indah, apalagi yang pinggir lapangan golf….gampang dibeli !!

    Dan juga masih ada kembaliannya (ini yang penting !!!!)…

    Atau, anda masih beli rumah model kuno di Benteng sono !!! (itu yang jauh lebih penting)…

    Ha..ha..ha..

    Reply

  71. Agung
    May 10, 2008 @ 21:08:12

    wah,CPM kyknya seru tuh Pak.
    klo CPM itu tentang apa aj Pak??
    mahal gak Pak?? dan apa hrs lulus S1??
    hehehehehehehehe…!!

    abis,saya pesimis nih ama skil saya utk bs dptin salah satu dr sertifikat2 itu.
    hehehehehehehehe…!!

    oooo…!! gt yah Pak?!?!
    saya mah kalo beli di Pondok Indah juga,mending saya sewain buat orang bule ato disewain buat shooting sinetron.
    hehehehehehehehhehe…!!
    tinggal mah enakan di Tangerang (Benteng)..!!
    hehehehehhehe…!!

    Reply

  72. tridjoko
    May 10, 2008 @ 21:44:50

    –> Agung :

    CPM = Certified Project Management. Saya belum pernah explore dimana ngambilnya, berapa bayarnya, sulit atau tidak ngedapetnya dan sebagainya…

    Tapi CPM banyak digunakan di Construction Management (Teknik Sipil, Arsitek), atau di pabrik-pabrik hi-tech macam Pabrik Kapal PT. PAL Surabaya atau pabrik kereta api PT. INKA di Madiun. Kalau proyek pengembangan software, mungkin perlu kalau ada proyek yang sedemikian besar seperti yang ditulis oleh Frederick Brooks Jr. “The Mythical Man-Month” waktu mereka membuat Operating System IBM S/360…

    Kalau saya punya rumah di Pondok Indah, mending saya tinggali sendiri. Lumayan, tetanggaan ama Dhani dan Maia Achmad, Inul, dan selebritis-selebritis lain. Dan nanti mahasiswa Binus akan saya undang buat “party” di rumah saya. Cool kan ?

    Kalau saya punya duwit lebih, saya mau beli “rumah kayu” di Jepara atau Lampung, “rumah joglo” di Yogya atau Solo, dan “rumah bali” di Karangasem..

    Mimpi itu indah, man !

    Reply

  73. Agung
    May 11, 2008 @ 12:11:15

    wah sptnya bole jg tuh CPM.
    tapi saya perlu info lbh lanjut nih.
    heheheheheheehhehehe…!!!

    nanti kalo bikin party2,jgn lupa ajak saya yah Pak..!!!
    panggil DJ donk?!?!?!
    hahahahahahahaha…!!
    yah,ditinggali jg bole lah.
    biar bs numpang ngtop.
    sapa tau kalo ada “skandal” dgn tetangga kita itu yg artis,
    wartawan infotaiment dtg ke rmh kita buat wawancara.
    dan kita bs amplify our self.
    sapa tau bs jd artis ato selebs juga.
    hehehehehehehehehehe….!!!!!!

    Reply

  74. Ir_WIN
    Jun 26, 2008 @ 13:25:02

    –> Irwin : Salam juga Win !

    Wah, usahakan S1-mu cepet selesai ya nak, tuh orangtuamu sudah nunggu supaya anda cepet lulus (begitu juga, camer – calon mertua – sudah nunggu tuh)…

    Wah, nilai jelek karena kebanyakan “cari cewek” ? Aha, mata kuliah apa itu “Cari Cewek”, wah pasti sks-nya besar ya….ha..ha..ha..

    Belum telat untuk memperbaiki IPK-mu yang sekarang baru sekitar 2,50. Sayang anda tidak menyebutkan dimana anda kuliah Ilmu Komputernya (coba saya tebak : UI, IPB, UGM ?), sehingga saya sulit memberikan masukan yang “cespleng”…

    Syarat masuk PNS minimum IPK adalah 2,75 ! Tapi ingat, jika semua saingan anda IPK-nya 3,25 – 3,70 untuk masuk PNS, hitung sendiri berapa peringkat atau peluang anda untuk tembus…

    Saran saya ada dua :
    1) Tingkatkan IPK S1 hingga 2,75 kalau bisa, lalu coba masuk PNS 2) Jika dengan IPK 2,75 anda belum bisa masuk PNS –> lupakan saja dan go on with your life, masuklah swasta, lalu ambil sertifikasi (CISA atau CISM lebih tepat). Kalau anda masih punya dana, langsung melanjutkan ke S2 Ilmu Komputer juga boleh. Kalau S2 Ilmu Komputer terlalu ngeri, boleh ambil yang lebih mudah dari S2 Ilmu Komputer, yaitu S2 Sistem Informasi (kuliahnya lebih mudah, tapi penghargaan perusahaan/kantor pemerintah, sama saja). Nah, lulus S2 kan harus minimal IPK 3,00 –> setelah itu anda bisa masuk PNS dan kans anda akan jauh lebih besar dengan ijazah S2 di tangan untuk masuk PNS karena berdasarkan pengamatan saya, calon yang mau masuk jadi PNS itu lebih dari 50% sudah dengan ijazah S2 !!! Believe it or not !!!

    Kalau anda nikah dulu, dan isteri anda pengertian dan tidak terlalu nuntut anda kerja setengah mati cari duwit –> pasti kans anda untuk melanjutkan S2 tinggi. Else –> del *.*

    He..he..he…

    __________________________________

    Sorry Bos baru sempat baca and Posting lagi.

    Gw kan dah lulus 2 taun lalu. Tapi kelamaan lulus nya karena itu,, SKS yg GUEDE! WKWKWKK

    Wah thanx INFO nya Bos..

    Gw sekarang mau coba jalanin S2 sambil Kerja. Moga2 bisa berhasil bagi waktu nya.

    “Sayang anda tidak menyebutkan dimana anda kuliah Ilmu Komputernya (coba saya tebak : UI, IPB, UGM ?), sehingga saya sulit memberikan masukan yang “cespleng”…”

    Wah ngaruh ya kasih masukan sama Nama Kampus nya?

    Gw kuliah di UBL ( Universitas Budi Luhur SI )

    Nah untuk S2 Sistem Informasi niat mau ambil E-Business or dll.

    Kalau S2 Ilmu Komputer terlalu ngeri.

    Menurut pendapat Bos gimana?

    Reply

  75. Ir_WIN
    Mar 03, 2009 @ 13:33:48

    Bos lihat di Binus untuk Peminatan Magister Manajemen Sistem Informasi (MMSI) :

    * Enterprise Information Systems
    * Information Systems Valuation

    Gelar : Magister Manajemen Sistem Informasi (MMSI).

    Pilih yang mana ya Enterprise Information Systems / Information Systems Valuation?

    Mas Irwin,
    Kalau saya jadi anda, saya akan memilih bidang peminatan “Enterprise Information Systems” soalnya istilah itu lebih “dong” “in” “catchy” daripada bidang peminatan satunya yaitu “Information Systems Valuation”..

    Kalau Enterprise Information Systems ketahuan mau kemana larinya yaitu : bikin Business Process Reengineering, bikin IT Strategic Plan, bikin IT Road Map, bikin IT Master Plan, dan mulai implementasi/transformasi ke Enterprise Information Systems sehingga jadinya perusahaan seperti Krakatau Steel, Astra Int’l dan perusahaan-perusaaan Tbk lainnya…

    Sedangkan Information Systems Valuation cakupan perusahaannya kurang begitu jelas : perusahaan besar, perusahaan sedang, atau UMKM ? Itu kalau saya nggak salah mengartikan IS Valuation sebagai IS/IT Benefit Realization lho… Konsep yang ini masih agak ngambang-ngambang di awang-awang dibanding dengan konsep yang pertama di atas (EIS)…

    Tapi itu pendapat saya lho, mungkin anda pribadi yang penginnya beda…. ya bisa aja ngambil pilihan yang kedua…

    Reply

  76. Rae Sinekti
    Mar 10, 2009 @ 15:02:58

    Naksir Ikut CISA, lagi ngajuin biaya pendidikan ke kantor……enaknya ngambil dimana yah ??????

    Mas Rae,
    CISA Preparation Review bisa ambil di Binus JWC, Jalan Hang Lekir Jakarta (persis diapit sama Universitas Dr. Moestopo dan Senayan City). Empat tahun yang lalu biayanya Rp 5,5 juta selama 12 pertemuan (1 minggu 3 pertemuan) sore hari jam 18.30 – 20.30.

    Ngambil ujian CISA-nya bisa ndaftar langsung di http://www.isaca.org/ dengan biaya antara USD 420 – USD 520 tergantung kemudahan apa saja yang anda inginkan…

    Reply

  77. R.Adhi Eko SInekti
    Mar 12, 2009 @ 11:23:57

    Matur Suwun informasinya masss

    Sami-sami mas…. ;-)

    Reply

  78. Dila Ayu
    Mar 20, 2009 @ 15:12:32

    Halo Pak, sebelumnya maaf ya pak, kalau saya salah tempat di komennya. Tapi menyinggung2 sertifikasi juga kok Pak. :D

    Saya akan melakukan registrasi peminatan. Uhm,saya jadi tertarik dengan peminatan yang ada hubungannya dengen sertifikasi2 seperti applied networking (cisco) dan applied database (oracle), karena banyak yang bilang prospek kedepannya itu waaaaah (banyak dicari, digaji tinggi, bahkan di luar negeri).
    Tapi pertanyaannya apakah sebaiknya kalau mau sertifikasi, ambil training course saja ya Pak? Ataukah ada kelebihan2 tersendiri kalau ambil sertifikasi lewat peminatan?

    Dila Ayu,
    Masalahnya kalau anda ambil bidang peminatan Networking di Binus, misalnya, maka jumlah mahasiswa yang masuk peminatan itu dibatasi, kalau nggak salah maks 25 orang ?

    Nah, bisakah anda compete dengan mahasiswa2 Binus lainnya sehingga anda dijamin bisa masuk peminatan Networking ? Itu permasalahannya…

    Kalau bisa sih, ya belajar sertifikasi misalnya CCNA, ya lewat peminatan aja soalnya sambil belajar sambil nyiapin buat sertifikasi, jadi “learning curve”nya tidak terlalu terjal…

    Sebaliknya kalau anda mau ambil sertifikasi lewat kursus, misalnya CISA Preparation Course di Binus JWC yang saya ambil tahun 2005 kemarin biayanya sudah Rp 5,5 juta untuk 12 kali pertemuan. Belum biaya ujian CISA-nya waktu itu $ 420 (Rp 4,5 juta). Jadi totalnya aja sudah Rp 10 juta. Itu 4 tahun yang lalu. Tahun 2009 ini biaya ujian CISA kalau nggak salah sudah membengkak menjadi $ 520 dan biaya CISA Preparation Course mungkin sudah Rp 6 juta. Jadi perlu dana total Rp 11,5 juta..

    Jadi anda melihat kan, bahwa mengambil sertifikasi lewat jalur peminatan waktunya lebih lama, nyaris tanpa biaya. Karena biayanya ya biaya SPP anda di Binus itu..

    Ok, Dila ?

    (Wah nama anda kayak nama anak saya : Ditta Ayu)

    Reply

  79. Dila Ayu
    Mar 20, 2009 @ 20:22:20

    Wah, iya Pak. Itu dia pertimbangan saya. Karena sangat compete, saya berpikir, apakah worth it untuk menaruh peminatan ber-certified dalam daftar registrasi peminatan itu ^^.
    Kalau memang worth it, saya ‘rela’ mencoba mendaftar meski apapun hasilnya –merelakan satu dari dua kesempatan memilih untuk di- ‘gambling’ dlm registrasi peminatan, hehe– :)

    Ok Pak Tri, terima kasih atas penjelasannya.

    Dila,
    Jadi gimana kompetitifnya bidang peminatan “Networking” itu ? Apa disaring berdasarkan IPK ? Berapa IPK terkecil untuk masuk kedalam “The best 25″ yang masuk peminatan “Networking” ?

    Berapa IPK anda ? Nah, dari sana anda bisa menebak apakah anda bisa masuk ke bidang peminatan “Networking”. Saran saya, coba dulu milih Networking (Plan A). Nanti kalau gagal ya terserah Binus aja, apa bidang peminatan anda, misalnya Database atau Multimedia (Plan B). Nah kalau anda dapat Plan B, berarti sertifikasi anda cari sendiri dan bayar sendiri…emang mahal, tapi apa mau dikata ?

    Reply

  80. Dila Ayu
    Mar 22, 2009 @ 00:41:31

    Sepertinya penyaringan tidak hanya berdasarkan IPK saja Pak.
    Berikut syarat ‘hanya’ untuk available mendaftarkan diri pada peminatan “Networking” :
    – Nilai akhir mata kuliah Algoritma dan Pemrograman minimal A
    – Nilai akhir mata kuliah Jaringan Komputer minimal A
    – Score TOEFL minimal 500, dan
    – IPK sampai dengan semester 3 minimal 3.25

    Merujuk kepada syarat2 diatas, saya menduga (waduh, maaf Pak jadi menduga-duga), sepertinya penyaringan tidak hanya didasarkan pada IPK saja Pak.

    Tetapi tanpa bermaksud pesimis, saya pribadi legowo saja kok Pak apabila yang saya dapatkan adalah prioritas kedua (dimana pada pendaftaran, saya menempatkan peminatan bersertifikasi pada prioritas pertama). Karena saya pun sangat menaruh minat pada prioritas kedua saya. Sepertinya nothing to lose ya Pak? Hahaha.
    Wish me luck Pak ^^

    Dila,
    Ya nothing to lose lah…lha wong kita bisanya kan cuman milih, sedang nanti yang milihin kan Binus…hehehe…

    Yang penting sudah berusaha keras, tetap semangat, dan see what will happen…

    Kadang orang itu nggak bisa mendapat yang terbaik, tapi mendapat yang no.2 terbaikpun malahan ok karena nanti jalan hidupnya di sana…

    Ok semoga sukses dengan pemilihan peminatannya…

    Reply

  81. desmi
    Apr 06, 2009 @ 15:04:28

    pak mo nanya saya lulusan SK binus,saya mempunyai certifikat CCNA.

    Klo ingin kuliah S2 lagi mendingan MTI,apa MMSI?

    tp melihat IPK saya yg kurang bagus di SK saya ragu kalau yang murni komputer..kalau MMSI certifiacated CCNA saya takut tidak guna karena lebih fokus k managementnya..

    saya juga bingung ngambil CCNP atau CCSP ya pak??saya lebih condong ke securitynya tp bagaimana dengan peluang kerja sekarang??

    regards

    Ismed,
    Menurut saya kurikulum MTI dan MMSI nyaris sama sih, jadi anda ngambil salah satunya nggak masalah. Kalau anda berlatar belakang IT (SK) saja nggak yakin, bagaimana calon mahasiswa lain yang non-IT (ekonomi, hukum, dsb) ? CCNA juga sertifikat yang berguna, walaupun saya dengar sudah kebanyakan orang di Indonesia dengan sertifikasi CCNA, jadi sudah agak berkurang tingkat kegunaannya…

    Menurut saya lebih baik sertifikasi yang tidak menyangkut merk seperti CISA, CISM, atau CISSP (anda sebutnya CCSP).

    Reply

  82. Razor32
    May 05, 2009 @ 14:33:18

    Saya cuman mau sharing aja Pak Joko, meskipun saya bukan orang IT. Kenapa ya pak, begitu mahalnya kita harus mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja. Apa mungkin bangsa kita ini terlalu teoritis ya, sehingga harus nerusin sampai S2 demi mendapat pekerjaan. Padahal di Amrik sana, pencipta Microsoft dan Facebook aja tidak perlu susahharus S2 tapi bisa menghasilkan produk yang beromzet milyaran dollar.

    Mas Ahmad,
    Mau jawaban jujur ya mas ?

    Sebenarnya sekolah ini sekolah itu, sertifikat ini sertifikat itu, itu hanya “heboh” di Indonesia saja. Di negara lain mah tidak perlu sekolah S2 untuk memasuki dunia kerja, begitu juga tidak perlu sertifikat macam CISA untuk memasuki dunia kerja. Karena di negara lain mah, lowongan pekerjaan banyak sekali….kemana-mana kita jalan, di setiap toko selalu ditulisi “Help Wanted” sebagai tanda dibuka lowongan kerja…

    Konon, Indonesia itu banyak sekali orangnya tapi sedikit sekali lowongan kerjanya. Jaman Orde Baru dulu, untuk bisa menyerap semua lulusan sekolah, dipatok pertumbuhan ekonomi sebesar 7%. Artinya, kalau pertumbuhan ekonomi bisa 7% maka semua lulusan sekolah akan tertampung di dunia kerja. Tapi kalau kurang dari 7% berarti lulusan sekolah akan bersaing dengan penganggur tahun sebelumnya, atau orang-orang yang kena PHK..

    Makanya orang Indonesia dianjurkan untuk masuk S2 selepas S1, sebenarnya maksudnya hanya untuk memperpanjang “pipa pengangguran” sehingga mereka yang ngambil S2 tidak segera masuk dunia kerja. Jadi program S2 hanya sebagai “buffer sementara” saja…

    Itu yang saya amati, boleh percaya boleh tidak…

    Reply

  83. leo
    Sep 15, 2009 @ 00:15:28

    Tanya dong…

    Kalau lulus cuma pas-pasan D3

    Gimana kalo ditambah sertifikasi microsoft? Seperti MCSE atau MCSD?

    Apa jadi “Sexy” ga? ..He.he.he..

    Leo,
    Pasti itu jadi sexy dong, daripada cuman modal D3…menurut pendapat saya lho….

    Reply

  84. Angga
    Nov 13, 2009 @ 14:21:29

    Akhirnya saya nemu juga postingan Bapak mengenai kuliah s2..

    Maaf Pak saya minta saran Bapak..
    Saya sudah lulus s1 Binus peminatan IT IPK 3.05 dan saya berniat melanjutkan kuliah s2 di bidang bussiness…Saya berminat di International Business..Ada saran Pak universitas mana saja yang bisa dijadikan rujukan baik dalam maupun luar negeri?

    Angga,
    Saya nggak ada rujukan univ dalam negeri atau luar negeri untuk anda…

    Biasanya milih universitas itu instink aja sih…..jadi ikuti aja instink anda…

    Reply

  85. sarwojowo
    Apr 30, 2010 @ 16:55:49

    salam hebat pak

    ASLI WONG JOWO

    Reply

  86. nn
    May 22, 2010 @ 01:08:14

    Bagus bgt topiknya pak… Menambah pengetahuan! Saya jadi pinter sesaat! … (lho sesaat?? ha.ha.)
    Dulu saya mantan mahasiswi bapak, 04PKT AI, binusian 2010 yang bulan July ini diwisuda…
    Nah, bingung neh mw lanjut kemana… Untungnya ketemu blog bapak yang membahas topik ini, bener2 terjawab smua kebingungan yang melanda pikiran…

    back to the topic:

    Nah, bingung neh mw lanjut kemana…

    Rencana saya adalah bekerja dahulu (cari pengalaman maksudnya :p), tetapi orang tua ingin saya langsung mengambil S2 spy beasiswanya lancar (saya mendapat beasiswa dr perusahaan), dan abang saya menyimpulkan dan menganjurkan ambil sertifikasi + S2 + kerja … lama2 botak juga saya kalo diikutin smuanya hahaha :p… maklum S1 juga udah kerja keras bwt lulus seminimalnya (min. 3,5 thn, max. 7 thn) dengan IPK yg cukup bermodal bwt langsung cari kerja setelah lulus S1…

    Yang mau saya tanyakan:
    1. Kalo pun saya mengambil S2, saya berencana ingin mencoba mengambil (pilihan 1) IT kembali, tapi saya jadi ngeri melihat statement bapak yang tertulis seperti ini:
    “Kalau S2 Ilmu Komputer terlalu ngeri”
    Apakah benar se-ngeri itu pak???! Mohon diperjelas pak, agar nntinya gak habisin duit ortu (baca: lama lulus) hehehe…
    Kenapa ambil S2 IT? Menurut saya, lumayan bisa jadi dosen sebagai kerja sampingan :p …
    Pilihan ke-2: ambil management, kalo memang se-ngeri itu S2 Ilmu komputer/IT…
    2. Menurut bapak sertifikasi Oracle bagaimana? Karena saya juga berencana untuk mengambil sertifikasi Oracle dalam waktu dekat ini…
    3. Mimpi c pengen S2 k luar negri, tapi saya sayang ortu pak, ga tega liat mereka bela2in ngeluarin duit yang susah di dapet cuma bwt saya sekolah k luar negri, padahal adik juga masih ada bwt disekolahin… Masa saya tega adik ga sekolah, tapi saya sekolahnya tinggi… hehehe… :p
    Nah, bapak ada tips ga bwt dapet beasiswa dari luar negri? Apa benar pelajaran di luar negri itu lebih susah dari pada di dalam negri?
    4. Yang terakhir nih pak, klo mw ambil PhD, gambaran pelajarannya itu apa ya pak? Apakah hanya tentang bisnis? Saya buta bgt ttg PhD ini pak, mohon penjelasannya… Saya jd tertarik juga dengan topik PhD, saran saya: coba bapak bwt topik mengenai PhD ini, mungkin banyak orang tertarik, karena bnyk org yang masih buta dengan PhD… malah ada yang bilang sama saya klo PhD itu Dokter Gigi ato Psychology … haha…

    Di tunggu jawabannya pak dan terima kasih. :)

    Nina,
    Hahaha…tentu saya masih ingat anda dong, kan mahasiswa AI saya gak terlalu banyak, jadi masih bisa dihafalin….

    Ini jawaban saya atas pertanyaan2 anda :

    1. Saya sudah setahun ini ngajar S2 di Binus Anggrek. Ada 2 program yang ditawarkan di sana, yaitu 1) Magister Teknik Informasi (MTI) dan 2) Magister Manajemen Sistem Informasi (MMSI). Menurut saya MTI lebih sulit daripada MMSI, tapi mungkin ya tergantung persepsi orang sih…Mungkin MTI lebih cocok buat lulusan TI, dan MMSI mungkin lebih cocok buat lulusan SI atau KA..

    2. Sertifikasi Oracle bagus lho, apalagi kalau nantinya anda akan bekerja di perusahaan “ERP Implementor” (seperti SAP, dsb), tentu sertifikat Oracle anda akan banyak gunanya…

    3. Tips beasiswa ke luar negeri, kayaknya saya pernah membahasnya deh di salah satu posting saya. Tapi intinya, sekarang nih mencari beasiswa “full scholarship” untuk belajar ke luar negeri. Kecuali ke Singapore (lihat http://www.ntu.ac.sg). Tapi coba lihat juga tawaran belajar S2 ke Amerika (lihat http;//www.mum.edu). ATau ke Jerman (lihat http://www.daad.org kalau tidak salah)… Pelajaran S2 di luar negeri tidak mesti “lebih sulit” daripada ambil S2 di dalam negeri, tapi ngambil S2 di luar negeri mesti lebih “benar” daripada ngambil S2 di dalam negeri. Selain itu, pengalaman berbahasa asing selama tinggal di luar negeri tentu merupakan pengalaman yang paling berharga dari semuanya itu.

    4. Iya nanti saya tuliskan posting tentang “Mengejar Ph.D di Luar Negeri“. Intinya pelajaran Ph.D program sama dengan pelajaran Master program, tapi di program Ph.D topik disertasi yang kita ambil harus memberi kontribusi keilmuan yang signifikan….dan ini yang susah. Selain itu, program Ph.D juga bisa selesai dalam waktu yang lama, mungkin antara 3,5 tahun bagi yang paling “bright” sampai dengan 7-10 tahun bagi yang “biasa-biasa” aja…

    Reply

  87. Sally
    Apr 11, 2011 @ 08:46:06

    Dear bapak Tri, terima kasih atas informasi yang sangat berguna bagi saya. mohon bantuannya untuk berbagi pengalaman,
    saya sekarang mahasiswa semester 6 jurusan TI Binus penjurusan multimedia, tujuan saya ketika lulus adalah menjadi system auditor di perusahaan audit seperti PWC atau E&Y. GPA saya 3.81 dan TOEFL saya sekitar 580.
    saya sedang mempertimbangkan untuk mengambil ujian sertifikasi CISA awal januari 2011 ini, Menurut bapak, apakah itu perlu? apakah memungkin kan saya diterima jadi system auditor tanpa pengalaman audit dan sertifikasi apapun?
    lalu dari informasi bapak diatas, sertifikasi CISA hanya dapat diambil setelah lulus S1, apakah itu termasuk ujiannya juga ya pak? apakah boleh jika pada januari nanti (saya masih semester 7 dan menyusun skripsi) saya mengikuti ujian sertifikasinya terlebih dahulu baru setelah itu memenuhi syarat lain untuk mendapatkan sertifikatnya? ataukah harus menunggu ijasah keluar?

    terima kasih pak. :)

    Sally,
    Beda dengan sertifikasi CCNA, MSNE, dsb yang boleh diambil semasa mahasiswa, maka CISA (Certified Information Systems Auditor) dan CISM (Certified Information Security Manager) harus diambil setelah lulus S1 alias setelah ijazah S1 keluar !

    Sekarang CISA dan CISM diujikan 2 kali setahun seingat saya di bulan Juni dan Nopember. Tapi jadwal bisa dicek di http://www.isaca.org

    Kalau Sally berniat bekerja di “Big Four” (PwC, E&Y, KPMG, dan Deloitte) sebaiknya mulai sekarang baca-baca buku “CISA Preparation Review 2011″, kalau gak salah bukunya ada di Perpustakaan Binus, yang jelas di Perpus Binus JWC ada tapi kalau Perpus Binus Anggrek saya kurang begitu yakin…

    Oh ya, bisa dicek ke website http://www.eyi.com apakah mereka tetap membuka FYP Program (First Year Professional), kalau jaman anak saya dulu setiap hari Sabtu mereka mengadakan test untuk masuk program FYP. Tapi testnya cukup sulit lho, ada test logika seperti GRE (Graduate Record Examination – Quantitative Analysis and Qualitative Analysis), ada test bahasa Inggris yang 10 x lebih sulit dari TOEFL (seperti test GRE – Verbal), dan ada test Accounting yaitu membuat Balance Sheet jika diketahui beberapa data (kalau anda jurusan Teknik Informatika, kayaknya perlu kursus kilat Accounting dulu minimal bisa menyusun Balance Sheet). Saya diberitahu, yang lulus FYP ini biasanya : cewek, lulusan LN (atau Trisakti/Untar), pekerja keras, dan suka lembur sampai malam…

    Jadi Good Luck Sally, saya ikut berdoa semoga cita-cita Sally tercapai….

    Oh ya, jurusan Multimedia mau melamar ke E&Y saya kira ok, asalkan anda tahu Accounting dan IT Auditing (sayangnya di Binus tidak ada matkul ini ditawarkan di jurusan TI, ditawarkannya malah di KA, yang menurut saya mereka anak2 KA itu terlalu berat menerimanya). Oh ya, saya dulu pernah ngajar IT Audit selama 1 semester di Binus. Bukunya kalau nggak salah karangan Webber (orang Australia), judulnya “IT Audit and Control”. Tebal buku sekitar 1000 halaman, di Perpus Binus pasti ada, tapi saya juga punya copynya kok. Anda harus hapal CISA Preparation Review dan buku Webber ini kalau mau nembus FYP di E&Y….

    Reply

  88. Sally
    Apr 12, 2011 @ 12:45:48

    Wah.. Terima kasih ya pak atas info dan doanya.. Sangat membantu.
    Terima kasih banyak pak.. :)

    Reply

  89. Ery
    Jul 24, 2011 @ 16:16:52

    Lagi nyari-nyari info tentang CISA eh mampir disini,
    lumayan bagus juga nih pak informasi nya.
    Oiya pak, ada yang ingin saya tanyakan perihal CISA,
    saya sudah bekerja selama hampir 6 tahun sebagai IT Support di perusahaan swasta.
    saya berencana untuk mengambil Sertifikasi CISA ini.

    yang ingin saya tanyakan:
    1. saya kan belum ada pengalaman IT Audit pak, apakah worth it bagi saya untuk mengambil sertifikasi ini?, karena kalau saya bisa lulus tepat, masih butuh 5 tahun pengalaman di bidang IT audit untuk mendapatkan sertifikat ini

    2. apabila kita baru lulus CISA nya saja, dan belum mendapatkan sertifikat, apakah itu bisa kita jadikan referensi untu melamar pak?, *mungkin ada registered number seperti CISSP

    Maaf sebelumnya pak banyak nanya nya

    Terima Kasih pak :D

    Mas Ery,
    Nggak gitu juga deh….

    Yang penting anda bisa lulus ujian CISA, karena itu tahapan yang paling sulit. Saya saja pernah mengambil 1 kali dan belum lulus, walaupun saya pernah tinggal di Amerika selama 3 tahun 2 bulan. Jadi bahasa Inggrisnya lumayan sulit…. Tahapan terpenting, yaitu lulus ujian CISA nih yang harus Ery usahakan dulu…

    Setelah itu baru dipikirkan persyaratannya untuk mendapat gelar CISA. Teman2 saya yang telah berhasil lulus CISA, bisa langsung memasang namanya, disertai CISA* (CISA “bintang”) di belakangnya.

    Untuk melamar-lamar kerja, CISA* sudah cukup kok untuk melamar pekerjaan dimana-mana. Semua orang atau semua perusahaan juga sudah tahu kalau mendapat gelar CISA (tanpa bintang) itu hanya formalitas saja…

    Reply

  90. tommy anggara
    Oct 06, 2011 @ 21:35:27

    mas kalo mau ambil cisa bayarnya berapa? terus materi yang diujikan apa aja? lembaga yang ngeluarin sertifikat cisa apa namanya/ trs waktu yang dibutuhkan untuk dapat cisa berapa lama?
    sekalian nanya mas dengan pertanyaan yang sama, gimana kalau dengan cma sm cpma?

    butuh pencerahan segera mas, tugas dr dosen “super” nih.hhe

    Tommy,
    Baca di http://www.isaca.org/

    Ini jawaban atas pertanyaan anda :
    1. Ujian CISA bayarnya berapa ? Kalau tidak salah USD 520 (sekitar Rp 5 juta).
    2. Materi yang diujikan apa ?
    Tahun 2000-2005 : ujian CISA dibagi ke dalam 7 sub bahasan dengan presentase masing2 soal yaitu :
    1. The IS Audit Process (10%)
    2. Management, Planning and Organization of IS (11%)
    3. Technical Infrastructure and Operational Practices (13%)
    4. Protection of Information Assets (25%)
    5. Disaster Recovery and Business Continuity (10%)
    6. Business Application System Development, Acquisition, Implementation and Maintenance (16%)
    7. Business Process Evaluation and Risk Management (15%)

    Tetapi Tahun 2006 – sekarang ujian CISA dibagi ke dalam 6 sub bahasan sbb :
    1. The IS Audit Process (10%)
    2. IT Governance (15%)
    3. Systems and Infrastructure Life Cycle Management (16%)
    4. IT Service Delivery and Support (14%)
    5. Protection of Information Assets (31%)
    6. Business Continuity and Disaster Recovery (14%)

    3. Lembaga yang mengeluarkan CISA apa namanya ? Namanya ISACA (Information Systems Audit and Control Association) yang berkedudukan di Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

    4. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapat sertifikat CISA berapa lama ? Rata-rata perlu waktu 2 tahun, setelah yang bersangkutan lulus ujian CISA.

    5. Bagaimana kalau CMA dan CMPA ? Wah…kalau yang ini saya gak bisa jawab, soalnya saya aja baru denger sekarang ini. Googling aja sendiri…

    Reply

  91. Andhika
    Oct 18, 2011 @ 06:31:24

    Halo Pak Tri, sukses terus utk bapak dan blog nya ya. terasa ramai sekali disini. Thats Great!
    Saya mau menanyakan pendapat anda tentang situasi saya. Saya sedang bingung mau ambil s2 atau sertifikasi. Kebetulan saya lulus s1 tahun 2004 dengan IP 3.01 dari Trisakti, lalu sempat bekerja sebagai graphic designer selama 1 th, lalu saya banting stir mendirikan usaha sendiri sama teman2 saya di bidang jasa desain. Sampai sekarang, seiring berjalan waktu, bbrp tmn pun mulai meninggalkan usaha ini sampai akhirnya menyisakan saya dan teman saya. usaha tsb sempat meningkat menjadi PT yg punya pemasukan yg bagus. Sya bertindak sebagai direktur dan teman saya pelaksana dilapangan. Saya bergerak di bidang Kontraktor utk Sipil dan Interior. Tp, setelah kurang lebih 5 tahun melakukan hal ini. Saya sadar ternyata saya ga akan bisa maju dengan begini2 saja. Saya sangat menyesal karena harus perlu 5 tahun utk membuat saya menyadari ini. Umur saya saat ini 28 tahun. Saya pernah berniat utk bserhenti melakukan ini semua ketika umur saya 26 mau ke 27 tahun, tp malah dapat proyek lagi dan lagi. Tahun ini rasanya cukup buruk buat saya. Saya putuskan utk tidak melakukannya lagi dengan cara yang sama ( mengandalkan skill2 dasar dan tanpa sistem yang jelas ). Saya berencana ingin mengambil program MBA. Motivasi saya adalah, skill bisnis nya. Area yg menjadi passion saya masih di sekitar Properti. Saya ingin sekali kelak bisa menjadi developer, saya bangun sendiri dan saya jual, tentunya secara profesional bisnis. Jadi tidak lagi membangun rumah berdasarkan order saja. Untuk itu saya ingin sekali punya ilmu yang memadai untuk bidang property. Yang jelas bukan sekedar jualan ( agen ) properti yg sy bicarakan. Tp invesment dan bisnis nya. Utk itu saya juga melihat sebuah lembaga yg menyediakan program sertifikasi analis utk properti. Biayanya 25 jt utk program selama 2 bulan. Ini cukup mahal utk jumlah waktu segitu. Tp memang sy lihat bbrp orang2 yg sangat familiar di dunia properti yg ada di lembaga ini. Disisi lain, sy jg mempertimbangkan kuliah Mba. sederhana saja motivasi nya. Sya ingin belajar bisnisnya. Lalu motivasi berikutnya adalah, saya ingin sekali bisa menjajal sebuah perusahaan yg bergerak di bidang property consultant seperti Procon dan sejenisnya. Kebetulan latar belakang bbrp mereka yg disana adalah kombinasi dari dari s1 teknik arsitek dan Mba. Mirip spt yg sedang ingin saya lakukan. Tntunya terlalu naif bagi saya apabila mengharapkan bisa bekerja di perusahaan Consultan dengna latar belakang s1 desain. Maka itu saya berusaha miliki latar belakang akademik di bisnis dengn harapan bisa menjajal perusahaan property consulatan, tentunya dengna niatan belajar. Tp umur saya saat ini 28 tahun. Sering kali saya merasa ini semua sudah terlambat. Tp saya selalu berusaha mencegah diri saya larut dalam penyesalan agar tdk perlu mendapat rugi yg lebih besar.
    Pendapat anda dan yang lain akan sangat berarti bagi saya.
    Terimakasih ya

    Mas Andhika,
    Wah…ternyata yang diceritakan Mas Andhika di sini adalah “kecelakaan sejarah”….karena Mas Adhika yang berlatar belakang desain ternyata “jatuh” di bisnis property, interior desain dsb… Saya jadi ingat “kecelakaan sejarah” yang menimpa diri saya sendiri….sebagai seorang Insinyur Pertanian yang tahunya menanam kangkung sekarang menjadi pengajar dan konsultan bidang IT, Transportasi, dan Audit….

    Sebenarnya solusi buat masalah Mas Andhika cukup mudah kok. Hanya perlu secara jujur bertanya kepada diri sendiri : Apa yang anda kejar ? Apa passion anda ? Apa cita-cita anda ? Dan Mas Andhika sudah membeberkan semuanya. Maka sampailah pada saran saya berikut :

    1. Ambil MBA kelas eksekutif yang pertemuannya Sabtu-Minggu saja mengingat kesibukan anda. Dari cerita anda, kelihatannya bidang peminatan MBA yang anda harus ambil adalah Finance, karena anda ingin mengembangkan property tetapi juga memandang faktor-faktor nitty gritty seperti cash flow, dsb. Sementara sekolah Sabtu-Minggu, di hari-hari biasa anda tetap menjalankan bisnis apa adanya. Saran saya program MBA yang anda ambil bisa di luar negeri (Singapore Management University) atau Program MM di dalam negeri (IPPM di Menteng Raya, Prasetia Mulya di Pondok Indah, IPMI di Kalibata, dan UI Salemba).

    2. Ambil Master in Construction Management agar anda bisa lebih “mengoptimalkan” pekerjaan bangun membangun property. Seingat saya di Jakarta yang ada program ini hanya Untar. Cuman gak jelas programnya apakah Regular yang kuliahnya setiap hari, atau ada juga kelas Weekend. Kalau anda mendapat Master in Construction Management, menurut saya anda akan dapat mendukung core business anda dan bisa memetik keuntungan dengan mengatur pembangunan property (konon, tower Rasuna yang buatan Perancis bisa selesai dibangun dalam 1 bulan jika yang membangun orang Perancis, tetapi tower yang sama perlu waktu 2 tahun jika yang membangun orang Indonesia. Kenapa ? Kuncinya construction management)…

    3. Kalau ngambil program Master cukup menyulitkan waktunya buat anda, bisa diambil program Sertifikasi Analisis Property. Waktu singkat, tapi biaya mahal. Tentunya bisa worth it kalau anda yakin seyakin-yakinnya bahwa sertifikasi ini akan mendukung usaha anda, meluaskan jaringan pertemanan bisnis anda, dan cukup membanggakan untuk mempunyai sertifikasi tersebut.

    Mengenai bekerja di “Big Time Property Firm” seperti Procon, tentunya bukan masalah lagi jika anda mempunyai/melakukan 1, 2 atau 3 seperti yang saya sarankan. Karena saya kira-kira 12 tahun yang lalu banyak kenalan cewek-cewek trengginas (sekarang sudah ibu-ibu…hehe) yang bekerja di sana, dan kebanyakan berlatar belakang Master in Construction Management. Saya sempat tahu, karena dulu universitas swasta tempat saya bekerja ingin membuat program S1 Architecture dan juga S1 Construction Management…

    Mudah-mudahan saran yang simpel ini bisa berguna bagi Mas Andhika nantinya….

    Reply

  92. Kartini
    Jun 18, 2012 @ 21:06:44

    Pak Tri Djoko, Perkenalkan saya Kartini, Binus 2006 dulu saya pernah diajar Bapak waktu semester 3, Pelajaran Anapersis. Pak, bagaimana caranya supaya lulus CISA? Dulu saya pernah ikut ujian CISA, tapi gagal karena dulu di Big Four capek banget dan saya hanya punya sedikit waktu utk belajar. Otak saya susah menyerap bahan CISA, Pak.
    Karena skrg saya bekerja sbg IT Auditor di company biasa (bukan big four) dan itu bisa buat saya utk “jualan”. Thanks,

    Kartini,
    Iya…saya kayaknya masih ingat Kartini kok. Wah..sempat nembus Big Four ya…bagus dong…
    Caranya lulus CISA ya belajar terus dan ambil terus. Emang dulu gagalnya skornya berapa, 71, 72, 73 ?
    Kalau sudah dekat-dekat 75, ya pasti kalau ngambil lagi pasti bisa, walaupun bayarnya sekitar USD 520 (atau lebih ?) ya….

    Belajar lagi, dan ambil lagi Kartini. Kalau tahun depan, saya mau nemenin ambil CISA lagi. Tapi kalau tahun ini, ya Kartini dulu deh yang ngambil CISA.
    Nggak ada hard and fast rule kok buat lulus CISA, pokoknya ambil aja lagi. Kalau gagal, ya ambil lagi…

    Iya saya tahu, sebagai IT Auditor di perusahaan sekarang, tentu gelar CISA sangat penting untuk “jualan”. Kalau anda ada gelar CISA, nama andapun bisa dipinjam untuk mengaudit perusahaan ini dan itu.

    Reply

  93. Ahmad Rizki
    Aug 25, 2012 @ 23:26:23

    Permisi Pak, Saya kebetulan nemu blog Bapak wajtu iseng2 browsingan :)

    Ikut curhat boleh dong Pak??
    Setelah Saya baca2 komentar sebelum Saya, yang nyinggung2 IPK tidak sexy
    Saya jg jadi kesindir nih :)
    Saya baru lulus dari Teknik Sipil Unpar beberapa bulan kemarin, dan Saya juga tergolong yg lulusnya ngaret, sayangnya IPK Saya juga tidak seksi, cuma 2,56 saja Pak :)
    Sebetulnya Saya sudah tahu kalo saya itu gak cocok di jurusan saya, tp sudah kepalang ya Pak, Saya sudah kerja di Konsultan Sipil juga..
    Terus terang Saya kurang sreg sama kerjaan Saya skrng, mau pindah tp terbentuk IPK
    Sempet kepikiran sih mau ambil s2 di ITB, tp denger2 mau daftar s2 aja IPK nya minimal kudu 2,75 -___-, kalo toefl si ga ada masalah…
    Galau nih.. @_@

    Mas Ahmad,
    Wah…gak usah kesindir, IPK saya waktu lulus S1 juga sekitar-sekitar anda kok…hehe…jadi waktu itu saya juga gak ndaftar S2 di univ saya, tapi langsung ambil S2 di Amrik soalnya gak ada persyaratan IPK…hehehe…adanya persyaratan TOEFL dan GRE…

    Mmm…Teknik Sipil Unpar udah terkenal lho, dan believe it or not, saya dulu pengin jadi Ir Sipil tapi gak keterima di Sipil ITB dan Sipil UGM, masuknya malah sekolah nanam kangkung…hehehe…

    Jadi masuk S2 ITB saja, IPK anda segitu dengan pengalaman kerja 2 tahun tentu sudah cukup untuk mengetuk pintu S2 Sipil ITB. Kalau ITB gak mau nerima, bilang saya, nanti aku datangi Rektornya…hehehe…

    Reply

  94. Oktora
    Sep 13, 2012 @ 18:49:58

    Halo Pak Tri!
    Perkenalkan saya Oktora, lulusan SK Binus, telah bekerja sebagai IT Support selama 1 tahun, dan sedang berpikir untuk mengambil BINUS CISA Preparation Program.
    Mengacu kepada yang pernah Bapak ungkapkan, program tersebut kurang ‘worth it’ dan banyak yang gagal saat test, berapa persenkah kegagalan tersebut? Apakah sebaiknya saya mengambil preparation program di tempat lain saja? (saya sendiri belum mencari tahu tempat lainnya, dan “kebetulan” tahu karena mendapat info dari Binus)
    Apakah menurut Bapak dengan mengikuti program tersebut “saja” saya dapat lulus?

    Terima kasih sebelumnya ya Pak :)

    Oktora,
    Waduuuh…kalau anda lulusan SK, berarti di Infrastructure aja yang kuat, lainnya masih lemah. Jadi harus diperkuat masalah Control and AUdit Cycle, Planning and Organization of IT, Software Engineering, Business Continuity Planning/Disaster Recovery Planning, IT Security. Tapi sebelum itu, anda harus paham betul COBIT framework (boleh Cobit 4, 4.2 atau 5), dan pentingnya AUdit IT untuk para pihak…

    DUlu rasanya tidak ada satupun di kelas CISA preparation review yang lulus CISA, kebanyakan masih 5 point, 4 point, 2 point di bawah passing grade 75 persen dari soal ujian CISA. Menurut saya ya karena pengajar CISA Preparation Review yang bergelar CISA itu kurang pengalaman dalam mengajar, jadi stress point dimana itu yang sulit…

    Kalau bagi anda uang nggak terbatas, lihat aja iklan di KOMPAS atau koran lainnya. CISA Preparation Review yang judulnya “BOOT CAMP” di sebuah Hotel di Bogor atau di Puncak….itu jauh lebih berguna. Apalagi kalau bisa nemu pengajar handal seperti Phil Lieferman (saya lupa cara meng-eja namanya yang benar)….dia itu jago banget. Tapi biasanya dia minta 1 paket sekian juta untuk beberapa hari, yang ikut berapapun dia gak peduli…

    Atau mau belajar sama-sama dengan saya ? hahahaha….boleh juga, datang aja ke kampus dan nanti kita bicarakan detailnya…..Saya mau belajar bersama kalau anda bisa kumpulkan minimal 5 orang…

    Reply

  95. Wisnu
    Nov 07, 2012 @ 11:34:17

    Saya bukan sarjana komputer , saya lulusan ekonomi dan bekerja di bidang IT.. Tapi saya memiliki sertifikasi IT (CCNA, ITILv3).. Jadi kalo berdasarkan pengalaman saya, ga penting anda lulusan sarjana komputer atau bukan, tapi fakta di dunia kerja adalah sertifikasi yg anda miliki..

    Mas Wisnu,
    Benar mas…memang seperti itu, yang lebih penting adalah sertifikasi kita…bukan latar belakang pendidikan…

    Tapi to tell you the truth, sertifikasi penting hanya untuk bekerja sebagai konsultan atau profesional di bidang IT……tapi kalau melamar sebagai dosen di jaman sekarang ini, mengingat ketentuan di Dirjen Dikti, maka lebih dipentingkan orang yang latar pendidikan S1, S2 dan S3-nya “linear”….

    Reply

  96. Budi Setiawan,S Kom,CCNA
    Dec 07, 2012 @ 08:49:04

    Saya Lulusan Teknik IF dan memegan Sertivikasi Cisco CCNP Lev 1,saya berkerja di Bidang IT uda 2 tahun tpi,,Bakat saya Adalah di Merkteing..gimana Donk,Tapi sy Kalo melamar Kerja di marketing TDK Pernah di trima..hehehe
    munkin bukan rejeki kalee disana…..kira2 apa yg harus sy lakukan

    Budi,
    Ya gelar anda S.Kom dan dapat CCNA,…berarti kan harusnya anda kan kerjanya di IT Infrastructure, ngurusin jaringan…
    Kalau anda melamar ke Marketing, ya pasti tidak diterima. Karena background pendidikan anda dan sertifikasi anda tidak ada hubungannya dengan Marketing…kecuali anda sudah pernah berpengalaman sebagai orang Marketing sebelumnya, dan hal itu anda harus tulis di CV anda dengan jelas…

    Reply

  97. Armando Amar
    Dec 14, 2012 @ 11:18:36

    Selamat siang Pak,
    Saya salah satu mahasiswa S2 Bpk di Binus, silai ujian nya sudah keluar dan alhamdulillah bagus :D.
    Saya lihat dari tulisan ini bapak sangat menyarankan untuk mengambil sertifikasi dari ISACA. Apakah sertifikasi ini cocok untuk semua orang, Pak? Sebagai contoh nya saya sudah bekerja di perushaan swasta selama 4 tahun dengan background Programmer produk Microsoft (Visual Studio). Apakah saya bisa cocok dengan sertifikasi CISA ini. Bapak juga pernah menjelaskan dikelas tentang CISA dan kita ngebahas beberapa soal nya dan menurut saya itu memang test yang berat.
    Apakah ada lagi sertifikasi yang bagus dan bisa align dengan pangalaman dari pekerjaan saya agar ilmu yang sudah saya punya bisa diteruskan dengan tidak memulai lagi atau pindah jalur karena pasti akan memulainya dari awal lagi.
    Terimakasih sebelumnya Pak atas masukannya

    Mas Armando,
    Kalau jalurnya mas kerja di Microsoft dan membayangkan 5-10 tahun ke depan masih bekerja di Microsoft, ya sebaiknya ambil aja sertifikasi yang dikeluarkan oleh Microsoft misalnya MSNE (Microsoft Network Engineer) dan sebagainya, daripada CISA…
    Karena benar apa kata mas, kalau ambil sertifikasi CISA itu ibaratnya “pindah jalur”…
    Intinya, cari sertifikasi yang menjadi syarat pekerjaan anda sekarang dan nantinya…

    Reply

  98. Trackback: Sertifikasi Keahliah Khusus informatika « Catatan Urang Sunda
  99. rinaldi nugraha
    Mar 09, 2013 @ 09:19:20

    mas joko tlng infokan saya punya anak cua stu saat ini sdh di terima di IT ITHB bandung bisakah mengambil MSNE dan CCNA untuk menmbah ilmunya dan persiapan kedepannya , soalmya anaknya sangat kuat belajar

    Mas Rinaldi,
    Bisa mas, berbagai sertifikasi Microsoft seperti MCSE dst (dulu pernah bernaman MSNE) bisa diambil oleh putra mas yang saat ini kuliah di IT.
    Cuman saya tidak tahu, dimana letak tempat kursus dan sertifikasinya kalau di Bandung, apa di Elektro ITB ? Soalnya kalau di Yogya ada di UGM.

    Link yang bisa dibaca putranya ini mas : http://www.microsoft.com/learning/en/us/certification-overview.aspx

    Reply

  100. cahsh
    Mar 22, 2013 @ 13:31:02

    Pak tri saya, Yasin yusuf, saya lulusan IT di Blitar Jatim. saya di terima kerja di salah satu Fendor Telekomunikasi yang di tempatkan di PT Telkomsel Jakarta di sini saya mendapat tugas buat developing program. tapi saya tidak begitu suka dengan programing, dan saya ingin merubah jurusan IT ku ke Networking, dan saya Ingin kursus Cisco, sebagai sarana untuk kabur dari pemrograman hehe.
    Yang saya tanyakan :
    1. Apakah Jenjang karir di Cisco itu menjanjikan.?
    2. Dimanakah saya bisa kursus cisco sampai mahir?
    3. Apakah bisa kursus di dalam negeri dengan certikasi Internasional bisa bekerja di luar Negeri?

    Cahsh,
    Karena anda bekerja di Jakarta, anda bisa ngambil kursus CISCO antara lain di Binus Center Jalan K.H. Syahdan, Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah.

    Ini jawaban untuk pertanyaan anda ya :
    1. Apakah Jenjang karir di Cisco itu menjanjikan.?
    Jawab : Menurut saya iya…atau jenjang karir di Microsoft….ambil aja sertifikasi Cisco atau Microsoft

    2. Dimanakah saya bisa kursus cisco sampai mahir?
    Jawab : Di Binus Center, ada yang di Jalan KH Syahdan, Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah, ada juga yang di Jalan Kyai Tapa dekatnya Trisakti

    3. Apakah bisa kursus di dalam negeri dengan certikasi Internasional bisa bekerja di luar Negeri?
    Jawab : Mestinya bisa….asal anda dapat sertifikasinya di tempat yang bonafid….seperti Binus Center kalau di Jakarta dan luar negeri seperti Malaysia atau Singapore, itu sudah dikenal bonafid..

    Reply

  101. Fian
    Apr 03, 2013 @ 00:49:34

    Saya ingin menanyakan, anda mengenal seorang bernama Hanafi Ali Jan atau biasa menggunakan nama Hanjian? Menurutnya di tahun 2010 dia mmprolh beasiswa mengambil CEH di California selama 2 atau 3 bulan.
    Sebagai informasi, dia ini, katanya lulusan Universitas Pelita Harapan tahun 2010. Sekarang ini dia berdomisili di Manado, Sulawesi Utara. Terima kasih atas informasinya!

    Reply

  102. iwan
    Apr 06, 2013 @ 19:51:11

    pak ,, saya kan lg studi di pendidikan teknik informatika dan komputer ,, sesuai keputusan mentri TIK di hapuskan untuk kurikulum dari sd sampai sma kecuali smk,, apakah seorang lulusan spd dapat mendaftar di perusaahan atau saya harus melanjutkan s2 ??,, sedangkan sampai smstr 5 ini ipk saya tdk bgtu sexy hanya 2,8.. saya mohon saran bapak?? terima kasih

    Iwan,
    Kalau IPK anda tidak begitu sexy di S1-nya….ya mending begitu lulus kerja dulu dan cari duwit yang banyak….nanti-nanti saja bisa melanjutkan ke S2..

    Reply

  103. Anton
    Apr 22, 2013 @ 21:56:52

    bapak tri yang saya hormati , saya dahulu perna sekelas sama bapak ketika sp KBP , bapak orang nya unik cara ngajarnya saya suka sekali cara pengajaran bapak.

    Pak begini saya semester ini sudah ke 8 dan nanti sudah isi KRS untuk skripsi
    kalau Tuhan memberi rizki saya mungkin selesai kuliahnya di binus tahun 2014

    Saya baca statement bapak yang ini

    “jika saya sekarang ini baru lulus dengan IPK di bawah 2.75 (2.00-2.74), maka saya akan memutuskan untuk mengambil S2 baik di bidang Teknik Informatika, Ilmu Komputer atau Sistem Informasi seperti yang ada di UI ataupun ITB. ”

    pak saya skarang IPK stay di 2,2 mungkin bisa naik ke 2,3 ato 2,4 kalo lulus krs ini.
    apakah benar pak ada universitas yang menerima S2 di IPK kisaran 2,2 tersebut.
    kemarin saya ada survey di beberapa website univ s2 menimalkan persyaratan nya 2,75 pak.

    Mohon pencerahannya pak saya sedang dalam kebingungan memilih universitas untuk s2 nanti, kalo masalah biaya keluarga saya sanggup namun kendala nya hanya di IPK saya yang kecil , sebenarnya saya tergolong anak rajin cuma programming yang membuat IPK saya terjun bebas , mata kuliah selain programming yang seperti teori dasar saya nilainya bagus.

    Maaf pak saya gk sopan bertanya panjang lebar seperti ini , tetapi saya benar” butuh pencerahan dari bapak tri :(
    Kalau ada salah kata mohon maaf pak .

    Anton,
    Mungkin Program S2 Binus yaitu program MMSI (Magister Manajemen Sistem Informasi) dan MTI (Magister Teknik Informatika) gak mensyaratkan IPK > 2.75 lho. Coba aja menghubungi langsung S2 Binus di kampus ANggrek lantai 8. Tapi mungkin setelah anda lulus S1, anda harus bekerja dulu untuk membuktikan bahwa anda cukup “pintar” untuk diterima bekerja…

    Reply

  104. DinaR
    Jun 11, 2013 @ 16:19:30

    Dear Pak Tri,

    saya ingin bertanya seputar CISA, untuk materi ujiannya apakah ada soal kodingnya?

    Mohon pencerahannya Pak, saya adalah lulusan IT Binus. Saat ini saya sudah bekerja di perusahaan IT, tapi saya punya minat yang besar di akuntansi dan ekonomi, menurut bapak sertifikasi apa yang dapat saya ambil? atau ada tempat kursus yang bisa bapak rekomendasikan?

    Terima atas perhatiannya Pak.

    DinaR,
    Ya pilihannya CISA (Certified Information System Auditor) atau CIA (Certified Internal Auditor) Din…
    Dulu di Binus JWC ada “Preparation Course” buat kedua sertifikasi itu, yaitu “CISA Preparation Course” dan “CIA Preparation Course”. Untuk “CISA Preparation Course” di tahun 2008 bayarnya Rp 5,5 juta, tapi sebagai Binusian saya didiskon 15% jadi hanya bayar Rp 4,85 juta.
    Coba Dina bisa nanya lagi JWC sekarang ini.
    Bisa juga belajar sendiri, bahan-bahan CISA lebih banyak. Googling aja, masukkan keyword “CISA Review Manual 2010 PDF”…waktu itu saya dapat kok bahannya (tapi yang 2011 dan 2012 belum dapat…hehe)…

    Reply

  105. DinaR
    Jun 13, 2013 @ 14:46:42

    Terima kasih Pak Tri untuk responnya :)

    Reply

  106. sumarjono
    Jul 31, 2013 @ 05:41:10

    Pak Tri,
    Saya sekarang kerja di sebuah lembaga law enforcement. Background saya ekonomi (s1) & finance (s2) dan sebelumnya juga pernah kerja di perusahaan / business. Setelah saya mengalami banyak experiences ternyata saya menemukan pola kerja bidang IT & System – Finance – Audit – Hukum – Compliance bisa dikatakan memiliki karakter bidang yang mirip dan cenderung kaku / rigid.
    Saya pikir bila memiliki background dan experiences ini memiliki value added.

    “Jadi kebutuhan akan belajar terbangun karena peningkatan experiences dalam tuntutan pekerjaan yang harus berfikir kreatif dan berkesinambungan / terus-menerus”.

    Menurut saya gelar profesi maupun sekolah formal (s1, s2, s3) tetap perlu dan hal ini sangat tergantung pada apakah institusinya tersebut menghargai atau tidak. Ini hanya sebagai tools saja dalam pencapaian karir bisa berhasil dan bisa juga tidak.

    BTW Rekan-2 saya juga banyak yg bergelar CFE, CIA tapi tetap harus banyak belajar yang bukan bidang-nya ( knowledge enrichment).

    Trm ksh.

    Mas Sumarjono,
    Memang pak…knowledge kita akan terbangun dengan sendirinya sesuai tuntutan kantor maupun tuntutan pekerjaan. Bisa formal knowledge berupa sekolah, ataupun dari pengalaman atau pekerjaan. Saya sendiri pendidikan statistika dari fakultas pertanian, tetapi jadi dosen komputer, dan sebagai konsultan justru saya bidangnya transportasi. Tertarik dengan IT Audit, dan pernah mendapat pelatihan di bidang R&D Policy…
    Jadi memang sering terjadi “kecelakaan pengetahuan” seperti itu mas…

    Reply

    • sumarjono
      Aug 03, 2013 @ 06:24:23

      Betul mas Tri, yang menjadi esensi penting adalah bukan gelar-nya. Tapi pada kemampuan / pemikiran yang sanggup mengintegrasikan & mengimplementasikan antara formal knowledge atau sertifikasi dengan pekerjaan atau pengalaman yang dilakukan / pernah dialami, sehingga kemampuan orang tersebut akan selalu bertumbuh.

      Hal ini tergantung dengan “kreativitas” si individu tadi.

      Reply

  107. Purwo Diyono (@Purwodiyono)
    Aug 31, 2013 @ 23:12:39

    kalo bagi mahasiswa yang baru lulus seperti saya, yang kuliahnya 7 tahun gimana baiknya pak? ambil sertifikasi atau kuliah s-2? IPK-saya 3.1…
    terima kasih sebelumnya…

    Mas Purwo,
    Ya terserah anda mau ambil S2 atau sertifikasi, tapi mengingat ngambil S1 saja perlu 7 tahun, kayaknya S2 sekarang-sekarang ini jangan dulu deh, karena mesin anda masih “panas”…hehehe…
    Ambil sertifikasi aja dulu…

    Reply

  108. miibanner
    Sep 18, 2013 @ 12:23:46

    Pak saya program fastrack di PTS di bandung..
    s1 IPK sekitar 3,3 an dan s2 di Sistem Informasi..
    menurut bapak sertifikasi naikin salary apa sajah,
    sama didalam manajemen , saya rencana mau masuk ke manajerial sebuah perusahaan dan
    usaha sampingan jadi independen consultant..
    sehabis bergelar M.Kom apakah saya lsg ambil M.M mungkin saya akan ambil di UNPAR .. gmn kualifikasi di UNPAR? umur lulus s2 M.Kom mungkin sekitar 22an mumpung masih muda,, minta sarannya thanks

    Mii,
    Lho…kalau sudah dapat M.Kom ngapain ambil M.M lagi, kan sama S2 nya ?
    Kalau mau, ambil S3 di Unpad atau Unpar saja…
    Kualifikasi Unpar, setahu saya bagus semua, karena Unpar universitas yang sudah lama ada…
    Berapa ngaruh sertifikasi ke salary, tergantung ke perusahaannya. Kalau di Big Four sih sertifikasi ngaruh banget ke salary, dan juga income (bedakan antara income dan salary atau take home pay)..

    Reply

  109. miibanner
    Sep 19, 2013 @ 12:40:29

    Terima kasih banyak pak, sudah diluangkan waktunya untuk di jawab.
    Kendalanya soal biaya pak klo s3 gk sanggup, klo ambil M.M masih bisa saya kerja cicil 1,5tahunan..trus pemikiran saya PTS sy kurang terkenal akreditasinya sih B (Manajemen Informatika) dan s2 nya masih baru terakreditasi C.. mungkin kalau saya kuliah M.M bisa nambah link dan peluang , Menurut Bapak kalau saya ambil dual s2 di mata Company gmn?
    Jujur saya merasa insecure soalnya Fresh Graduate di Bandung, salarnya
    kecil bgt pak sama kyk UMP jakarta, jd merasa tidak aman.. Terima kasih banyak. pak tri :)

    Mill,
    Jujur juga ya saya ngejawabnya….kalau saya ini calon employer anda dan anda sebagai calon employee melamar ke perusahaan saya….saya memang lihat anda punya 2 gelar S2, M.Kom dan M.M….tapi saya tidak akan memandangnya sebagai 2 gelar, tapi yang penting bagi saya ya hanya 1 gelar S2 anda saja, yang relevan dengan pekerjaan anda. Jika perusahaan ini software development company atau SAP Implementor, maka gelar M.Kom akan berguna, tetapi bila perusahaan ini perusahaan trading atau manufakturing, mungkin perlu diperkuat pemasarannya, maka gelar MM anda akan lebih berguna…begitu cara berpikirnya..

    Masalah salary bagi fresh graduate…itu kan termasuk hal-hal yang di luar kendali anda, jadi kalau gajinya hanya kecil, ya memang kemampuan perusahaan kita baru segitu…kalau anda mau gaji yang lebih besar, ya anda harus kerja di Singapore atau Australia mungkin…

    Oh ya, kalau saya ini employer, saya akan lebih menghargai anda hanya gelar S1 tetapi mempunyai sertifikasi CISA atau CISM, daripada anda S1 dan punya 2 gelar S2….ini juga jawaban saya yang jujur. Jadi daripada ngambil S3 biayanya mahal dan lama waktu lulusnya, lebih baik anda nyiapin sertifikasi, dengan USD 520 anda kalau lulus ujian CISA, maka lebih mudah nyari kerja daripada gelar S1 dengan 2 gelar S2…

    Ini pendapat pribadi saya yang jujur ya…

    Reply

  110. miibanner
    Sep 20, 2013 @ 14:49:25

    Terima kasih pak tri atas penjelasanya yang begitu detail..
    Saya setelah thesis lsg akan ambil sertifikasinya ..
    kalau sudah ambil CISA / CISM lowongan pekerjaanya
    ke arah mana ya pak? system analyst / IT auditor..
    saya scrool ke atas belum tau tujuan lokernya..
    Sekali lagi terima kasih banyak pak mau disempatkan
    dijawab, banyak membuka pencerahan saya ketika hendak lulus :)

    Reply

  111. Earlyn
    Sep 26, 2013 @ 12:38:09

    salam hangat pak..
    saya sedang kuliah petroleum engineering, hehehe emang sih agak nggak nyambung sama postigan bapak tentang IT dll.saya rencananya mau lanjut bachelor lagi tapi oil and gas management, maksdnya biar teknik dan management tentang perminyakan saya punya..
    menurt bapak bagaimna? atau saya ambil s2 petroleum saja dibandingkan saya ulang s1 seputar major yang sama? trims

    Earlyn,
    Kalau S1 anda Petroleum Engineering (ITB, Trisakti, atau UPN Yogya ?), sebaiknya jangan ngambil S1 tentang Oil and Gas Management, buat apa S1 dobel-dobel gitu..
    Sebaiknya Earlyn ngambil aja Master of Science in Petroleum Engineering, kalau bisa di University of Colorado at Golden (disebut “Colorado School of Mines”, nanti satu sekolahan dengan Pak Purnowo Yusgiantoro). Atau minimal di University of Texas at Austin (temen saya, Dr. Untung Sumotarto, lulusan sini).
    Kalau bisa, setelah lulus Master, Earlyn ngambil Ph.D in Petroleum Engineering….pasti Earlyn bisa….mumpung masih muda…

    Reply

  112. Zai
    Oct 08, 2013 @ 09:50:12

    kalau S1 IT sebaiknya ambil S2 jur apa ya?

    Zai,
    Terserah….anda maunya jadi apa ?
    Point saya di tulisan tersebut, ngambil S2 itu kurang berguna, dibandingkan dengan ngambil sertifikasi seperti CISA.

    Reply

  113. adi
    Oct 09, 2013 @ 08:28:57

    Pak. saya lulusan Teknik IF S1 dan sudah bekerja di bank 4 thn sebagai MIS (Management Information System).
    Saya pernah ambil course SAS Base, SAS EG, SAS Miner, dan beberapa course SQL Server..

    Bisa minta rekomendasi sertifikasi apa yah pak yg sesuai dg background saya..? trims..

    Mas Adi,
    Berarti anda mengambil beberapa course yang tidak berujung ke sertifikasi ? Oh my….
    Anda sebaiknya tetap ngambil sertifikasi CISA, minimalnya. Karena beberapa course yang telah anda ambil tersebut, menurut saya terlalu mendasar dan tidak punya “leverage” (daya ungkit) yang tinggi terhadap karier anda. Buktinya anda masih bertanya di sini, ya nggak ? A simple proof…:)

    Reply

  114. Febrinurandy Ramadhani
    Oct 22, 2013 @ 00:41:00

    Setelah baca postingan anda, saya jd ingin bertanya sepertinya bapak memiliki banyak pengalaman dan wawasan yg luas dalam dunia IT, saat ini saya kuliah semester 3 jurusan sistem informasi binus, yg saya mau tanyakan untuk peminatan di sistem informasi itu ada 5, erp, oracle, business intelligence, e-business, dan sis, dr kelima peminatan tsb yg saat ini dan 3 thn ke depan msh di butuhkan dalam dunia kerja itu yg mana ya? Yg prospeknya bagus

    Saya berminat mengambil pilihan antara erp dan business intelligence, untuk kedua peminatan tsb bgmna ya pak prospek ke depannya? Mohon pencerahannya :D

    Febri,
    Saya tidak pernah ngajar di SI, tapi sebagai konsultan (IT Auditor) saya banyak berkaitan dengan SI, makanya saya walaupun tidak mengajar di program MMSI (S2 Binus) tapi saya banyak membimbing mahasiswa MMSI.

    Pandangan saya : ERP itu bentuk paling luas dan paling umum, jadi sebaiknya peminatan ini yang diambil. Oracle, itu terlalu terkait ke merk, baik merk Database maupun merk ERP, padahal kalau database masih banyak digunakan MySQl (karena murah, dan datanya masih sedikit), terus sebagai merk ERP, masih banyak lagi ada SAP, Infis, dsb, sampai ke ERP yang Open Source. Kalau Business Intelligence, itu sebenarnya hanya “top up” dari ERP, jadi kasus BI masih sedikit yang makai, kalau ERP hampir semuanya.Kalau e-Business, yang dimaksud apa sih ? Menurut saya e-Business itu ya sudah bisa dipelajari sendiri, kecuali berpraktek dari membuat coding-an web-nya terus membuat Business Plan-nya, dsb sampai praktek, dipinjami duwit, disuruh menjalankan perusahaan, kalau cuman omongan aja ya susah. Terakhir mengenai SIS, apa maksudnya itu, membuat Sistem Informasi ya atau Sisfo ? Kayaknya juga kurang “mengginggit”, pilihan paling bagus sampai terburuk adalah : ERP, BI, Oracle, e-Business, dan SIS.

    Itu pandangan saya, Febri bisa memilih sendiri….

    Reply

  115. Reza Antono
    Dec 31, 2013 @ 17:58:55

    Pak, saya lulusan s1 IT, lebih baik saya ambil sertifikasi SAP atau CISA ya pak? kebetulan saya baru tes psikologi dan hasilnya saya cocok di pekerjaan spt auditor, akuntan, analis anggaran, aktuaris, programmer, database admin, dokter gigi. Langkah apa yg harus saya ambil? Terima kasih..

    Reza,
    Sayang anda tidak informasikan saat ini anda sudah bekerja atau belum.
    Soalnya kalau anda belum bekerja, mengambil SAP akan banyak gunanya dibanding CISA, karena perusahaan yang memerlukan SAP-knowledgable graduate lebih banyak daripada yang memerlupa CISA-knowledgable graduate…

    Dan rutenya mestinya, setelah anda nanti berpengalaman dalam 2-3 siklus SAP maka anda akan jadi implementor yang jago, mungkin akan jadi Quality Assurance bagi SAP Implementation. Nah kalau sudah seperti itu, baru anda memerlukan CISA certificate…

    Kecuali, kalau dari awal anda ingin masuk ke Big Four Companies (Pricewaterhouse Coopers, Ernst & Young, KPMG, atau Deloitte), maka dalam hal ini anda lebih memerlukan CISA certificate untuk mengetuk pintu mereka…

    Reply

  116. faisal
    Jan 23, 2014 @ 14:06:37

    Dear Pak Tri,
    Salam kenal Pak. Blog Bapak menarik dan informatif. Dan membuat saya tambah banyak informasi untuk memutuskan langkah saya ke depannya.
    Melalui blog bapak, saya ingin bertanya beberapa hal.

    Menurut Bpk, lebih baik mengambil sertifikasi CISA atau S2 bagi orang yang sudah mempunyai pengalaman kerja?

    Sebagai informasi, saya sudah 9 tahun bekerja dan akhir2 ini merasa stuck, alias begitu2 saja. Bidang pekerjaan saya bukan main background keilmuan saya (Tapi masih nyrempet2 dikit karena saya kerja di telco), sehingga terkadang saya merasa ingin kembali bekerja di dunia yg lebih ke IT. Di akhir kuliah S1 dahulu jurusan yang saya ambil lebih ke arah pelajaran2, such as, datamining dan security. Dan saya sangat menyukai ilmu2 itu, lebih2 saat mengerjakan tugas akhir yang memadukan security dan datamining.

    Seandainya saya ingin mengambil S2 di binus, sebaiknya yang Magister Teknik IF atau yang Magister System IF? Apakah di MTIF juga diajarkan manajemen?Karena pengalaman saya saat ini lebih ke teknikal area, dan saya butuh untuk menambah softskill/manajerial.

    Kemudian, jika saya mengambil S2 Online, apakah kualitas resultnya bisa sama dengan yang mengambil S2 reguler. Resut disini bukan sekedar nilai/ijazah, tetapi juga softskill yang didapat termasuk relasi dan hubungan dengan dosen.

    Hope with your valuable experiences you have, you can give me a wise answer.

    Terimakasih.

    Ical,
    Kalau melihat pengalaman kerja anda 9 tahun setelah memperoleh S1, menurut saya anda sebaiknya mengambil sertifikasi CISA dulu, dengan pertimbangan biaya lebih murah dan waktu lebih cepat. Kalau anda belajar rajin, pasti anda bisa lulus CISA dalam waktu, say 3-6 bulan.

    Tapi dari cerita anda kayaknya anda lebih berniat mendalami softskill termasuk di bidang manajemen. Kalau anda mau ngambil S2 di Binus, sebaiknya mengambil MMSI karena ada teknikalnya tapi ada juga manajemennya. Kalau anda mengambil MTI, hampir semuanya teknikal dan nyaris sedikit sekali ilmu manajemennya.

    Kalau anda mau mengambil S2 MTI atau MMSI Online, itu biayanya mahal juga lho, hampir sama dengan kalau anda ngambil program MTI atau MMSI reguler. Dan hasilnya, jujur menurut saya, sangat tergantung kepada teman-teman seangkatan anda apakah mereka mahasiswa yang bermotivasi tinggi atau sekedar mendapatkan gelar S2 saja.Kalau kebetulan anda mendapat kelas yang sangat aktif yang berarti teman2 anda sangat aktif, saya lihat sendiri akan banyak manfaatnya bagi anda dengan memperoleh teman-teman baru. Celakanya kalau teman-teman anda sekelas pasif semua,tentunya ilmu yang anda dapat juga agak sedikit…

    Reply

  117. Tritium
    Mar 07, 2014 @ 10:44:25

    assalamualaikum,hallo pak tri,perkenalkan saya lulusan fkip fisika univ.riau.saya tertarik sama diskusi disini dan saya tertarik untuk mlanjutkan ke s2 komputer.nyimpang banget to dengan basic saya sekarang,mnta saran n pencerahannya jikalau berkenan,dan temen2 yang lain klu ada saran atau komentarnya

    Tritium,
    Disarankan siapa saja, sesuai dengan perundang-perundangan dari Kemendikbud/Dirjen Dikti, agar latar belakang pendidikannya “linier”. Jadi kalau anda S1 FKIP Fisika, disarankan S2 tetap FKIP Fisika. Kalau anda melanjutkan S2 Komputer, berarti anda tidak akan bekerja di lingkungan pemerintahan atau di PTN/PTS, tetapi di luar itu.

    Begitu logikanya…

    Reply

  118. redysegalanya
    Jun 09, 2014 @ 10:10:28

    Reblogged this on redysegalanya and commented:
    waduh pak jangan nakut2in dong. ipk saya sempe sekarang baru 2.4 (semester 4) sebenernya masih ada 2 tahun usaha. kalo ambil jeleknya bingung saya kalo ga nyampe 2.75 . kalo boleh jujur disini pengen dapet A itu susahnya minta ampun. rata2 nilai saya BBBBB kalo ada matakuliah yg susah kalo ga C yaa D . tapi pasti saya perbaiki jika dapet D . tadi bapak menyinggung soal Sertifikasi itu gunanya apa? apa kita mengerjakan 200 soal dengan biaya jutaan dan jika lulus saya mendapat sertifikasi nya gitu? dan tadi di bilang itu memudahkan untuk kerja? emang gunanya sertifikasi itu apa pak ?

    thanks…

    Reply

  119. firman pradana
    Jul 01, 2014 @ 16:01:20

    Siang pak, salam kenal saya lihat bapak punya pengetahuan banyak tentang Dunia IT. Saya minta arahan bapak, saat ini saya pengalaman kerja sudah 7
    tahun lebih dengan spesifikasi berbeda :

    3 Tahun programming di 2 perusahaan IT Konsultan berbeda, tools yang saya pake adalah (Magic developer, Vs Foxpro, Vb. Net)

    4 Tahun di datawarehouse dan bussiness intelegence, tool (Sql Server, Oracle Data Warehouse , IBM Cognos) di 2 perusahaan Perbankan berbeda.

    Saat ini di saat usia saya mau 30 an, saya berniat melanjutkan S2 dengan harapan bisa menaikan salary dengan melamar di IT level management dengan gelar S2 saya atau menambah penghasilan tambahan dengan menjadi dosen Sampingan. (Dosen Kuliah Malam atau weekend).

    Beberapa Posisi yang saya minati untuk top level management adalah :

    – IT Mis and datawarehouse Head
    – IT Risk Managemement Head
    – IT MIS finance Head
    – IT Head lainnya

    Dari berbagai Jenis S2 manakah yang cocok dengan background dan sesuai keinginan saya (Bisa manager IT atau dosen). Saat ini saya mulai melirik beberapa universitas Swasta (Yang negeri tidak masuk hitungan karena mahal dan takut susah tesis)

    1. Magister Teknologi Informasi, Binus.
    2. Magister Sistem Informasi , Binus
    3. Magister Ilmu Komputer, Budi Luhur
    4. Magister Management, konsentrasi sistem informasi, Budi Luhur
    5. Magister Management, Konsentrasi sistem informasi, Perbanas

    Berikut kelebihan dan kelemahan masing2 program

    1. Binus,
    + universitas swasta yang jurusan IT nya bagus reputasinya di mata perusahaan
    – Kuliah tidak ada yang weekend, adanya online tapi apa kualitas yang online itu bisa bagus ketimbang reguler ?
    Q : Kalo dari mti dan Mmsi, kira2 lebih cocok yang mana dengan keinginan dan background saya ?

    2. Budi luhur,
    + Kuliah bisa weekend, sabtu saja
    + Biayanya paling murah di antara lain
    – Di banding binus nama universitas ini di bawahnya, apakah berpengaruh ?
    Q : mana yang lebih bagus apa magister ilmu komputer atau Magister manajemen peminatan sistem informasi ?

    3. Perbanas,
    + Bagus buat mencari relasi dan networking, khususnya perbankan karena terakhir saya kerja di bidang ini ?
    + kuliah bisa weekend
    – Kualitas Magister management dengan konsentrasi sistem informasi saya kira masih di bawah dua univ di atas.
    – Paling mahal

    Dari ke tiga itu kira2 mana yang lebih cocok ? Apakah untuk dosen itu harus linear dengan S1 nya ? Saya S.kom apakah

    S.kom -> M.TI liner ?
    S.KOM -> Mmsi Linear ?
    S.Kom -> MM peminatan Sistem informasi linear ?

    Terima kasih , atas masukannya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 308 other followers

%d bloggers like this: